KAIN-KAIN CANTIK DARI KAKI PEGUNUNGAN KENDENG



Jika kamu mengunjungi pameran kerajinan lokal, produk apa yang paling menarik perhatianmu?  Kalau saya kain-kain khas Nusantara, terutama kain tenun.  Bisa jadi saya ketularan Mamih.  Sejak kecil saya terbiasa dengan pemandangan tumpukan kain batik di lemari Mamih.  Kain batik tulis yang sebagian besar adalah batik tulis khas Jawa Barat.  Hmmm... rasanya saya masih ingat aroma khas yang menguar dari tumpukan kain batik itu.  Mamih mengikuti kebiasaan turun-temurun dari ibu dan nenek-neneknya, yes, perempuan Sunda jaman dulu punya kebiasaan menyelipkan bunga melati, mawar, tanjung atau kenanga di balik tumpukan kain-kain mereka.  Pengharum alami.


Kain ulos tentu saja Mamih punya, walau berdarah Sunda tetapi karena menikah dengan pria Batak, Mamih mendapat hadiah ulos dari Ompung. Mamih juga mengoleksi kain-kain lain seperti berbagai jenis songket, kain Bugis, kain Sumba, tenun Bali dan lain-lain. Kain-kain itu dibeli sendiri saat berkunjung ke daerah yang bersangkutan, tapi kebanyakan sih dari oleh-oleh ^_^.  

Dan ketika saya mendapat kesempatan berkunjung ke event pameran Telkomcraft Indonesia di Jakarta Convention Center yang berlangsung tanggal 22 - 25 Maret 2018 lalu, minat saya seperti mendapat ruang.  Begitu masuk ke area lobby, mata saya langsung dimanjakan pemandangan indah berupa jejeran kain-kain cantik dari berbagai daerah di Indonesia.

sumber foto : koleksi pribadi

Oh, segera saya menelusuri booth-booth kain tenun di sana. Menikmati paduan warnanya, merasakan teksturnya, menghirup aromanya, sambil bertanya-tanya dalam hati cerita apa yang mengikuti setiap helai kain ini.  Sampai kemudian langkah saya terhenti di depan satu booth.  Saya tertegun melihat satu sosok lelaki yang mengenakan setelan khas berupa baju dan celana komprang berwarna hitam, lengkap dengan ikat kepala berwarna biru terang dan tidak memakai alas kaki.  Ah, Urang Kanekes...


Bagi masyarakat di luar wilayah Banten, mugkin kurang familiar dengan sebutan Urang Kanekes atau orang Kanekes, tapi kalau mendengar kata Baduy pasti langsung tahu.  Yap, suku Baduy adalah sebutan lain untuk Urang Kanekes, masyarakat adat yang hidup berkelompok di wilayah Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, tepatnya di kaki Gunung Kendeng.

Mereka terbagi menjadi tiga kelompok masyarakat, yaitu Tangtu atau lebih dikenal sebagai suku Baduy Dalam, kelompok ini yang masih memegang teguh adat, yang kedua adalah Panamping atau suku Baduy Luar, mereka tinggal di luar wilayah Baduy Dalam.  Kehidupan sehari-hari mereka sudah dipengaruhi oleh kehidupan moderen termasuk teknologi. Contohnya, mereka mulai memakai pakaian yang umum dikenakan masyarakat sehari-hari, ketika bepergian juga sudah menggunakan alat transportasi tidak lagi berjalan kaki. Kelompok ketiga adalah Dangka, orang-orang yang tinggal di luar kedua wilayah baik Baduy Dalam maupun Baduy Luar.  

Istilah "Baduy" datang dari peneliti-peneliti Belanda yang melihat cara hidup mereka yang nomaden dan cara berpakaian mereka yang menggunakan kain hitam-hitam mirip suku Badawi di Arab, sejak saat itu sebutan Baduy menjadi lebih populer.

Ciri khas masyarakat Baduy Dalam selalu mengenakan pakaian hitam-hitam atau hitam-putih dan ikat kepala putih, sedangkan ciri khas masyarakat Baduy Luar memakai baju biru gelap (kehitaman) dengan ikat kepala batik khas Baduy. (sumber foto: koleksi pribadi)

Mengapa ketika melihat sosok Urang Kanekes di booth pameran itu saya merasa seperti melihat saudara jauh?  Jawabannya, karena saya sudah menghabiskan separuh umur di tanah Banten. Sudah menjadi pemandangan sehari-hari melihat Urang Kanekes ini berjalan beriringan di tengah udara panas kota Serang yang menyengat tanpa alas kaki, sambil menyandang koja berisi botol-botol madu.

Masyarakat Kanekes hidup dengan mengandalkan alam.  Untuk memenuhi kebutuhan pangan, mereka bercocok tanam, menangkap hewan liar, dan menangkap ikan di sungai. Mereka juga membuat barang-barang untuk menunjang kegiatan sehari-hari, mulai dari sandang, peralatan rumah tangga, peralatan berkebun dan lain-lain.  Dengan demikian, masyarakat Kanekes atau Baduy ini bisa dibilang adalah pengrajin alami.

Ketika melihat-lihat ke dalam booth bertajuk Baduy Craft, saya mengalami wow moment melihat bentangan kain-kain tenun dengan warna dan corak yang cantik.  Waaah... saya merasa kudet alias kurang update, setahu saya kain tenun khas Baduy itu hanya berwarna putih, hitam dan biru gelap.  Tapi sekarang, woaaah... kok keren-keren banget.  

sumber foto : koleksi pribadi

BADUY CRAFT

Perkenalan saya dengan Narman Nasinah, pemilik Baduy Craft, membawa saya pada kisah panjang tentang kain tenun khas Baduy ini.  Tetapi kondisi saat pameran tidak memungkinkan Narman mengobrol lama karena kesibukannya melayani pengunjung booth. Ternyata banyak juga pengunjung yang tertarik pada kerajinan-kerajinan khas Baduy, terutama kain tenun dan aksesoris berupa gelang dari rotan dan anyaman benang. Keren.

Dalam obrolan lanjutan via telepon, pemuda berusia 26 tahun ini menceritakan kisah jatuh bangunnya selama menekuni usaha kerajinan khas Baduy yang sudah dijalaninya selama 4 tahun.  Walau Baduy sudah menjadi destinasi wisata dan banyak juga wisatawan dari dalam dan luar negeri yang berkunjung, tetap saja Narman merasa kesulitan ketika menawarkan produknya.


Produk kerajinan Baduy ternyata banyak diminati. (sumber foto : koleksi pribadi)

Pada tahun 2016 sejarah tertulis di tanah Baduy. Desa Ciboleger (masih kawasan Baduy) menjadi tujuan akhir program Kampung UKM Digital yang diprakarsai oleh PT Telkom Indonesia.  Dengan demikian Desa Ciboleger menjadi Kampung UKM Digital ke-300 (terakhir).

Berkat program ini, usaha Narman pun menemukan titik terang.  Pada bulan November tahun 2016, Narman mengukuhkan usahanya di bawah bendera Baduy Craft. Narman mulai belajar menggunakan media sosial dan membuat website untuk memasarkan produknya.  Promosi produk dengan memanfaatkan teknologi digital berdampak besar pada usahanya. Produk-produknya terutama kain tenun banyak dilirik peminat dari dalam maupun luar negeri.

Pantas saja, ketika saya menelusuri berita soal kain tenun Baduy, saya menemukan artikel tentang seorang perancang busana bernama Amanda Indah Lestari yang membawa kain tenun Baduy ke kancah mode internasional.  Tahun lalu, Amanda membawa busana rancangannya yang menggunakan kain tenun Baduy ke acara London Fashion Week dan Paris Fashion Week.  Wow!

Bisa jadi hal ini yang membuka wawasan peminat asing terhadap kain tenun khas Indonesia dan berdampak pada permintaan yang cukup tinggi terhadap kain tenun Baduy.  Seperti yang diakui Narman dengan nada malu-malu, dia yang dulunya hanyalah seorang pengrajin kecil sekarang menjadi Top Seller di Instagram.  Hebat.  

Jalan lain yang dirasakan manfaatnya oleh Narman dalam membangun usahanya adalah menjadi UKM binaan Telkom.  Dia mengakui banyak manfaat yang didapat setelah bergabung menjadi binaan Telkom selama setahun belakangan ini, di antaranya pengarahan dalam mengembangkan suatu produk, manajemen atau cara mengelola sebuah usaha dan tentu saja promosi.  Pemuda yang tidak pernah mengenyam bangku sekolah formal ini, sangat merasakan keuntungan dari kesempatan mengikuti pameran-pameran yang disponsori oleh PT Telkom Indonesia, produknya menjadi semakin dikenal oleh masyarakat.

Yang disampaikan Narman ini sejalan dengan yang disampaikan oleh Bapak Aulia Ersyah Marinto, CEO BLANJA.com, di acara talkshow ketika pameran berlangsung. Beliau menjelaskan bahwa PT Telkom Indonesia memiliki komitmen untuk membantu pemasaran produk-produk UKM Asli Indonesia yang berada di bawah binaannya melalui marketplace BLANJA.com.  Ukm-ukm binaan ini wajib membuat toko online di BLANJA.com, tidak hanya sampai di situ, mereka juga wajib mengurus toko oline-nya dengan baik. Seperti halnya toko offline yang punya etalase, mereka harus rajin mengupdate foto-foto produk mereka.  BLANJA.com memiliki landing page yang diberi judul "Asli Indonesia", yang memuat semua produk-produk khas dalam negeri dari seluruh pelosok.







Berapakah harga kain tenun Baduy yang dijual oleh Baduy Craft?  Narman memberi bocoran sebagai berikut:

  • Syal kecil dibandrol dengan harga 40 ribu.
  • Syal berukuran sedang dibandrol dengan harga 70 ribu.
  • Selendang / pashmina dibandrol dengan harga 150 ribu - 200 ribu.
  • Kain lebar dibandrol dengan harga 350 ribu.
  • Kain lebar dengan pewarna alami dibandrol dengan harga 700 ribu.

Kain yang menggunakan pewarna alami cenderung berwarna gelap.  Pewarna alami yang digunakan tentu saja
berasal dari alam sekitar seperti lumpur hitam, kulit pohon mahoni, secang, reungrang, daun tarum (indigo),
daun puteri malu, jawer kotok dan lain-lain. (sumber foto : koleksi pribadi)

Dibandingkan dengan kain-kain tenun dari daerah lain yang sederhana sekali pun, harga kain tenun Baduy ini jauh lebih murah.  Padahal prosesnya kurang lebih sama, butuh keterampilan dan usaha yang tidak mudah.  Informasi dari Narman, pengerjaan satu helai kain tenun ukuran besar itu bisa mencapai 1-2 bulan, karena sebetulnya pekerjaan menenun itu hanya sambilan saja, mengingat tujuan awal menenun kain hanya untuk memenuhi kebutuhan sandang sendiri. 

Sekarang kain tenun mereka memiliki nilai ekonomi dan bisa dijadikan sumber penghasilan.  Narman meminta meminta perempuan-perempuan desa yang memiliki keterampilan menenun untuk terus menenun, walau ya harus sabar karena menenun akan mereka lakukan setelah pekerjaan rumah tangga selesai dan ada waktu luang jika tidak ada pekerjaan yang mendesak di kebun atau huma

Sejak usia dini perempuan Baduy sudah diajari menenun.  Rata-rata di usia 9 tahun mereka sudah bisa membuat satu helai kain lebar.  Keterampilan menenun ini dijadikan tolak ukur transisi dari fase anak-anak ke fase dewasa.  Seorang perempuan Baduy yang pandai menenun dinilai sebagai individu yang penyabar, bertanggjung jawab, pekerja keras dan disiplin.  Perempuan Baduy yang tidak pandai menenun dianggap belum layak menikah karena dianggap tidak memiliki sifat-sifat tersebut. (sumber foto : koleksi Narman Nasinah)

Dengan nada bercanda, Narman bilang seandainya kaum lelaki Baduy boleh menenun, mereka dengan senang hati akan membantu supaya ketersediaan kain tenun menjadi banyak. Tetapi menenun untuk kaum lelaki Baduy adalah hal tabu. Dalam adat masyarakat Baduy, menenun hanya boleh dilakukan oleh perempuan saja, jika sampai ada lelaki yang melakukan pekerjaan ini niscaya sifat dan tingkah lakunya akan berubah seperti  perempuan. Aiii... siapa yang mau kan, booo....


Baduy Craft menampung kain-kain tenun dari pengrajin lain dengan sistem beli putus atau bagi hasil. (sumber foto : koleksi Narman Nasinah)

FILOSOFI

Bagi Urang Kanekes, kain tenun bukan hanya sebagai identitas.  Kain tenun hasil kerja tangan-tangan perempuan mereka adalah simbol kesederhanaan.

Kesederhanaan dipercaya akan membawa kita pada kenyamanan, kedamaian dan kesejukan hati. Hidup bersahaja dekat dengan alam adalah fakta yang melekat pada masyarakat Baduy. Melalui selelmbar kain tenun, Baduy ingin menyampaikan bahwa kesederhanaan bukanlah suatu ketertinggalan, melainkan pencapaian yang luar biasa.

Ternyata ada nilai filosofis yang terkandung  di setiap helai kain yang murni dihasilkan dari pekerjaan tangan dengan bantuan alat tenun sederhana dari kayu.  Ketika Narman menyampaikan hal itu, ada yang memercik di hati.

Percikan rindu menikmati pagi di kaki pegunungan Kendeng. Duduk-duduk santai di sosoro ketika kabut masih tampak samar menyelimuti puncak-puncak gunung, sambil menyesap kopi Baduy yang konon rasanya tidak kalah dari robusta Brazil.  Sementara di samping saya, seorang perempuan sibuk dengan pakara tinun, kedua tangannya sibuk mengatur bilah-bilah papan benang, memadukan warna sambil membentuk motif-motif geometris khas Kanekes.



Love,




Keterangan:

1. Koja : tas anyaman dari rotan
2. Huma : ladang tempat menanam padi
3. Sosoro : bagian depan rumah (teras)
4. Pakara tinun : alat tenun

8 komentar

  1. Sampai saat ini pun saya masih belum pernah beli kain tenun, kepingin banget beli, huhu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya pun demikian karena yang memang bagus itu harganya lumayan... saya lagi kesengsem sama kain tenun NTT nih :D

      Hapus
  2. Kain tenun Baduy ini keren-keren juga ya Mba, jadi pengen punya juga hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. beli yuk, mumpung harganya masih terjangkau

      Hapus
  3. Aku juga suka banget sama kain tenun.
    Baik motif dan warnanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. keren-keren ya hasil karya perempuan Indonesia

      Hapus
  4. Wah.. ternyata Baduy juga punya kain tenun yah. Apalagi yang menggunakan pewarnaan alam. Keren!

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul, yang hitam legam itu malah dahsyat ya eksotis

      Hapus