5 MANFAAT MEWARNAI YANG BISA BIKIN HIDUPMU LEBIH CERIA



Suatu hari saya nonton serial televisi S.W.A.T -- u yeah, saya memang penggemar film pria-pria berseragam dan bersenjata dengan aksi heroiknya membasmi kebatilan 😍 -- di mana salah satu adegannya bikin saya termenung.

Adegan itu menggambarkan percakapan Deacon, member pasukan SWAT, yang memberikan nasihat kepada sipir penjara yang sedang ketakutan dan stres, karena terpaksa membunuh seorang narapidana.  Saat itu kondisi penjara chaos, narapidana-narapidana berontak dan berhasil menguasai penjara.  Nasihat Deacon itu kok ngena juga buat saya.

"When I first got this job, somebody told me that I'm gonna see some rough things and I'm gonna have to do some rough things.  Every cop needs a chair.  It's whatever you to use to decompress."

Setiap orang pasti bakal menghadapi "rough things"-nya sendiri-sendiri. Bahkan seorang ibu rumah tangga pun pasti punya rough things yang harus dihadapi dan diatasinya.  Jadi, saya pikir setiap orang, yes, setiap orang butuh "kursi" itu, termasuk saya.  Kenapa? 

Sebab ketika berbagai kesulitan dalam pekerjaan dan dalam hidup (kok dalem, sih) sudah memenuhi ruangan dalam otak, saya pikir berbahaya kalau terus-terusan ada di dalam ruangan itu.  Saya butuh keluar sebentar dan duduk di kursi yang nyaman, untuk mengurangi atau bahkan melenyapkan tekanan yang ada. Saat kantong tekanan sudah kosong, saya akan siap lagi untuk kembali ke ruangan semula.  Jadi anggap aja, kursi itu dibutuhkan untuk menjaga kewarasan, supaya larinya nggak jadi depresi.  

Bagaimana dengan kamu?

Saya percaya kursi tiap orang bakal berbeda satu sama lain.  Dulu, kursi saya adalah buku.  Seiring bertambahnya usia, membaca malah jadi sumber stres baru, karena kesal baca kok yaaa... nggak tamat-tamat.  Ya, gimana mau cepat selesai, baru selembar dua lembar mata udah berat.  

Selanjutnya kursi saya adalah drama Korea dan variety shownya.  Setelah mengalami tekanan dan kelelahan, index kebahagiaan saya bakal naik lagi setelah bertemu Oppa-oppa ganteng nan kelimis di drama-drama favorit.  Tapi, seperti penyakit perkawinan yang datangnya setiap lima tahun, sekarang saya mulai dilanda bosan.  Dari yang tadinya seminggu full, semua judul ditonton tanpa jeda, sekarang hanya satu dua aja yang paling menarik plotnya.

Sampai kemudian radar perhatian saya menangkap ada fenomena yang menyenangkan di media sosial.  Banyak teman yang "memamerkan" karya art-nya lewat media sosial.  Jadi, teman-teman saya itu punya hobi dadakan mewarnai, tapi bagus-bagus banget hasilnya.  Tahun kemarin memang sedang happening buku mewarnai untuk usia dewasa.  Yang paling saya ingat judulnya "Secret Garden".  

Kok ada sih yang menerbitkan buku mewarnai untuk dewasa?

Sebagian orang mengatakan bahwa kegiatan mewarnai itu termasuk bagian dari art theraphy.  Tetapi ada juga yang membantahnya, karena art theraphy 'kan butuh kerja dua orang, yang diterapi dan juru terapinya.  Ya sudahlah ya nggak usah jadi bahan war baru deh masalah ini.  Yang pasti, peneliti-peneliti dari John Hopkins University dan bahkan Editor dari sebuah jurnal yoga terkenal di Amerika, menyatakan bahwa mewarnai adalah alternatif lain dari kegiatan meditasi, seperti yang dilansir oleh media online CNN.com.

Setelah searching sana-sini ke berbagai sumber, saya ambil lima manfaat praktis yang bisa diraih untuk membuat hidup menjadi lebih ceria lewat kegiatan mewarnai.  Nggak percaya? silakan disimak penjelasan berikut ini:

1. Menurunkan level stres

Alasannya? Mewarnai ini menenangkan amygdala.  Jadi amygdala ini bagian dari otak yang berhubungan dengan respons terhadap rasa takut atau stres.  Dengan menstimulasi bagian otak ini untuk tetap tenang, maka perasaan takut atau stres itu nggak bakal terpicu.  Begitulah kira-kira cara kerjanya.

2. Menurunkan level kecemasan

Bukankah stres itu pemicu segala perasaan-perasaan cemas? Kalau lagi stres, bawaannya kan: duh kalau begini gimana... kalau begitu gimana... kalau ini kalau itu... terus aja jadi pikiran.  Iya, kan?
Balik lagi ke point 1, kalau stres-nya sudah teratasi otomatis kecemasan-kecemasan juga hilang.

3. Melatih otak untuk fokus

Saat mewarnai perhatian tertuju pada objek yang akan kita beri warna.  Otak tidak menerima perintah untuk melakukan hal lain dan memikirkan hal-hal di luar keinginan kita untuk memberi warna pada objek itu.  Kegiatan mewarnai ini juga melibatkan dua fungsi otak yang harus saling berkomunikasi, yaitu logika dan kreativitas.  Momen ini yang akan melatih otak kita untuk fokus mengorganisasi dan mencari solusi, ketika kita sedang menghadapi satu masalah.

4. Bahagia menjadi diri sendiri

Buku mewarnai adalah priviledge untuk diri sendiri.  Bebas.  Jangan pedulikan pendapat orang lain soal teknik mewarnai atau pilihan warna yang kamu terapkan.  Apalagi mikirin pendapat kritikus seni.  Itu terlalu jauh.  Mewarnai itu untuk mencari kesenangan, bukan mendatangkan stres dalam bentuk yang lebih artistik.


Ini contoh freedom creativity dan stress relief ala Ina Inong.  Kapan lagi punya karakter Kesatria yang fashionable, ketika Negara Api menyerang baju zirah tetap ada sentuhan pink-nya dong.

5. Bahan dekorasi gratis

Jaman sekarang DIY-DIY untuk dekorasi rumah itu betapa semaraknya, ya kan?  Tapi nggak semua orang punya punya modal dan ketabahan untuk melakukannya (baca: termasuk saya).  Nah, buku mewarnai adalah solusi paling praktis.  Tinggal sobek lembarannya, beri pigura, voila! kamu sudah punya hiasan dinding.  Kalau kamu terlalu malu untuk mengakui karyamu sendiri pada tamu-tamu yang datang ke rumahmu, bilang aja itu karya anak bungsu atau anak sulung saat berumur tujuh tahun. LOL.

Melihat manfaat-manfaatnya, kegiatan mewarnai ini memang cocok  dijadikan kursi baru.  Saya jadi tertarik juga mencoba kursi baru ini.

Speak of the devil, minggu lalu saya dapat kiriman paket lengkap untuk mewarnai, wohooow senangnya.  Ibarat pepatah, pucuk dicinta ulam pun tiba.

Kemasannya model gift box, jadi kalau ada yang ulang tahun atau apa gitu terus pengen ngasih kado, ini cocok banget nih.  Isi paketnya lengkap, ada buku mewarnainya, ada connector pen yang terdiri dari 20 warna, juga ada buku kecil petunjuk teknik arsiran.  


Isi box Faber-Castell Colour to Life

Buku kecil ini, bisa meningkatkan level kekerenan saya di depan ilustrator naskah cerita untuk anak-anak yang saya tulis.  Sekarang saya bisa request seperti ini, "Nanti colouring-nya pakai teknik contouring, ya."  Dijamin ilustrator saya pasti kaget, soalnya pengetahuan teknik arsiran saya selama ini kan cuma sebatas ngarsir alis aja. 

Tapi, ya, nggak tahu juga sebetulnya ada berapa teknik arsiran yang ada di dunia ini, di buku ada lima teknik arsiran yang dicontohkan.  Lumayan lah buat variasi.




Bentuk connector pen-nya seperti spidol dengan ujung lancip.  Mudah sekali diaplikasikan, semudah mengaplikasikan spidol eyeliner.  Dijamin mewarnai pun mulus tanpa khawatir keluar garis.  Tapi ini mungkin perasaan saya aja ya, saat menggunakan connector pen itu berasanya kok nggak sama.  Ada yang terasa keras, ada yang empuk gitu dipakai mengarsirnya.  Contohnya connector warna kuning neon (stabilo) itu keras, sedangkan yang merah empuk. Apakah memang berbeda fungsinya, saya kurang paham.  Secara keseluruhan peralatan ini mengasyikan, gara-gara keasyikan mewarnai saya jadi lupa masak lho. 

Tapi ada lagi yang lebih asyik dari seri Colour to Life ini, yaitu Faber-Castell mengembangkan aplikasi untuk penggunaan di ponsel dengan menerapkan teknologi Augmented Reality (AR).  Udah pada tahu dong kalau teknologi AR ini dipakai untuk aplikasi-aplikasi game 3D, sehingga games tampak seperti nyata.  Aplikasi ini sudah bisa diunduh dengan mudah di Google Play Store dan Apple Store.



Dengan menggunakan aplikasi tersebut, setelah mewarnai pengguna bisa memindai gambar hanya dengan ponsel saja.  Pengalaman pertama lumayan butuh konsentrasi juga untuk memindai gambar.  Tapi, percayalah selanjutnya ketika feeling kamu udah ikut main buat mengambil jarak yang pas, segalanya akan menjadi mudah.  








Setelah proses scan berhasil, karakter pada gambar akan berubah menjadi karakter 3D (life based character), selanjutnya pengguna bisa memainkan karakter yang dipilih untuk bermain game, atau berinteraksi langsung.  Asli lho, itu karakternya bisa digerakkan sesuai keinginan.  Lucu banget, jadi kayak punya mainan baru.  

Dan! bagi penggemar selfie, ini kabar baik untuk kamu.  Karakter-karakter lucu itu bisa diajak selfie juga.  Gaya selfie kamu bakal lain daripada yang lain dong.  Ada lima karakter yang bisa jadi teman selfie kamu. Duh, boleh dong berharap, Faber-Castell bakal ngeluarin karakter kartun K-POP stars buat next series.




Sebetulnya produk ini didedikasikan untuk anak-anak.  Aplikasi Colour to Life ini diyakini bisa meningkatkan koordinasi otak dan tangan, meningkatkan level konsentrasi pada anak, menstimulasi respons, menyeimbangkan otak kiri dan kanan, melatih dan meningkatkan kecepatan berpikir anak-anak.  Sayangnya, Keyaan belum tertarik nih sama peralatan ini.  Dia kurang telaten memindai, maunya terima beres aja main game-nya.  

Tapi kalau diperhatikan, manfaatnya seiring dengan manfaat-manfaat mewarnai yang saya paparkan di atas, jadi orang dewasa juga boleh dong ikutan pakai produk ini 😁.  Sementara Keyaan belum tertarik pakai, Mamanya dulu deh daripada mubazir.

Di mana kalau pengen beli produk ini?

Beberapa hari yang lalu, saya ke toko buku, mau beli keperluan sekolah si Bungsu.  Di rak peralatan gambar saya lihat kotak yang familiar.  Eh, rupanya produk ini sudah tersedia juga di kota kecil seperti tempat tinggal saya sekarang ini, apalagi  di kota besar terjamin pasti tersedia  di toko-toko buku besar, semacam Gramedia.  Tapi, kalau lagi mager, coba cek di Tokopedia, di sana juga tersedia.  Di toko buku yang saya datangi itu, produk ini dibandrol dengan harga 114K rupiah. Worth it lah ya...




Tapi model connector pen gitu kan cepat habis.  Kalau udah habis terus dibuang? Duh sayang, ya... Jangan khawatir, Buibu, produk ini mendukung gerakan hemat anti mubazir.  Biarpun sudah habis tintanya, tapi connector pen bisa beralih fungsi menjadi mainan bongkar pasang.  Anak-anak pasti suka, lihat deh contoh di bawah ini.






Well, demikianlah cerita saya dalam rangka "finding new chair", eh, tertambatnya di colouring.  Nah, buat yang lagi bosan dengan kursi lamanya, atau barangkali ada yang sama sekali belum menemukan kursinya, coba deh mewarnai.  Selain mengasyikan, menyehatkan jiwa juga.  



Love,



Tidak ada komentar