HARMONI 3 RODA PROGRAM CSR INDOCEMENT FOKUS PADA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT SEKITAR


Hari Rabu, tanggal 22 November lalu, jam setengah enam pagi saya sudah nangkring di boncengan Mas Gojek siap membelah jalan antara Bintaro – Sudirman.  Perasaan agak khawatir juga sih, soalnya langit tampak kurang bersahabat.  Dan benar saja, baru seperempat perjalanan kok berasa ada tetes-tetes air.  Mulut mulai komat-kamit merapal doa mohon agar hujan jangan diturunkan dulu sebelum sampai tujuan.  Kalau hujan cukup besar saya kan jadi harus berteduh, kemungkinan besar saya bakal telat sampai tujuan dan ditinggal rombongan.

MILO, MINUMAN FAVORIT KEYAAN LAGI BIKIN CONSUMER PROMOBERHADIAH PAKET LIBURAN KELUARGA KE BARCELONA


Keyaan, 8 tahun, kelas 2 SD, memang begitu kalau ngenalin Keyaan harus lengkap.  Keyaan ini lagi seneng banget main Bulutangkis, juga penggemar susu coklat. Khususnya MILO, yang juga bisa menuhin kebutuhan energinya untuk Keyaan beraktivitas.

SEMAKIN MANTAP MENGGUNAKAN OBAT GENERIK SETELAH BERKUNJUNG KE PABRIK HJ GENERIK



OBAT PATEN vs OBAT GENERIK

“Dok, resepnya obat paten aja ya, kalau obat generik lama sembuhnya.”

Pembaca ada nggak yang punya pengalaman seperti itu? Saya rasa masih banyak masyarakat yang punya pola pikir seperti itu, terutama generasi orangtua kita. Kenapa? karena persepsi kualitas itu tergantung harga sepertinya sudah mendarah-daging 😀.  Beli obat disamain sama beli elektronik.

Memang sebetulnya bagaimana? Kalau ingin mengubah persepsi obat paten vs obat generik, sebaiknya mengerti dulu obat paten itu apa dan obat generik itu yang bagaimana.  Mari simak penjelasan berikut ini.

OBAT PATEN

Pengertiannya obat paten itu adalah obat yang diproduksi oleh suatu perusahaan berdasarkan penelitian selama bertahun-tahun dan telah diujicobakan pada makhluk hidup. Gunanya untuk mengetahui apakah obat tersebut aman dikonsumsi,  apakah produk tersebut mengandung zat penyebab kanker, dsb.  Setelah lolos layak konsumsi, diujikan pada manusia (orang sakit tertentu) apakah obat tersebut bekerja dengan baik. Kemudian dibuatlah hak patennya.  Dari situ lah istilah obat paten berasal.  Jadi masuk akal kalau harga obat paten ini menjadi mahal, karena memperhitungkan ongkos penelitian, waktu dan tenaga yang dihabiskan, sampai pengurusan hak patennya juga memerlukan biaya yang tidak sedikit, toh.

OBAT GENERIK

Obat generik ini diproduksi berdasarkan rumus kimia dari obat paten yang sudah habis masa hak patennya.  Ini bisa terjadi setelah 20 tahun atau lebih.  Mengapa? Karena manfaat obat tersebut masih dibutuhkan oleh masyarakat luas, maka diproduksilah obat tersebut dalam jumlah yang lebih besar, dengan bahan baku yang lebih murah, sehingga harga obatnya nanti bisa lebih murah.

Mbak kok pintar sih, Mbak lulusan Farmasi ya? Apoteker? Bukaaan… 😂

Saya sedang beruntung aja, pada tanggal 13 November lalu saya dan teman-teman Blogger lainnya mendapat kesempatan berkunjung ke pabrik obat PT. Hexpharm Jaya Laboratories yang berlokasi di Cikarang.  PT Hexpharm Jaya ini adalah anak perusahaan dari PT Kalbe Farma Tbk. PT HJ ini khusus memproduksi obat-obat generik berlabel HJ Generik.

sumber : dokumentasi pribadi
Begitu tiba di lokasi pabrik HJ Generik, kami disambut bentangan spanduk yang membuat hati ini fluttered, seumur-umur ikut event blogging belum pernah dibuatkan banner sambutan seperti ini. Ah, terharu.  Kemudian dengan tergopoh-gopoh Bpk. Boni selaku Group Product Head PT Kalbe Farma Tbk menyambut kami dengan ramah.  Setelah menghabiskan waktu sekitar 10 menit untuk berfoto-foto dulu, kami pun "digiring" ke ruang pertemuan.

Di ruang pertemuan ini, setelah ramah tamah sebentar, kami mendengarkan presentasi pertama mengenai obat yang disampaikan oleh dr. Artati, selaku Head Medical Dept PT Kalbe Farma Tbk.  Uraian pembukaan di atas, saya kutip dari penjelasan dr. Artati juga.

Dokter Artati menjelaskan skema cara kerja obat sampai masuk atau terserap ke dalam aliran darah. Jadi obat paten maupun obat generik ya proses penyerapannya ke dalam tubuh ya sama. Sama-sama melalui mulut terus ke tenggorokan, lambung, kemudian diserap usus, kemudian masuk ke pembuluh darah besar, ditransfer ke hati lalu ke jantung.  Nah, dari jantung ini lah obat didistribusikan ke seluruh tubuh melalaui aliran darah, tapi ada juga yang dibuang melalui urine dan feces.

sumber : dari bahan presentasi dr. Artarti


sumber : dari bahan presentasi dr. Artarti

Obat paten dan obat generik proses diserap oleh tubuhnya sama-sama begitu. Nggak ada ceritanya karena obat paten dan mahal dapat dispensasi langsung lompat ke dalam jantung, sehingga efek penyembuhannya terhadap orang sakit menjadi lebih cepat 😀

Terus apa dong yang membedakan obat paten dan obat generik jika ditinjau dari isinya.  Nggak ada. Sama saja.  Tetapi, menurut dr. Artati lagi, obat generik itu baru dinyatakan sama isi kandungannya dengan produk inisiatornya (obat paten yang ditiru rumus kimianya) jika sudah lolos uji bioekuivalensi.  

Sebelumnya, mari kita pelajari dulu skema kadar obat dalam darah berikut ini:

sumber : dari bahan presentasi dr. Artarti

Keterangan:

Cmaks adalah konsentrasi tertinggi yang dicapai obat dalam darah. 
tmaks  adalah waktu yang diperlukan oleh obat untuk mencapai konsentrasi tertingginya dalam darah.

Jadi Buibu, obat itu butuh waktu untuk bekerja, jangan harap begitu minum obat khasiatnya langsung terasa. Contohnya obat di atas memerlukan waktu dua jam untuk mencapai konsentrasi maksimalnya. Misalnya, Buibu sakit kepala, begitu minum obat nggak langsung hilang kan sakitnya, tapi beberapa jam kemudian baru hilang.  Nah, begitulah kira-kira penjelasan untuk Cmaks dan tmaks tadi.  

Apa pentingnya kita mengetahui itu semua? Karena Buibu, obat generik tidak sembarang dibuat hanya meniru rumus kimia produk inisiatornya saja, tapi harus lulus uji bioekuivalensi juga.  Apa sih bioekuivalensi itu?  Bioekuivalensi mengandung parameter-parameter yang tadi itu: Cmaks, tmaks dan satu lagi namanya AUC atau Area Under Curva.

sumber : dari bahan presentasi dr. Artarti

Jadi obat paten, sebut saja obat A, akan dibuat copynya menjadi obat generik, obat A ini diukur kadarnya dalam darah sampai didapat angka Cmaks-nya, tmaks-nya, gambar curva dan AUC-nya. Jadi obat generik tiruannya, sebut saja obat A Generik, ketika diukur kadarnya dalam darah angka Cmaks, tmaks, curva dan AUC-nya harus plek ketiplek sama persis dengan obat paten A.  Nah, itulah yang dinamakan bioekuivalensi.  kalau sudah sama maka obat A Generik ini isinya bisa dikatakan sama dengan obat paten A.

sumber : dari bahan presentasi dr. Artarti
Sekarang sudah percaya kan kalau obat generik itu ya sama saja dengan obat paten. Tapi tidak semua obat paten bisa dibuat obat generiknya, karena ada regulasi yang diatur oleh pemerintah. Sekarang ini penggunaan obat generik di masyarakat sudah mencapai 70%. Itu tandanya masyarakat sekarang sudah mulai sadar akan penggunaan obat generik.

Dan soal keampuhan atau efeknya pada penyembuhan penyakit, tidak ditentukan oleh apakah yang dikonsumsi itu obat paten atau obat generik.  Menurut dr. Artati efek obat pada setiap individu itu berbeda-beda, ditentukan oleh banyak faktor di antaranya genetik, jenis kelamin, jika perempuan apakah dia sedang hamil atau tidak, dan sebagainya.


HARUS JELI

Tetapi perlu diingat juga, membeli obat generik itu tidak boleh sembarangan ada triknya lho untuk membeli obat generik yang berkualitas, slogan yang dimiliki oleh PT HJ ini bisa dipakai sebagai referensi:

JELAS PRODUSENNYA
Pastikan diproduksi oleh pabrik farmasi yang tersertifikasi CPOB, berpengalaman dan terpercaya.

EFEKTIF KHASIATNYA
Kualitasnya setara dengan obat paten.

LIHAT KEMASANNYA
Pastikan terkemas dalam kondisi yang baik dan informasi yang lengkap. Ada logo produsen dan nomor pengesahan dari BPOM.

INGAT! BELINYA DI TEMPAT YANG RESMI
Beli di apotik atau toko obat yang berizin dan terpercaya untuk memastikan kualitas dan melindungi dari obat palsu.

PT Hexapharm Jaya telah berkomitmen mengutamakan mutu (kualitas) obat yang diproduksinya, untuk menjain efektivitas, stabilitas dan keamanannya, sejalan dengan VISI perusahaan yaitu menjadi perusahaan terdepan yang berkelanjutan pada segmen pengobatan terjangkau melalui ketangkasan, inovasi dan keunggulan operasional dan MISI perusahaan yaitu membangun masyarakat yang lebih sehat melalui produk-produk yang ekonomis dan berkualitas.

Untuk mewujudkan komintmen, visi dan misinya menjadi sesuatu yang nyata, PT HJ tentu saja harus memiliki keunggulan sebagai faktor pendukungnya.  Apa saja keunggulan yang dimiliki PT HJ, yuk kita simak penjelasannya seperti yang diuraikan oleh Bpk. Parlindungan selaku Site Head PT Hexapharm Jaya Laboratories.

1. SISTEM

  • Good Manufacturing Practice (GMP)
PT Hexpharm Jaya telah menerapkan GMP atau cara pembuatan obat yang baik. GMP PT HJ mengacu kepada PIC/S (Pharmaceutical Inspection Convention Scheme yaitu lembaga internasional yang mengeluarkan standar untuk produk farmasi).  PT HJ sudah mendapat sertifikasi cara pembuatan obat yang baik dari BPOM.

  • Quality System
PT Hexpharm Jaya Labs mengadopsi Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2015 yang telah diterima di seluruh dunia.  Perusahaan yang menerapkan sistem manajemen mutu ini telah terbuki mengendalikan mutu produk yang dihasilkannya sesuai dengan spesifikasi  yang disyaratkan.

Laboratorium. Di sinilah tempatnya semua kualitas ditentukan mulai dari bahan baku, air yang digunakan
dalam proses produksi sampai sampel produk yang sudah jadi semua diuji di sini.
(sumber : twitterpic @sallyfauzi, @duniaeni)

  • Production System
Di PT HJ ada istilah Lean Manufacturing dalam penerapan sistem produksinya, tujuannya untuk mereduksi waste dan meningkatkan mutu produk yang dihasilkan, sehingga biaya produksi dapat direduksi dan mutu produk dapat ditingkatkan secara berkesinambungan.  Selain itu sejak tahun 2012 PT HJ juga menerapkan TPM (Total Productive Management), tujuannya meningkatkan mutu produk melalui kehandalan mesin dan kualitas operatornya. Efek penerapan TPM ini, biaya memproduksi obat semakin rendah sehingga harga obat terjangkau untuk semua lapisan masyarakat.

Selain tiga sistem di atas masih adalagi strategi-strategi yang dilakukan oeh PT HJ seperti peningkatan kualitas SDM melalui CONIM atau continual improvement yang digawangi oleh departemen MSD (Manufacturing System Desvelopment).  HSE Management System sebagai upaya pencegahan kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja dan pencemaran lingkungan. Strategi yang lain adalah penerapan Balance Score Card, ini sih lebih kepada penilaian kinerja perusahaan. Dan yang terakhir adalah Pest Managemen untuk menjaga mutu produk dari kontaminasi yang disebabkan oleh pest/hama.


Memasuki area dalam pabrik tidak boleh sembarangan. Karyawan dan pengunjung harus mengikuti peraturan yang ketat, di antaranya tidak boleh mengenakan aksesories seperti kalung, anting, gelang,cincin, jam tangan, pin,  peniti untuk meghindari kontaminasi pada produk.  Pakaian yang digunakan juga khusus disediakan untuk tamu.  Foto atas adalah pakaian yang digunakan untuk memasuki area pengemasan dan penimbangan bahan baku.  Sedangkan foto bawah pakaian yang tadi dipakai dilapisi lagi dengan overall dan sepatu khusus untuk memasuki area produksi. 


2. INFRASTRUKTUR

  • Mesin Produksi
Mesin-mesin yang digunakan didesain dengan teknologi terkini dan terjamin sudah sesuai dengan spesifikasi GMP. Semua mesin yang digunakan sudah menggunakan sistem komputerisasi.

Ini adalah area produksi di mana bahan baku dicampur dengan bahan pengikat, kemudian dikeringkan,
setelah kering dipotong ke ukuran yang lebih kecil, kemudian dicetak.  Setelah dicetak produk obat
disimpan di tempat sementara sebelum didistribusi ke bagian pengemasan.

Ini area pengemasan. Mesin-mesin kemasan dilengkapi dengan detector untuk mendeteksi kemasan yang
tidak sempurna.  Produk-produk yang gagal itu akan otomatis ditolak oleh mesin.  Mesin timbangan juga
sudah diprogram, bila berat kemasan dus kurang dari standar label tidak akan dicetak.

  • Laboratorium
Fasilitas laboratorium yang handal menunjang pemeriksaan produk baik sebelum, selama dan setelah produksi dilakukan.

  • Support System
Sistem-sistem penunjang seperti HVAC, PWG, Clean system, Ipal yang menjamin proses produksi berjalan sesuai spesifikasi dan hasil produksi tidak mencemari lingkungan.

Kelompok saya diberi kesempatan melihat-lihat Utility Plant, salah satunya adalah Demin Plant tempat "memproduksi" air yang akan dipergunakan untuk produksi, karena kualitas air harus sesusai dengan spesifikasi untuk produksi obat, maka air dimurnikan dulu dan disesuaikan unsur conductivity (ion-ion), pH dan TOC-nya. Makanya airnya disebut air mahal, kalau dikonversi ke nilai uang harganya 10rb rupiah per liter. 

Ini dia area Utility Plant, tempatnya alat-alat yang mendukung proses produksi: power supply, boiler, compressor dan demin plant tadi.  Masuk ke area ini jadi bernostalgia, karena dulu pun saya bekerja di lingkungan manufakturing juga jadi
familiar lah dengan instrumen-instrumen tadi.

Nah itu dia "senjata" yang dimiliki  oleh PT Hexpharm Jaya Labs sehingga menghasilkan produk bermutu dengan harga kompetitif di pasaran.  

Bagaimana mengenali produk-produk HJ Generik ini?

Tidak seperi kemasan-kemasan produk generik yang didominasi warna putih, kemasan produk obat HJ Generik berwarna dasar biru.  Mengapa biru? filosofinya sih katanya kan warna biru itu memberi efek tenang.  Kemasan baru ini baru saja diresmikan pada bulan September 2017 lalu.

sumber : dokumentasi pribadi

Mengapa kita sebaiknya memilih HJ Generik?

HJ Generik punya lima alasan mengapa memilih produk-produk HJ adalah pilihan yang tepat yaitu:  Memenuhi standar produksi yang ditetapkan pemerintah, setara dengan obat paten, terjamin khasiatnya, diproduksi oleh pabrik yang moderen, memiliki rangkaian produk generik yang lengkap.

sumber : dokumentasi pribadi

Hwah, panjang juga ya obrolannya.  Jadi begitulah kira-kira pengalaman saya mengunjungi pabrik HJ Generik.  Wawasan dan ilmu bertambah, perut pun kenyang *hehe*.  Soalnya setelah capek keliling pabrik, sebelum sesi berikutnya kita dijamu dulu makan siang yang sedap banget. Pokoknya full service deh... *terima kasih ya kakak-kakak HJ Generik* 😊

Semoga cerita saya ini menjadi tambahan pengetahuan soal obat generik.  Siapa tahu yang tadinya belum tahu apa itu obat generik jadi tahu, yang masih ragu menggunakan obat generik jadi hilang keraguannya, yang sudah menggunakan obat generik semakin mantap dengan obat generik.  Kalau sharing saya ada faedahnya kan saya pun jadi happy.

Love,



[REVIEW FILM] MY GENERATION: INI KAN FILM REMAJA TAPI KOK BIKIN SAYA NANGIS


Hmmm... dari mana ya mulainya.  

Ya, jujur waktu pertama liat flyer film ini, sempet ragu dan langsung ada feeling bahwa film ini bakal menuai kontroversi.  Tapi ketika pihak agensi ngirim email brief tentang film ini sedetail-detailnya, ekomalah hilang ragu berganti sama rasa penasaran dan tertarik untuk terlibat sebagai tim yang akan mengenalkan film ini ke publik.

Dan feelingku tak berkhianat.  Yup, setelah trailer film ini diloncing ke pubik kontroversi pun pecah. Anehnya kumakin penasaran sama film ini, apalagi sejak hadir di press-con dan mendengar langsung  penuturan soal seluk-beluk film ini dari orang yang menulis script dan menyutradarai film ini, yaitu Upi Avianto dan tim IFISinema yang memproduksi filmnya. Saya milih mempercayai mereka dan berdoa semoga dapat rejeki undangan premier film ini sebelum resmi diputar serentak di bioskop-bioskop.

Doa mamah-mamah ini didengar dan rejeki pun datang, tanggal 2 November 2017 saya berhasil menjadi salah satu dari sekian orang yang terpilih menjadi penonton pertama film MY GENERATION di Epicentrum XXI, Kuningan, Jakarta Selatan, yippiii...!

SINOPSIS

Zeke, Konji, Orly dan Suki dipanggil Kepala Sekolah.  Mereka disidang bersama dengan ortu masing-masing. Penyebabnya adalah video buatan mereka yang berisi protes mereka terhadap guru, sistem sekolah, dan orang tua mereka.  Perbuatan yang dinilai "dosa besar" oleh orang dewasa itu membuahkan hukuman. Pada saat libur sekolah mereka nggak boleh liburan (maksudnya liburan ke tempat jauh) malah sebetulnya mereka kena hukuman tahanan rumah.  Tapi empat sekawan ini nggak mau menyerah. Dengan cara sendiri mengisi waktu liburan dengan segala keasyikan ala mereka. Namun liburan mereka nggak bisa dijalani dengan tenang,  karena mereka harus (sedang) menghadapi masalah-masalah. Orly yang sedang terobsesi dengan project ekstrimnya, Suki yang tertimpa masalah gara-gara dendam mantan pacar, Konji dan Zeke yang berselisih paham dan terancam hubungan persahabatannya. Bagaimana mereka menghadapi dan menyelesaikan masalah-masalah tersebut? Ya, baru terjawab kalau kelen nonton filmnya lah 😂

Buat saya film ini paket lengkap, hiburan sekaligus pelajaran.  Adegan awal yang kocak dan kenakalan-kenakalan khas remaja dimix dengan adegan-adegan mengharukan menjadikan film ini worth it untuk ditonton.


KARAKTER

Menurut saya untuk memahami film ini, penting lho mengenal dulu karakter-karakter utamanya. Saya akan memperkenalkan mereka dengan cuplikan masalah yang melatar-belakangi persoalan mereka di film ini.

ZEKE

Ganteng...ehm... anak tertua dari pasangan yang diperankan oleh Tio Pakusadewo dan Karina Suwandi.  Zeke tumbuh dalam keluarga yang saling memendam luka. Dia ada namun invisible di mata orang tuanya. Tanpa kata-kata, orang tuanya membangun rasa bersalah yang besar pada diri Zeke. Itu tak adil. Zeke tak mendapat perhatian dari orang tuanya, sebaliknya dia merasa dibenci. Gemes banget nih sama ortunya Zeke. Saya nggak bisa bilang alasan apa yang bikin hubungan antara Zeke dan ortunya menjadi renggang, spoiler alert  *haha*.  Well, alasannya agak klise sih, sering dipake di cerita-cerita drama keluarga. Tapi ada satu scene yang ngena banget buat saya, ketika Zeke melepaskan kesedihannya di tengah konser metal, dia lebur tapi ekspresi mukanya terluka banget nyaris menangis (kalo beneran nangis lebih keren) duh hati ini kok ikut tercabik ya, mulai mbrebes mili dari situ.  Dan scene penutup dari masalahnya  menyentuh banget, mewek deh si sayah *hahaha...cengeng detected*. 

sumber : IG @mygenerationfilm
Namun, untuk menutupi luka batinnya, Zeke tampil sebagai anak  yang ceria, bicaranya ceplas-ceplos dan cenderung slengean.  Kadang-kadang sahabatnya pun dibuat kesal karena candaan Zeke.  Tapi Zeke sangat setia kawan, dia bakal tampil paling depan membela sahabatnya yang kena masalah, walau masalah akan berbalik pada dirinya.  And yes, I am #TeamZeke. 

KONJI

Konji ini sebetulnya anaknya polos banget.  Dia korban petatah-petitih ortu yang bikin telinga pengeng doang tanpa bisa dihayati. Konji dipaksa kenyang oleh ceramah-ceramah dari ortunya, kayaknya dari mulai bangun tidur sampe tidur lagi, tiap liat muka Konji ortunya langsung terpancing buat ceramah. Alih-alih ngerti dan menghayati Konji malah enek dan akhirnya ketika mengetahui aib masa lalu ortunya, petatah-petitih ortunya itu makin kehilangan makna. Padahal sesungguhnya nasihat-nasihat ortu Konji ini sejatinya adalah kebenaran. Hanya, ketika nasihat-nasihat dipakai untuk menutupi aib masa lalu dan menjadi alasan "supaya nggak kejadian pada anak" dan disampaikan dengan gaya pemuka agama dadakan dan serba nanggung, jatohnya malah bikin sebel kan.  

sumber : IG @mygenerationfilm
Di tengah sahabat-sahabatnya, Konji ini walau tampak polos, ekspresi murung, kurang percaya diri dan berperan hanya sebagai follower, tapi seperti simbol "rem" dari semua gagasan-gagasan yang kadang-kadang menyerempet bahaya. Dia yang menyuarakan kalau project-nya Orly terlalu ekstrim. Konji juga yang berusaha menyadarkan Zeke ketika mereka bermasalah dengan Rendi si brengsek sampai akhirnya mereka ditahan karena berantem. Konji ini di mata saya seperti alarm kesadaran buat para penonton remaja, ketika kalian terbuai oleh kecerdasan Orly yang "agak menakutkan" dan keluguan Zeke tapi kadang mengundang masalah. Coba kalau nonton filmnya ntar, peratiin deh dialognya Konji, di antaranya mengandung "bener juga apa kata Konji". 

SUKI

Suki ini sosok remaja yang rapuh.  Percaya dirinya rendah banget dan selalu merasa dirinya itu small, nothing, nggak berharga. Ironisnya, yang bikin dia menjadi sosok seperti itu adalah orang tuanya sendiri.  Ortu Suki (Surya Saputra dan Aida Nurmala) itu sepertinya berlatar belakang keluarga besar yang sukses. Suki sering diberi cap "bisanya bikin malu keluarga" dan sering dibuatkan alasan-alasan yang disengaja untuk menciptakan alibi Suki di depan keluarga besar supaya mereka nggak kehilangan muka gara-gara ulah Suki. Ortu Suki menentang minatnya yang besar pada musik. Mereka menganggap minat Suki itu "apa sih" dibandingkan keinginan mereka yang ingin menjadikan Suki terjun ke bidang bisnis.

sumber : IG @mygenerationfilm
Suki juga menderita manik depresif dan membuatnya tergantung pada obat anti depresan.  Suki hanya merasa nyaman berada di tengah sahabat-sahabatnya.  Mereka menjaga dan menyayangi Suki apa adanya. Mereka tahu kelemahan Suki dan sangat ketakutan ketika Suki seperti akan menyerah karena tekanan yang tak bisa ditahannya lagi. Adegan pertengkaran antara Suki dan Ayahnya sangat menyentuh sekali, begitu jelas gambaran orang tua yang egois memaksakan kehendaknya tanpa menimbang perasaan anak dan sukses membuat anak nggak bahagia. Sediiiiih... poor Suki *tercyduk nangis part-2*.

ORLY

Orly ini karakter yang paling bikin saya geregetan. Tumbuh bersama single mother yang kurang dewasa di mana sehari-hari dia harus melihat kelakuan ibunya yang kegenitan dan nggak malu pamer kemesraan dengan pacar brondongnya. Orly ini tunas feminis, cerdas karena bacaannya tanpa batas. Minatnya pada sejarah dan teori asal-mula semacam topik yang sedang kekinian "Flat-Earth"  *nyengir*.  Gambaran anak remaja yang sadar dengan kecerdasannya dan kadang memandang remeh anak-anak sebaya yang nggak bisa ngimbangin pemikiran dan minatnya. Tapi dia sangat memaklumi sahabat-sahabatnya yang nggak sekutubuku dirinya, walau sangat nggak memaklumi candaan Zeke dan Konji yang khas anak-anak cowok banget soal "alat reproduksi".  Orly ini ilmiah banget deh pov-nya.  Bagaimana akhirnya dia happy ketemu cowok yang bisa ngerti pemikirannya, antusias banget bisa ngebahas monas dari sudut pandang "sebagai simbol kesuburan" *hahaha* dan menyikapi ketelanjangan tanpa mengarah ke pornografi dengan arca-arca dan relief-relief candi sebagai referensi.  Sis, arca-arca itu batu, benda mati mau ditelanjangin kayak apa juga gak ada urat malunya.  Beda sama manusia yang harus punya rasa malu, karena itu yang ngebedain kita sama kucing abis beranak yang melenggang kangkung dengan toket gelantungan *kebeneran kucing liar yang sering nyari makan ke rumah lewat jadi terinspirasi*.  Tapi saya jadi bisa memetik hikmah bahwa Orly ini gambaran remaja yang haus pengetahuan, senang membaca buku tapi karena kurang bimbingan akhirnya bisa jadi kebablasan dan kehilangan arah 👈 kalau pertimbangannya adalah value yang saya anut selama ini, tapi kalo valuenya seperti yang dianut Afi Nihaya Paradisa kan mungkin beda lagi.


sumber : IG @mygenerationfilm
Orly juga punya project yang bisa bikin jantung mamak-mamak se-Indonesia copot kalo denger anak gadisnya punya project beginian.  Yes, Orly punya project "virginity lost", dia cuma pengen tahu aja emang kalo hilang keperawanan itu efek negatifnya apa, kenapa kalo ada yang hilang keperawanan orang jadi bebas menghina2 ybs. Yap kalo virginity lost ini nggak dikaitkan sama morality sih saya setuju, karena hilang keperawanan itu gak melulu karena bejat moral, bisa juga karena sebab lain. Cumaaaa... hilangnya keperawanan yang dilakukan dengan cara free sex,  bergandengan erat dengan norma agama dan dampak pada kesehatan, resiko reproduksi dsb nah ini pe-er panjang ortu, kalau anak cari materinya hanya dari baca buku tanpa pendekatan yang tadi itu ya masalah. Efek coba-coba itu bahaya, pengennya sekali aja asal memuaskan keingintauan, tapi kalo ketagihan gimana? kan berabe urusannya.  Saya setuju sama Konji yang bilang kalau project Orly ini terlalu ekstrim.  Nah, kira-kira berhasilkah Orly menuntaskan projectnya?

BIG ISSUE

Yes, big issue dari film ini adalah anak-anak yang sedang bermasalah akibat dari kesenjangan komunikasi dengan orang tuanya. Ada yang terbangun komunikasinya tapi karena caranya kurang tepat, outputnya pun jadi jauh dari harapan.  Ada yang sama sekali tidak terbangun komunikasinya, jelas outputnya menjadi yang terparah. Pada bagian karakter-karakter utama yang berusia remaja, penonton harus berusaha memasang mindset: ini adalah gambaran masa-masa sulit yang dialami remaja dan bagaimana cara mereka melaluinya tanpa pendampingan dari orang tua.  Tentu saja cara-cara mereka bisa menjadi suatu kebodohan dan kesalahan tapi bukan kejahatan. Tahan atau usahakan hilangkan sama sekali mindset bahwa film ini mengajarkan kenakalan.  

Jika diperhatikan dengan seksama, keempat remaja ini justru sosok-sosok yang punya prinsip, kepribadian yang kuat, nggak gampang ikut arus. Terbukti di salah satu adegan mereka mendatangi pesta teman sekolah.  Orly dan Suki tampak nggak nyaman karena pesta seperti itu nggak guwe banget buat mereka.  Bahkan teman mereka si empunya pesta menyebut mereka dengan "cool kids" yang tumben mau gaul ke pestanya dia.  Artinya ada gambaran sedikit bahwa Zeke, Konji, Orly dan Suki memang berbeda dari remaja-remaja kebanyakan. 

Sebagai anak-anak kelas atas yang sedang bermasalah, mereka tidak lantas klise melarikan diri ke kehidupan malam, tenggelam dalam suasana disko dengan mabuk-mabukan dan drugs.  Mereka mengisi liburan dengan kegiatan seru-seruan, nerobos ke gedung sampe roof top tapi nggak sampe merusak properti, berenang, main skateboard, paling banter cari hiburan ke roller disco dan setahu saya yang pernah mengalami era roller disco juga, suasananya beda dengan disco atau klab malam. Kalau soal corat-coret mobil orang sih, ya orangnya adalah si Rendi mantan pacar Suki yang dikisahkan berkelakuan brengsek. Yah, dark side saya juga gitu sih suka pengen ngejailin orang yang udah bikin saya kecewa dan marah banget *hahaha*.

sumber : IG @mygenerationfilm
Overall saya suka film ini, awalnya saya pikir kalau nggak punya pengalaman dengan anak remaja yang bermasalah tentu bakal susah menghayati pesan yang tersirat dari film ini.  Faktanya saya salah.  Setelah premier di 4 kota, saya membaca banyak sekali yang merespons film ini dengan baik dan positif.  Mungkin karena saya sudah jarang menikmati film Indonesia, agak kaget aja dengan lompatan-lompatan adegan yang sangat dinamis, tadinya saya pikir itu efek dari editing. Tapi, secara keseluruhan film ini bikin saya terhibur, terhenyak sekaligus terharu.

Terhibur karena keempat remaja ini kocak banget.  Celetukan-celetukan Zeke, kontras dengan kepolosan Konji, dipadu dengan keresahan Suki dan kedewasaan Orly. Markas mereka di tempat pembuangan mobil bekas serasa deja vu buat saya.  Dulu di masa kecil saya ada film yang berjudul Double Deckers, tentang geng anak-anak yang markasnya di bus bertingkat bekas. Saya pengen banget punya geng dan markas seperti mereka.  Apakah Upi juga dulu penggemar Double Deckers? *hehe*

Terhenyak melihat karakter-karakter orangtua di film ini saya seperti disadarkan, bahwa mungkin saya pun menjadi seperti salah satu dari mereka di mata anak-anak saya. Bisa jadi saya menangis ketika melihat adegan menyentuh di film ini karena saya sadar masih banyak kesalahan yang saya lakukan ketika memperlakukan dan dalam mendidik anak.  Betapa mungkin mereka pun pernah merasa marah, kesal, malu dan takut pada saya tanpa bisa mengekspresikan perasaan mereka.

Terharu menyaksikan ikatan orangtua anak kembali menguat setelah salah satu pihak mengalah, membuka diri, dan merentangkan tangan lebar-lebar untuk kemudian merengkuh anak-anak mereka kembali ke dalam pelukan. Begitulah sejatinya hubungan antara orangtua dan anak-anak.  Tidak saling meninggalkan, melainkan saling menarik untuk tetap berdekatan.

Eh satu lagi, ternostalgia, kaget juga film ini diramein sama musik era 90-an yang hits banget dan kusuka, yaitu lagu Melayang-nya Iwa K dan Singiku.  Memang liriknya pas banget sama kondisi empat sahabat ini.  Salut sama Upi yang detail banget mikirin sampe ke BGM-nya. 



Tak Ada Gading Yang Tak Retak

Saya memuji Upi Avianto yang menghabiskan waktu 2 tahun hanya untuk riset kehidupan kids jaman now untuk membangun karakter dan plot film ini, dan masa produksi yang memakan waktu 1 tahun tentulah bukan pekerjaan yang main-main.  

Walau saya (sekali lagi) suka sama film ini secara keseluruhan, namun di beberapa titik ada hal yang membuat saya kurang nyaman. Pertama, well yeah kostum yang dipakai Orly dan Suki itu pas banget dengan karakter yang mereka perankan. Unik nyentrik fashionable. Kalau soal hotpants, emang yes kan remaja-remaja sekarang kayaknya demen banget pake hotpant (celana pendek yang pendek banget), nggak cuma anak-anak belasan tahun yang mid-twenty aja banyak kok yang masih hotpenan. Ibu-ibu berhijab juga ada kok yang membiarkan anak-anak gadisnya seliweran hotpenan di mall, bahkan ketika jalan bareng juga emak berhijab anak hotpenan mah kelar-kelar aja. Jadi ini soal value yang ditanamkan sama anak dalam urusan berbusana. Cuma tetep aja saya risih lihat Orly dan Suki berenang pake baju renang yang minim banget. 

Kedua, soal skinship. Ya emang saya nggak bisa ngarepin gaya persahabatan anak sekarang masih pake model persahabatannya Amir-Cici-Ito, Aku Cinta Indonesia *yampun ini sinetron jaman kapan sih kids jaman now silakan googling aja kalo gatau ACI itu apa* tapi pergaulan bebas kan bukan soal free sex semata. Persahabatan mereka emang tampak tulus banget udah kayak saudara sendiri, jadi nggak mungkin macem-macem, tapi ya saya kalo pake kacamata ortu, gerah juga ah kalo anak-anak gadis saya atau anak-anak laki saya bersahabat dengan lawan jenis berskinshipan seperti itu *dalam hal ini yes saya masih feodal*. 

sumber : IG @mygenerationfilm
Well, ini memang bukan film religi model azab Illahi, jadi saya berdamai dengan flaw itu tadi.  Saya sih percaya anak-anak yang bekal value-nya kuat (norma agama dan norma masyarakat) nggak bakal terpengaruh oleh faktor-faktor flaw tadi. Tapi yang bekal value dari ortunya longgar... ya saya nggak bisa menjamin mereka bakal melihat film ini mengandung pesan yang bagus selain keseruan persahabatan sama cowok-cowok ganteng dan cewek-cewek keren.  Dan untuk anak-anak usia sekolah menengah pertama, wajib banget didampingi ortu.  Tapi mereka itu biasanya udah gengsi nonton bareng ortu, pengennya rame-rame sama temen.  Nah, ortunya nonton terpisah aja biar ngerti, nggak cuma pasrah apalagi tau-tau asal ngejudge aja.  Untuk anak SD... eng... cari tontonan lain dulu deh... *hahaha*

Tapi nggak adil juga kalau film ini dibanding-bandingkan dengan film tahun 90-an tentang seorang pemuda tampan dari keluarga kaya tapi taat beribadah.  Jago berantem ngebela temen tapi jago pacaran juga kaaaan... *hehehe* atau malah compare dengan film-film inspiratif semacam Lima Menara, Laskar Pelangi, Garuda di Dadaku, dll.  Sampai ada pertanyaan, "kenapa nggak bikin film kayak gitu aja sih", jawabannya gampang aja karena udah ada dan banyak.  Sebagai pekerja di bidang kreatif saya juga merasakan, it's boring kalau bikin yang udah pernah ada, pengen nyoba yang lain lah, dsb.  Mungkin itu yang dirasakan Upi, pengen membuat karya yang bisa dijadikan input positif untuk remaja tapi dari sudut yang berbeda.  Nggak ada salahnya kita belajar dan mengambil hikmah dari kisah yang buram tentang kehidupan remaja. Jika hal seperti itu nggak kejadian pada keluarga kita, ya bagus dan bersyukur, tapi minimal kita bisa berempati karena tidak semua anak atau keluarga jalan kehidupannya semulus kita toh.

Lagipula jangan menutup mata dan telinga wahai Saudara, perkembangan pergaulan kids jaman now di luar sana jauuuh lebih parah dari apa yang ditampilkan di film ini.  Sebagai orang tua dan sebagai remaja berlabel kids jaman now belajar lah dari film ini, supaya setidaknya kita mengurangi jumlah remaja-remaja bermasalah yang akhirnya menjadi telanjur terlalu rusak untuk diperbaiki, mulai dari anak-anak kita dan diri kalian sendiri.

Nah, kalau jadi penasaran dan pengen nonton filmnya ingat jadwal tayang film MY GENERATION mulai besok, tanggal 9 NOVEMBER 2017 serentak di bioskoop-bioskop seluruh Indonesia.


Love,