COOKING EXPERIENCE BERSAMA SASA SANTAN KELAPA


Menghadiri undangan event masak-memasak itu buat saya bisa dibilang jarang banget, karena jarang dapat undangan juga sih *hehe* padahal saya kan peminat makanan kelas berat.  Kalau ditanya makanan apa yang paling saya suka, saya suka bingung jawab.  Pokoknya yang beraroma sedap pasti menarik minat saya.

Di antaranya, saya suka masakan yang bersantan.  Walau kata orang-orang sih santan itu penyebab kolesterol jadi tinggi, saya masih bandel.  Soalnya, makanan bersantan itu dari harumnya saja sudah menggoda, belum lagi rasanya yang membuat masakan menjadi lebih gurih. Nasi uduk, sayur lodeh, opor ayam, rendang, soto, segala macam gulai, kari-karian, dan makanan-makanan kecil berkuah santan dan gula merah seperti serabi, putu mayang, cendol, kolak, ummm... tak kan  sanggup saya menolaknya.

Dan sekarang saya sebagai pengelola dapur keluarga, harus lah bersahabat akrab dengan santan ini, karena rata-rata di rumah juga penggemar masakan bersantan.  Berhubung yes, saya adalah perempuan Indonesia tim bumbu instan, saya selalu sedia santan kemasan siap pakai di rumah.  Duh hari gini, yang pe-er draft ini-itu-nya bertimbun-timbun *somboooong* masih harus meres-meres kelapa parut tiap butuh santan, oh nooo... nooo... mana bisa keburu telat.

Jadi, saya happy banget waktu dapat undangan menghadiri Launching Sasa Santan Kelapa, hari Rabu kemarin.  Biasanya saya selalu menggunakan santan instan bermerk "K" tapi kan kalau ada alternatif lain, why not kan buat dicoba.

Event ini selain dihadiri oleh teman-teman Blogger juga dihadiri (kebanyakan sih) Buibu dari komunitas Kreasi Sasa.  Dengan dresscode bernuansa hijau, kami pun siap mendengarkan penuturan dari para narasumber yang mengupas seluk beluk persantanan ini.


Salah satu narsum yaitu Chef Vania, pelaku bisnis di bidang kuliner, mengaku sama dengan saya kalau dia juga senang masakan yang bersantan *bwehehehe* karena sejatinya (((sejatinyaaa))) menurut Chef Vania santan itu banyak manfaatnya.  Di antaranya mencegah anemia, menjaga kelembaban kulit dan sebagai antioksidan.  Konon di Amerika, coconut milk ini lagi jadi primadona ya karena dipercaya sebagai antioksidan itulah.  Makanya Mr. Trump  tuh tolong disuruh minum santan ya 😂 *opo to seh iki*

Sebagai pakar kuliner Chef yang cantik bak model ini berbagi tip memilih santan yang berkualitas baik untuk masakan, yaitu: masih segar,  warnanya putih terang (tidak keruh), aromanya harum (tidak tengik), rasanya ada sedikit rasa manis dan kalau dipanaskan tidak pecah.  Makanya kenapa santan harus terus diaduk selama proses memasak? supaya tidak pecah ketika kena panas, soalnya santan yang pecah itu nggak bagus juga untuk masakan.

Naitu dia Buibu, saya juga yes termasuk perempuan Indonesia tim malas ngaduk santan.  Jadi ketika Pak Sutjipto, marketing representative PT Sasa, menceritakan keunggulan Sasa Santan Kelapa ini duh dada saya kok berdebar ya... seolah-olah berkata, ini lah yang kutunggu-tunggu selama ini, jawaban dari setiap doa *ini ngomongin santan apa jodoh sih*.  

Menurut Pak Sutjipto, Sasa Santan Kelapa ini diproduksi dengan menggunakan teknologi modern sehingga kualitasnya pun terjamin.  Proses produksi dengan sitem UHT juga menjamin keawetan produk santan dari Sasa ini.  Menurut beliau, jika kemasan tidak rusak atau bocor, Sasa Santan Kelapa bisa tahan selama 1 tahun sampai dengan 15 bulan. Wow. 

Soal kualitas produk ini memang terjamin lah nggak akan main-main.  PT Sasa Inti sudah terbukti menghasilkan produk-produk berkualitas sejak perusahaannya didirikan pada tahun 1968. Kalau perusahaan sudah berdiri selama itu, artinya kan kredibel toh.  Komitmen PT Sasa Inti adalah memberikan produk bermerek dan pelayanan kualitas super.

Kemudian lagi-lagi Chef Vania mengaku sama dengan saya, dia merasa baru sekarang lah menemukan santan instan yang tepat, karena aroma serta rasanya sama persis dengan santan segar, membuat masakan pun lebih pas. Ketika kena panas, Sasa Santan Kelapa tidak pecaaaah... *tepuk tangan* dan karena level kekentalannya pun pas (tidak terlalu encer juga tidak terlalu kental) Sasa Santan Kelapa ini bisa juga dijadikan sebagai topping makanan.

Setelah mendengarkan seluk beluk kisah Sasa Santan Kelapa, akhirnya tiba lah pada prosesi Launching Sasa Santan Kelapa yang dipimpin oleh Bapak Ronny Imbar selaku Vice President Director PT Sasa Inti didampingi oleh Pak Sutjipto dan Chef Vania.  



Setelah prosesi berakhir, acara dilanjutkan dengan demo masak bersama Chef Rendy Kong *bukan Kong Rendy lho ya*.  Dibantu Buibu anggota komunitas Kreasi Sasa, Chef Kong menyiapkan satu resep masakan dan satu resep dessert.  Seru banget lihat Chef berbadan besar tapi energik ini lincah bergerak sana-sini mengomandoi asisten-asistennya.  Nggak pake lama tersajilah Ikan Dori Saus Kari dan Mangostan <--- ini asli saya ngarang abis lupa lagi nama dessertnya, Mangostan itu singkatan dari Mango alias mangga dan santan 😁.  Apalah arti sebuah nama yang penting enak, yekaaan.



Setelah demo masak selesai, kita belum berenti digempur pengetahuan.  Kali ini ada teteh yang mungil (ternyata),  yang jago motret makanan, namanya Ayu Diah Respati, berbagi ilmunya soal food photography. Naini menarik nih, soalnya saya tertarik banget sama urusan potret memotret makanan.  Kadang-kadang hasil jepretan saya sukses dan menuai banyak pujian, tapi sering lasutnya alias juelek.  Ternyata, kunci utamanya adalah lighting saudara-saudara. 

Menurut penuturan Teh Diah, penting banget memperhatikan arah cahaya.  Arah cahaya yang bener itu kalau nggak dari belakang ya dari samping kiri atau kanan, nggak boleh ya dari depan. Sumber lighting ini bisa didapat secara alami yaitu cahaya matahari atau yang artificial ya lampu-lampu itu lah.  Nggak perlu yang mahal, dan lighting atau photo box itu bisa dibikin sendiri kok yang ala ala-nya kata Teh Diah.

Kemudian cara pengambilan foto juga kalau pakai ponsel aja ya harus deket, tiga perempat, eye level atau dari atas. Itu dia tip dari pakar food fotografi.  Berfaedah banget kan.

Nggak cuma teori aja lho bimbel food fotografi ini, pake praktek pulak.  Dan ternyata emang susah juga sih.  Motret harus tenang yak, nggak ada gangguan misal kita lagi foto dari arah atas, tiba-tiba seeet ada ponsel di bawah motret juga... lhaaaah... hahaha, dimaklumi aja abis yang praktek kan banyakan, wajar satu objek foto jadi rebutan.




Foto-foto itu ternyata selain bikin pinggang pegal juga lelah dan membuat lapar *wehehehe* untunglah hadirin ini segera dipersilakan untuk makan siang.  Dan... jeng jeng jeng... menunya semuaaa menggunakan Sasa Santan Kelapa.  Nasi uduk, ikan dori saus kari, rendang, gulai nangka, soto betawi, sampai salad buahnya juga memakai santan, yaaa kecuali emping lah yang nggak pakai santan. 

Dan, semua makanan pengisi perut saya siang itu enak-enak... puaaaasss pokoknya.  

Setelah makan siang, apalagi kalau bukan ngantuk, hehehe... akhirnya acara pun ditutup dengan pengumuman pemenang lomba foto dan live instagram terbaik.  Fine, saya nggak menang. Uhuhuhu... padahal naksir payungnya tuh, hihihi. 

Oiya kalau ada yang berminat ikutan keseruan-keseruan bersama Sasa seperti saya ini, gabung aja ke Komunitas Kreasi Sasa dan supaya nggak ketinggalan informasi event-event yang diadakan Sasa, follow akun media sosial Sasa di:

Facebook :  FP Kreasi Sasa
Instagram : @kreasisasa





Love,



6 komentar

  1. fine aku kabita mama Ina belum cobain ni masak make santan sasa sapa tau klo pake ini langsung enak ya seenak buatan chef :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya mah pake santan instan ya karena males we peras memeras kelapa, kecuali kalo punya asisten :D

      Hapus
  2. Itu daging rendang ya? :'D Aaaaa maaauuuu

    BalasHapus
  3. lagi paka sasa santan jg di rumah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. tosss... saya suka teksturnya lebih encer dibanding kompetitornya

      Hapus