OLEH-OLEH DARI BANDUNG #1

100 KATA PERTAMA by Ary Nilandari

 Day #4  Session #1 à Karena nggak bisa hadir dari hari pertama, jadi langsung aja tulis Day #4.

      

Nah, sesi ini merupakan rangkaian terakhir dari event “Workshop 3 Hari Bersama Yusof Gajah”, yang diadakan dari tanggal 20 - 22 April di Selasar Soenaryo, Bandung. Niat banget ikutan sesi ini (walau nggak bikin tugas seperti yang disyaratkan). Soalnya apa? Kangeeeen sama Mbak Ary. Kangen dengan pribadinya, kangen juga dengan sesi sharing ala Ary Nilandari. Kenapa? karena setiap kali mendapat transferan ilmu dari beliau, setelahnya saya merasa berkali lipat lebih pintar *LOL* dan percaya diri (dalam menulis).



Sesi ini dibuka dengan ice breaking yang asyik banget, Mbak Ary mau membacakan cerita, dan audience dilibatkan untuk mengisi sound effect-nya. 

GO-FOOD by Go-Jek: PASUKAN PEMBASMI LAPAR




Ceritanya kemaren pulang kantor bareng ponakan. Lagi asyik-asyiknya rumpi, tiba-tiba perut nimbrung bunyi, keruyukan tanda minta suplay. Niatnya sih mampir dulu beli sate (entah tiba-tiba pengen sate), tapi liat kondisi jalan yang padat merayap jadi males, malah pengen cepet nyampe rumah.

"Ya, udah pake Go-Jek aja." ponakan nyeletuk.

Kok Go-Jek sih. Setahu saya Go-Jek kan layanan transportasi pesanan -- semacam taksi tapi alatnya motor -- Selidik punya selidik, sekarang Go-Jek punya layanan baru yaitu GO-FOOD... waaah... tampak asyik dan menentramkan.

Sampe di rumah, firasat akan menu yang nggak asyik terbukti. Makin ngebet deh nyobain GO-FOOD. Baiklah... mari kita sms.  What??!! hari gini masih maen sms? ngabisin pulsa aja. Ya udah telepon deh... jyaaah... apalagi nelpon, gimana kalau pulsa tinggal 100 perak aja. Terus?

OTENG


“Mak…kampanye iku opo artine, Mak?” 
“Mbuh…”
“Duit miliar iku wakeh tah, Mak?”
Kembali celoteh bening itu terdengar lagi, namun suara parau yang sarat kantuk milik seorang perempuan tua memangkas tanya yang terlontar dari mulut kecil bocah lelaki. 
“Mbuh...  wis, turu… bengi-bengi omong-omongane ngaco bae sira”
Si bocah lelaki beringsut sedikit, mencari ruang untuk sekedar bisa membalikkan badan.  Di sebelahnya tubuh kering perempuan yang sudah melahirkannya tampak mulai mengendur.  Dada tipisnya turun naik seiring tarikan napas-napas yang tersisa dari kerja kerasnya seharian.

***
foto: storimages.wordpress.com

WHIPLASH: "Not Quiet My Tempo!"


Udah lama juga sih baca ulasannya di Kompas Minggu, dan langsung tertarik buat nonton. Pas baca ulasan itu, yang ada di pikiran, film ini bergenre musikal, tema jazz pula yang diusung, tapi mengapa tersirat dark dan ada kekerasan di dalamnya? Bikin penasaran aja.

Sayangnya karena kesibukan ini itu, jadwal putar film ini di bioskop sempat terlewat. But, thanks to keponakan dengan jutaan (berlebihan) koleksi film-nya di laptop, sekali oprek dapet deh film  ini.

Nah, film yang pemutaran perdananya dilakukan di Sundance Film Festival 2014 dan sukses meraih box office ini sebenarnya ide dasarnya sungguh klise, biasalah... proses memperjuangkan impian. From zero to hero. Tapi, di tangan dingin Damien Chazelle (penulis skenario sekaligus sutradara) film ini jauh dari biasa. Tensinya bikin degdegan... asli!

LUMPUR


Kupandangi lautan berwarna cokelat itu.  Cairannya amat kental.  Kalau saja rasanya manis, tentu anakku akan sangat senang berkubang di sana.  Tapi yang ini, kerbau pun akan tenggelam jika nekat berkubang di situ.
Rumah-rumah hanya tinggal separuh badan saja yang terlihat.  Tak ada satu pun yang berpenghuni.  Jika malam datang, kampung menjadi sepi seperti kuburan. Tak ada lagi tawa ceria anakku dan kawan-kawannya bermain di bawah purnama, tak ada lagi ramai celoteh perempuan-perempuan yang duduk mencangkung di beranda, tak ada lagi lelaki-lelaki yang bergerombol-gerombol membincangkan berita, atau berdua-dua menghadapi sekotak papan catur mencoba melepaskan penat dunia. 

BIBIR IMPIAN: GLOSSY WET COLOR TANPA TERLIHAT "MENGERIKAN"


Bibir saya termasuk bibir yang susah ditempeli bibir... eh... lipstik. Dulu, semasa remaja ngarep banget punya bibir yang merah alami, merona segar, dengan sedikit kilatan lipgloss, seperti milik cewek-cewek populer di sekolah. Namun apa daya saya dikaruniai bibir dengan warna gelap, walau dari size dan bentuk masih bagus lah (menurut saya dan suami) hehe...



foto: www.foxinflats.com.au

Bagi pemilik bibir berwarna gelap seperti saya, memilih lipstik itu mungkin jadi perjuangan tersendiri. Saya terpaksa membunuh keinginan memakai lipstik dengan warna-warna pastel. Lipstik bermoisture pun menjadi pantangan, karena tidak bisa menempel sempurna di bibir antik saya. Lupakan juga lipshine dengan warna-warna yang memikat hati. Karena kalau saya memakai lipstik model begini, alih-alih tampak menawan, bibir saya jadi kinclong berlebihan laksana habis makan gorengan seplastik gede. Big No... akhirnya saya putus hubungan dengan lipstik cair. Satu-satunya jenis lipstik yang bisa saya pakai ya jenis colorstay atau yang bertekstur creamy. 

SUATU HARI DI KRL

Selama dua tahun menjadi pengguna setia KRL, berbagai pemandangan lucu kami (saya dan De Key) lihat. Mulai dari (anehnya) jadwal berangkat yang selalu berbarengan dengan seorang waria sepuh yang gemar memakai leging warna mencolok dan kacamata gelap besar, anak-anak punk yang bikin rata-rata penumpang ibu-ibu memeluk tas mereka erat-erat (kenapa ya?) hehehe... sebuah keluarga yang terdiri dari ibu-bapak-anak perempuan montok yang gencar mengunyah sepanjang perjalanan, walau tanda dilarang makan jelas terpampang. Pernah juga ketemu dua orang waria muda yang berpakaian ala princess zaman Victoria, asli! dengan korset style, tangan lonceng, dan rok lebar mengembang, bikin hati saya bertanya-tanya, mereka ini mau pergi ke pesta kostum atau pulang dari pesta kostum kesiangan... entahlah.