6 JURUS MEMULAI USAHA DARI FUTRI ZULYA



Siapakah Futri Zulya atau lengkapnya  Futri Zulya, S.Mn, M.Bus ini?

Sebelumnya saya juga kurang mengenal Ibu Futri ini,  beruntung saya mendapat undangan acara #ZWomanTalk dari Komunitas Indonesian Social Blogpreneur (ISB) hari Kamis lalu.  Lewat acara ini saya diperkenalkan pada sosok Ibu Futri secara komprehensif, seorang perempuan yang menyandang status sebagai isteri, ibu, sekaligus pemilik beberapa usaha yang bernaung di bawah PT Batin Medika Indonesia.

Sebetulnya dunia bisnis (walau masih kecil-kecilan) nggak asing buat saya.  Beberapa tahun lalu, saya sempat memiliki bisnis rumahan retail baju muslim.  Tapi nggak bertahan lama karena saya yang kurang tekun dan cepat bosan *ngaku dosa*.  Sekarang, kalau melihat teman-teman yang seangkatan ketika memulai bisnis sudah menuai buah ketekunan mereka, diam-diam menyesal juga.

Tapi kalau dipikir-pikir, selain kurang tekun pada saat saya memulai usaha dulu itu, saya juga kurang ilmu.  Nah, di acara talkshow ini, Ibu Futri memaparkan jurus-jurus memulai bisnis dari A sampai Z, lengkap, dan mencerahkan banget.  Saya jadi sadar, bisa jadi pangkal kegagalan bisnis saya dulu itu adalah tidak memahani enam langkah yang harus dilakukan pada saat akan memulai usaha.


Teh Ani Berta, founder ISB mendampingi Ibu Futri Zulya yang menjadi pembicara di acara #ZWomanTalk

Apa saja enam langkah untuk memulai usaha yang dipaparkan oleh Ibu Futri, silakan disimak pemaparan berikut ini:


1. PASSION

Penting banget mengenali passion atau bidang yang menjadi minat kita, supaya kita tidak terjebak memulai usaha karena ikut-ikutan.  Usaha yang bakal sukses itu tentu saja yang kita kuasai betul bidangnya, bukan hanya karena semata-mata  sedang ngetren.  Begitu yang disampaikan Ibu Futri.  Kalau dipikir-pikir ya betul juga, jangan hanya karena cilok pedes berlevel lagi digemari, kita terus ikutan bikin usaha sejenis.  Padahal menciptakan rasa pedas yang enak sekaligus aman di perut itu perlu ilmu juga, kalau nggak pakai ilmu salah-salah kamu  cuma bikin mules orang doang,  kalau sudah begitu mana ada yang repeat order kan.

Selain passion, membuat usaha itu bisa juga datang dari kebutuhan yang tidak terpenuhi.  Ibu Futri berbagi pengalamannya ketika beliau susah menemukan sekolah untuk anak-anak yang sesuai dengan kriterianya, dari situ timbul ide mendirikan Kids Republic School, sekolah untuk tingkat preschool dan taman kanak-kanak.  Awal berdiri muridnya hanya beberapa orang saja, itu juga dari lingkungan saudara sendiri, sekarang muridnya sudah mencapai 300 orang.  Wow!


2.  YOU CAN'T DO ALL

Butuh support system.  Yeah, Mom, walaupun kepanjangan MOM masa kini itu katanya Master of Multitasking, tetap aja Mom, kita punya keterbatasan karena tangan kan cuma dua. Jadi jangan malu mengakui kalau kita ingin serius berbisnis, butuh bantuan dan dukungan dari pihak lain.  Dukungan moril dari suami sudah pasti bakal membuat tenang kan.  Bantuan dari asisten rumah tangga juga penting, supaya urusan rumah tangga termasuk menjaga anak-anak nggak bikin konsentrasi terpecah pada saat kita butuh fokus mengurus usaha kita.  Tentu saja set-up support system ini butuh kecermatan supaya nggak menimbulkan masalah di tengah jalan.

Tetapkan prioritas.  Karena kita memiliki keterbatasan, tentukan perencanaan usaha yang sesuai dengan keterbatasan kita.  Ibu Futri menegaskan bahwa memiliki usaha yang fast grow itu baik, tapi harus sustainable juga di masa mendatang.  Artinya, usaha yang baik itu pesat perkembangannya tapi terurus sehingga  berkelanjutan, begitu kira-kira.


3. BUSINESS PLANNING AND RESEARCH

Nah ini! Kadang-kadang kita kalau mau memulai usaha itu, kalau kata orang Sunda mah "saprungna", maksudnya ya mulai-mulai aja tanpa ada perencanaan yang matang.  Contohnya, saya... ^-^ jangan ditiru ya start up model begini.  Mengapa  business plan atau perencanaan usaha itu penting? Seperti yang sudah disebutkan di atas,  supaya usaha kita terukur sesuai dengan kemampuan dan keterbatasan kita. Lagi pula kalau business plan-nya jelas memudahkan kita untuk mengurusnya.  Yang terakhir, dengan business plan yang rapi kita siap untuk menjaring investor.




Maksimalkan penggunaan internet untuk melakukan riset.  Dengan riset yang maksimal kita jadi tahu tren pasar, mencari supplier atau vendor yang bisa mendukung usaha, menentukan harga jual, dan yang paling penting kita mendapatkan SWOT analysis untuk mengetahui keunggulan produk, titik lemah bisnis kita, kesempatan-kesempatan apa yang bisa kita dapat dan ambil,  juga ancaman apa yang bisa terjadi terhadap usaha kita sehingga  bisa diambil langkah untuk mengantisipasinya.


"Menjalankan usaha itu seperti belajar naik sepeda, kalau jatuh ya bangkit lagi, terus saja begitu sampai lancar."

4. EXECUTE

Lakukan!  Setelah langkah-langkah yang di atas terpenuhi, yang terakhir apalagi kalau bukan menjalankan usaha itu.  Apalah artinya business plan setebal novel Harry Potter tapi usahanya nggak dijalankan alias mandeg.  Usaha itu harus terpampang  nyata, bukan hanya impian semata... *look who's talking*  😅

Penuturan Ibu Futri mencerahkan dan menumbuhkan lagi secercah harapan untuk  memulai lagi usaha.  Apalagi menghadapi kebutuhan-kebutuhan jaman sekarang yang bikin dompet merintih, butuh kecerdikan untuk mensiasati kebutuhan-kebutuhan itu dengan  menambah penghasilan.  Tapi, usia ideal memulai dan mengembangkan usaha itu adanya di range 20 - 40 tahun, lha terus saya yang sudah mencapai usia forty something ini tak pantas untuk memulali usaha?  Ya, tinggal dialihkan saja  keinginan yang menggebu ini pada anak muda yang berminat memulai usaha, misalnya anak, keponakan,  siapa lah yang bisa dipercaya.   Ini sih menurut pendapat  saya aja, tapi make sense  kan?


Apa yang perlu diperhatikan setelah usaha berjalan?


5. Innovation & Follow Market Trend

Selain memperhatikan passion, ibu dua orang anak ini juga menyarankan untuk membaca tren yang sedang ramai menjadi perhatian orang.  Bisa jadi kecakapannya membaca kebutuhan wanita yang ingin selalu tampil cantik, sehingga mendorong tren perawatan kecantikan dengan skincare yang harganya terjangkau, mendasari ide bisnisnya di bidang kecantikan dengan mendirikan Z Beauty.

Inovasi itu penting.  Dengan inovasi yang kita ciptakan itulah produk usaha kita menjadi unik dan memiliki perbedaan dengan produk usaha sejenis.   Seperti yang dilakukan Ibu Futri di usaha kecantikan ini, inovasi yang diberikan oleh Z Beauty adalah pelayanan perawatan tubuh yang datang ke rumah. Nah, Moms yang kelelahan itu pada umumnya suka mager, jadi malas ke salon, Z Beauty menawarkan service di rumah, enak-e... apa saya buka cabang aja gitu ya di Serang ^-^.  

Tidak berhenti di situ,  perempuan yang mengawali bisnisnya di bidang pemasaran alat-alat masak ini, terus berinovasi dengan mengembangkan pelayanan perawatan kecantikan di klinik dengan peralatan mutakhir, yaitu Z Glow.  Sebagai pengembangan usaha dari kedua bisnis ini, sekaligus untuk mendapatkan tenaga-tenaga  terapi kecantikan yang berkualitas, Ibu Futri mendirikan Z Beauty Academy.  Sangat inspiratif, Bu Futri... saya salut dan kagum padamu.


6. Pemisahan Budgeting Rumah Tangga & Bisnis

Di awal,  perempuan berusia 33 tahun ini sudah menegaskan, untuk memiliki usaha yang sehat, kondisi keuangan kita otomatis harus sehat dulu.  Alasan paling logis adalah supaya uang nggak tarik-tarikan ke sana ke sini. Modal usaha dan keuntungan bisa-bisa habis, kesedot urusan rumah tangga juga.

Bagaimana  cara  menghindarinya? Pisahkan rekening keuangan rumah tangga dengan rekening keuangan usaha.  Kunci keuangan yang sehat adalah cermat dalam mengelola pendapatan.  Contoh pengelolaan pendapatan ideal versi Ibu Futri bisa dilihat pada bagan berikut ini:
Pengembangan Diri Karyawan

Ada satu sesi yang membuat saya terpana.  Sesi kesaksian dari salah seorang karyawan Ibu Futri yang bernama Ibu Titi.  Beliau membagi pengalamannya selama bekerja di perusahaan Ibu Futri.  Ibu Titi ini salah seorang beauty therapist.  Dari yang tadinya seorang yang bisa dibilang tidak punya keahlian, sekarang  beliau sudah menjadi leader. Secara periodik  dia bersama terapis-terapis yang lainnya mengadakan pertemuan di kantor, untuk mendiskusikan kendala-kendala yang terjadi di lapangan dan mencari solusinya. Kegiatan ini tentu saja mengasah keterampilan leadershipnya.   
Bahkan dengan nada bangga Ibu Titi berkata kalau sekarang dia sedang belajar menggunakan laptop.  

Dengan demikian, terbukti perhatian Ibu Futri terhadap karyawan-karyawannya tidak terbatas hanya pada produktivitas saja, tetapi juga pengembangan diri mereka untuk meningkatkan keterampilan dan keahlian yang menunjang pekerjaan.  Dari segi kesejahteraan  pun Ibu Titi mengakui mendapat peningkatan.  Sekarang para terapis yang bergerak di lapangan sudah mampu untuk membeli rumah dan kendaraan.  Inspirasi  tingkat lanjut, nih, Bu.  Bravo!

Ibu Titi sedang memberikan testimoni betapa beruntungnya beliau setelah menjadi karyawannya Ibu Futri ini.  Semoga makin berkah ya, Bu Titi.

Quality Time Untuk Keluarga

Jangan ditanya deh sesibuk apa perempuan yang memiliki beberapa usaha ini,  walau demikian Ibu Futri selalu meluangkan waktu yang berkualitas untuk kedua anaknya.  Menurut pengakuan pemilik label fashion muslimah Illiyyunaabaya ini, jika sudah pulang kantor dirinya didedikasikan sepenuhnya untuk anak-anaknya. Setiap week-end sudah menjadi jadwal tetap  untuk mengajak anak-anak jalan-jalan.  Nggak perlu jauh-jauh, yang penting ada waktu bersama-sama dengan anak-anak, begitu katanya.

Dalam urusan pendidikan, Ibu Futri punya cara sendiri untuk memantau kemajuan anak-anaknya.  Beliau menyediakan buku agenda yang harus diisi oleh guru-guru les anak-anaknya, sebagai laporan kemajuan belajar mereka. Nah, sesibuk apapun Buibu, tetapi pengawasan kegiatan anak-anak jangan sampai kendor  ya, Bu.  Strategi Ibu Futri ini bisa ditiru untuk para working Mom juga.

Lengkap sudah cerita saya tentang memulai usaha versi Ibu Futri Zulya, gimana? Tercerahkan juga kah?  Timbul minat untuk memulia usaha juga? Kalau saya sih yes,  malah dari kemarin sudah mulai ngobrol ke  anak yang pengen merintis usaha kuliner sesuai passionnya.  Iya siapa tahu kan kalau tekun, peruntungan juga mengikuti.  Aamiin.



Love,



9 komentar

  1. Waaaah... sangat menginspirasi sekali. Terkadang untuk memulai usaha, kita juga butuh dukungan dari orang lain ya mom :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, pemaparan beliau terasa realistis nggak ngawang-ngawang gitu, like it.

      Hapus
  2. Masalah terbesar dalam bekarir itu memang waktu yang berkualitas untuk keluarga, khususnya anak. Tidak jarang sih, kalau sudah free mereka lebih fokus pada waktu bersama utuk anak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. PR besar ya, memang harus sengaja disediakan jangan disempatkan :)

      Hapus
  3. Aduh... sangat menginspirasi sekali, sukses selalu ya mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... harapan yang sama untukmu juga ya

      Hapus
  4. Wah, contoh wanita karir yang sukses menjadi ibu rumah tangga juga ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. kuncinya piawai time management kali ya

      Hapus
  5. Seneng bacanya jadi termotivasi mbk

    BalasHapus