MEET AND GREET DENGAN KETUA MPR RI BAPAK ZULKIFLI HASAN


Saya termasuk Blogger yang jarang terlibat ikutan acara-acara kepemerintahan.  Why? nggak tahu, kurang berminat aja.  Tapi, kalau acaranya mensosialisasikan program-program kerja yang penting diketahui oleh masyarakat luas, ya hayuk.  Sebagai warga negara yang baik wanna be, cara sumbangsih saya untuk negeri ya cuma sebatas itulah, menyebarkan informasi positif sebagai upaya membangun sumber daya manusia supaya semakin berkualitas.

Eh, ternyata niat sederhana seperti itu sejalan lho dengan anjuran Pak Zulkifli Hasan.  Swear, soalnya hal tersebut kurang lebih sama intinya dengan penuturan Pak Zulkifli Hasan di acara Gathering Netizen MPR pada tanggal 11 Desember 2017 lalu di Bandung.  

Kok bisa ikutan acara itu?  Ya begitulah rejeki kan ada yang mengatur.  Selama ini saya baru kebagian jadi penonton setiap teman-teman Blogger diundang untuk bersosialisasi dengan MPR RI, nah baru kemarin itu saya mendapat kesempatan ikut acara bincang-bincang bareng MPR RI berkat info dari blogger hits kota Bandung, sebut saja inisialnya AM ^_^ hitung-hitung sekalian silaturahmi dengan teman-teman BloggerBDG yang sudah lama juga nggak ketemu.

Curhat dong, Pak...

Saya pikir acara sudah dimulai ketika menginjakkan kaki di Hotel Aston Tropicana Cihampelas, tempat acara diselenggarakan, soalnya jarum jam panjang sudah di angka 4, saya terlambat dua puluh menit.  Tapi ketika saya sampai di lantai 8, ternyata acara masih belum mulai.  Beberapa undangan masih mondar-mandir ke meja coffee break.  Kemudian saya dipersilakan registrasi dan diberi seragam berupa T-Shirt.  Baiklah, saya ganti baju dulu.

Setelah rapi  berseragam, saya memasuki ballroom tempat acara.  Wih, sudah ramai, meja-meja bundar nyaris penuh terisi.  Blogger-blogger dari seluruh penjuru Jawa Barat tampak sibuk berbincang dengan teman semeja.  Beberapa muka yang familiar saya sapa dengan sok akrabnya ^_^ untunglah mereka mengenali saya *bwehehehe*.  Tak lama bersapa ria dan foto-foto.  MC membuka acara.

Kemudian orang yang ditunggu kehadirannya pun muncul.  Dengan langkah cepat pak Zulkifli Hasan memasuki ruangan, maklum acara menjelang akhir tahun lagi padat. Ini pun berkah banget buat warganet Bandung karena Pak Zul memilih kota Bandung lagi untuk mengadakan gathering dengan netizennya.

Acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya *untung masih apal* yang terasa khidmat.  rasa nasionalisme saya berasa naik beberapa level.  Setelah selesai menyanyikan lagu Indonesia Raya, saya dikejutkan dengan kesantaian Pak Zul.  Bukannya pidato, eh malah beliau mempersilakan netizen yang hadir untuk menyampaikan aspirasinya.  Mau sumbang saran atau ide, curhat, bertanya, mau marah-marah juga boleh, menyampaikan kritik juga monggo. Bebaaasss...


Dan kesempatan itu tidak disia-siakan oleh netizen yang memang terbiasa berpikir kritis.  Satu permasalahan sosial pun diungkap.  Dari mulai kelangkaan gas, sampah, KKN, pajak penulis, plagiarisme, isu SARA di pilkada, persekusi terhadap ulama, sampai akhirnya ada pertanyaan "Bisakah Presiden dipilih oleh MPR saja tanpa melalui Pemilu?".  

Kalau meratiin kondisi sekarang, kayaknya gagasan terakhir itu bisa dipertimbangkan.  Asal ya badan yang menjalankannya benar-benar amanah dan bebas intervensi dari pihak mana pun, dan jeli melihat potensi kandidat.  Kalau bisa begitu saya dukung deh.

Lalu apa tanggapan Pak Zul terhadap sekian keluh kesah dan pertanyaan itu?

Intinya adalah jika setiap permasalahan di masyarakat penyelesaiannya harus tergantung pada pemerintah, ya persoalannya tidak akan selesai-selesai. Sebagai warga kota/negara pun harus memiliki kesadaran dan kepedulian untuk turut menyelesaikan permasalahan sosial.  Dimulai dari masing-masing individu untuk turut berperan serta dalam menemukan solusi. 

Walau demikian tentu saja MPR pun sebagai lembaga yang mewakili kedaulatan rakyat di Indonesia ini, membantu menjembatani aspirasi-aspirasi yang dikemukakan rakyat kepada pihak-pihak terkait untuk segera menyelesaikan masalah yang timbul.  Misalnya masalah pajak penulis, ternyata menurut Pak Zul, Komisi 10 DPR sedang menggodok peraturan yang terkait dengan masalah ini.  Sedangkan untuk masalah plagiarisme ini, Pak Zul sama sekali tidak menolerir perbuatan yang tercela itu.  Tidak hanya di lingkup penulis artikel/buku/fiksi/non-fiksi tapi juga penulis lagu.


Pak Zul juga menyinggung masalah kesenjangan ekonomi.  Pengangguran adalah masalah yang harus diperhatikan dan menjadi skala prioritas.  Beliau mengharapkan perusahaan-perusahaan mengutamakan WNI untuk mendapatkan pekerjaan sebelum memberikan kepada WNA.

Makanya Pak Zul menekankan betapa pentingnya ILMU.  Tanpa ilmu anak-anak muda kelak hanya akan menjadi warga kelas 2 di negeri sendiri, apalagi di negeri orang.  Padahal untuk mengangkat harkat martabat bangsa, rakyat Indonesia ini harus bisa bersaing di kancah dunia di segala bidang.

Selain ilmu, perilaku positif juga penting dalam mendukung kemajuang bangsa yang bermartabat.  Pak Zul memberi contoh kondisi di Skandinavia di mana warga negaranya menerapka perilaku positif dalam kehidupan kesehariannya.  Sebagai bangsa yang bermartabat tinggi, mereka tidak mau memiliki barang yang bukan miliknya.  Di sana nggak perlu KPK kan? ^_^

Ciri bangsa yang maju adalah berperilaku positif dalam kehidupannya sehari-hari dan memiliki kepercayaan dan harga diri yang tinggi.  

Merah Putih Yang Terkoyak

Maksudnya gimana, Pak? Ya, lihat saja kondisi sekarang ini.  Ketika orang-orang gampang sekali terpancing marah oleh satu berita, padahal bisa jadi berita tersebut hoax belaka.  Makanya kalau saya sih suka cari sumber yang sahih dulu, browsing, stalking, nanya langsung, kalau memang beritanya worth it buat dikomplenin atau dimarah-marahin, ya saya marah-marah aja. Tapi sekarang mulai jarang kesel, karena sekarang saya juga membatasi mengkonsumsi berita-berita yang memancing atau akun-akun yang memang selaluuuu aja panas.  Saya netizen arus tenang wanna be lho sekarang 😂

Nah, jadi itu yang dimaksud Pak Zul. Dimana-mana ada saja perselisihan, diramaikan di medsos jadi tambah panas.  Kalau masalah ini dibiarkan tentu berbahaya pada kondisi stabilitas nasional.  Contohnya, yang baru saja terjadi soal pengusiran Ust. Abdul Somad di Bali.  Yang gampang tersulut langsung menuduh seluruh warga Bali intoleran, padahal pelakunya hanya beberapa gelintir saja. 

Maksud Pak Zul, jika ada masalah timbul jangan serta merta menyamakan semua bermasalah.  Lihat-lihat dulu situasinya, pelajari dulu akar permasalahannya, setelah itu baru tentukan sikap dengan kepala dingin.

Mari menjahit kembali Merah Putih yang mulai terkoyak ini.  Caranya bagaimana? tanggung-jawab kita sebagai netizen untuk memberi contoh berperilaku positif di media sosial, sehingga tercipta energi positif yang akan meliputi negeri ini.  Insya Allah! Merdeka! *hehe*

Iya, merdeka kembali lah kita seperti dulu.  Menyisihkan perbedaan mengedepankan persatuan, karena kesuksesan bangsa dan kemajuan negara membutuhkan partisipasi semua pihak.  Kalau rakyatnya sibuk berantem terus, kapan majunya dong.  Orang-orang udah mulai mikirin kapling di Mars, rakyat Indonesia masih bikin war aja di media sosial.

Supaya andil warga negara untuk kemajuan bangsa dan negara terbangkitkan dan terwujud, rencananya MPR RI akan membuat program "bulan warga negara".  Seperti apa nanti bentuk dan cara kerja program tersebut?  Kita nantikan aja undangan berikutnya, kalau Pak Zul sudah siap mensosialisasikan program tersebut ^_^



Love,

Tidak ada komentar