JALAN-JALAN (LAGI) MENINJAU USAHA BINAAN CSR INDOCEMENT PALIMANAN PLANT CIREBON



Tanggal 12 Desember 2017 lalu saya seperti dapet durian enak—kalo runtuh nggak mau, bisa benjol—nikmat banget diajak jalan-jalan lagi bareng Indocement.  Kali ini tujuan kami ke Kompleks Pabrik Palimanan, Cirebon.

Jadi, jam lima teng! Saya udah sibuk nyari gocar dan sempet direjek sekali. Duh, sempet panik tapi berusaha tenang.  Akhirnya dapet lah satu gocar dengan driver yang baik banget, dan kami pun meluncur menuju Stasiun Gambir.  Ya ampun jalanan Jakarta kalau subuh-subuh gitu lengang ya, nggak sampe tiga puluh menit saya sudah sampe di Gambir.  Yes, lagi-lagi saya yang pertama datang😁.

Tapi nggak menunggu lama, kemudian saya lihat ada Mas Gilang dan seorang bapak (kok lupa namanya), diikuti peserta trip yang lain datang satu per satu.  Eh, Mbak Eny dan kawan-kawan datangnya barengan ding. 

Menjelang jam 07.00 WIB kita masuk peron dan langsung masuk ke kereta api Argo Muria yang akan membawa kita ke Cirebon.  Setelah heboh mencari tempat duduk sesuai boarding pass—jaman now nggak bilang tiket lagi ya—leha-leha sejenak.  Abis itu saya sih sarapan, ngobrol sebentar sama Mely (teman sebangku), foto-foto sebagai barbuk, kemudian… ZZzzzz… pulesss…

WELCOME TO CIREBON

Entah keretanya yang ngebut apa gimana ya 😀, kita sampai di Cirebon lebih cepat dari waktu perkiraan.  Harusnya sih jam sepuluhan lewat dikit, tapi kita udah sampai jam setengah sepuluhan gitu.  Untungnya panitia dari Indocement Palimanan udah standby menyambut kita.  Nah, kali ini yang akan mendampingi kita namanya Pak Misnen, dari divisi CSR juga, tapi tugasnya di Kompleks Pabrik Palimanan, Cirebon.

Pada hari itu, kami akan mengunjungi 3 tempat yang menjadi binaan CSR  PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (Indocement), di bawah pengelolaan divisi CSR Palimanan Plant ini, yaitu Objek Wisata Banyu Panas, Pusat Penelitian Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat (P4M) dan Kampung Batik Tulis Ciwaringin.

MAIN AIR PANAS  di BANYU PANAS

Dengan menggunakan bus yang disediakan Indocement, kami langsung menuju lokasi Objek Wisata Banyu Panas.  Rasanya sih nggak begitu jauh, nggak sampai satu jam perjalanan, kita sudah sampai.  Uniknya ketika akan memasuki area objek wisata ini, kami masuk melalui gerbang utama pabrik.  Ya, karena lokasi pemandian Banyu Panas ini masih satu area dengan Kompleks Pabrik Palimanan.

Hujan rintik-rintik menyambut kami.  Pak Laskar yang mendampingi kami melihat-lihat area ini.  Cukup luas juga dan fasilitasnya lengkap.  Ada kolam berendam, sungai dingin untuk mandi lumpur, area bermain terbuka untuk anak-anak, panggung yang bisa digunakan jika ada acara gathering keluarga atau instansi, klinik kesehatan, mushola, MCK dan tempat bilas.


Sebetulnya lahan/tanah lokasi Banyu Panas ini milik Pemda, tetapi Indocement berkontribusi membangun dan mengelola objek wisata ini.  Kerja sama tersebut diatur dalam sebuah MOU.  Objek wisata Banyu Panas ini diresmikan pada tahun 2010 dan dikelola oleh Koperasi Karyawan Manunggal Perkasa. 


Tiket masuk ke lokasi 10K rupiah per orang.  Kalau mau berendam di kolam rendam, kena biaya lagi 10K rupiah juga per orangnya.  Pada hari libur objek wisata ini menjadi tempat favorit untuk dikunjungi.  Pengunjung yang datang bisa mencapai 5.000 orang.  Tahun 2016 kemarin objek wisata ini meraih keuntungan bersih sebesar Rp 309.000.000 dan menyumbang pendapatan asli daerah sebesar Rp 89.000.000

Berendam nggak boleh lama-lama.  Setiap 10 menit sekali harus naik dulu.  Anak-anak dan orang tua sebaiknya didampingi. Gemes pengen ikut nyemplung, tapi nggak bawa baju ganti.

Puas melihat-lihat di area Banyu Panas, kami diantar ke Guest House.  Karena sudah waktunya makan siang, kami pun disuguhi masakan khas Cirebon.  Apalagi kalau bukan Empal Gentong dan Empal Asam plus sate dan kreupuk kulit.  Wah, nggak tanggung-tanggung nih, dua jenis empal disajikan sekaligus.


Selesai sholat, saya ngobrol-ngobrol sama ibu yang mengurus konsumsi dan beliau ngasih bocoran penting. Menurutnya kalau empal gentong itu yang enak ibu Dharma, kalau empal asam yang enak milik restoran Amarta.  Nah, tuh yang punya rencana ke Cirebon, jangan lupa mampir ke dua tempat itu ya.  Saya lebih suka empal asam, karena tanpa santan dan rasanya seger banget.

NENGOK KEBUN,  KAMBING dan SAPI di AREA P4M

Habis ishoma, badan seger lagi.  Kami pun berangkat lagi menuju kawasan P4M.  Eh, apa sih P4M itu? P4M adalah singkatan dari Pusat Penelitian, Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat.  P4M ini sudah dibuka sejak tahun 2009.

Tujuan diadakannya area ini sebagai tempat penelitian dan enterepeneur agribisnis sekaligus tempat belajar dan berlatih bagi masyarakat dalam meningkatkan pengetahuan dalam bidang pertanian, peternakan dan perikanan yang berlandaskan pada potensi sumber daya alam yang ada di desa.


Di area pertanian ini dikembangkan berbagai macam jenis tanaman, mulai dari buah-buahan, sayuran, bumbu dapur sampai dengan tanaman obat yang nyaris punah seperti daun sambung nyawa. Wih.
Green House ini tempat pembibitan dan juga pengembangan pertanian dengan cara hidroponik.  Masyarakat sekitar sih nggak kekurangan lahan, jadi sistem penanaman seperti ini belum familiar, makanya diperkenalkan.  

Ruang lingkup P4M mencakup penelitian dan marketing produk, pelatihan agribisnis dan pengelolaan lingkungan, pendampingan pasca pelatihan, laboratorium dan konsultasi. Lengkap!  Memang kegiatan CSR Indocement ini nggak asal-asalan, niat banget dan dikelola secara profesioanl.  Bikin kagum deh.


Di sini juga ada penangkaran burung dari jenis asli daerah setempat.  Menurut Pak Misnen penangkaran ini dilakukan sebagai upaya pencegahan burung-burung dari species asli daerah setempat dari kepunahan.

Apa saja program-program yang ada di P4M ini?  Ada tiga kelompok program yang sekarang sedang dilakukan oleh P4M, yaitu:

Energy corps dan waste
Pengelolaan barang bekas dan sampah menjadi alternaif bahan bakar.

Agribisnis pertanian dan peternakan
Untuk pertanian yang sekarang sedang dirintis adalah budidaya rosella dan jamur. Hasil budidaya rosella ini dikembangkan menjadi minuman kemasan yang rasanya enak banget. Kok tahu? Ya abis kita disuruh nyicip ^_^ rasanya nggak terlalu manis dan segar. Kalau budidaya jamur, sekarang ini alumni pelatihan budidaya jamur di P4M sudah memiliki 64 kumbung jamur di 7 desa.


Warga binaan juga diajari mengolah hasil budidaya tanaman yang dikembangkan di P4M menjadi makanan dan minuman ringan.


 


Ternak kambing, domba dan sapi
P4M memberikan kesempatan kepada masyarakat sekitar yang ingin punya usaha ternak sendiri. Caranya, warga binaan diberi pelatihan selama 10 hari, kemudian diberi modal 10 ekor indukan. Selanjutnya selama 4 bulan mereka diwajibkan untuk datang setiap hari merawat dan memberi makan ternaknya. Kelak jika si induk beranak, anak-anak ternak menjadi hak warga binaan dan induknya dikembalikan ke P4M. 




Pengembangan budidaya padi semi organik jajar legowo
Pengelolaan lingkungan hidup
Selain concern pada pemberdayaan, CSR Harmoni 3 Roda juga tidak melupakan masalah lingkungan.  Untuk itu Harmoni 3 Roda memiliki program-program pengelolaan lingkungan hidup berikut ini:
Membangun area konservasi air, water treatment plant Embung Telar Gaga di Desa Cikeusal dan Cisonggom, Palimanan Barat. Melakukan penelitian dan pengembangan alternatif fuel dan biofertilizer.Mitigasi iklim dengan pengelolaan sampah mandiri ramah lingkungan.Membina sekolah berwawasan lingkungan di SMPN 1 Gempol dan SMAN 1 Palimanan.Proklim desa Cupang dan Cikeusal.

Foto atas tanaman king grass alias rumput gajah. Daunnya dipakai untuk bahan pakan ternak, bagian batang sampai akar sedang dikembangkan untuk menjadi alternatif bahan bakar juga.  Foto bawah pohon kemiri sunan, nah itu buahnya yang biasanya digunakan sebagai alternatif bahan bakar.

JATUH CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA di CIWARINGIN

Selama ini saya tahunya kalau dari Cirebon itu khasnya batik Trusmi.  Ternyata ada kampung lain yang juga memproduksi batik tulis, yaitu di Ciwaringin.  Warna batiknya khas pucat-pucat nyaris belel gitu, tapi saya suka yang model begini dibanding yang warna-warna terang.

Saya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama begitu melihat deretan batik bernuansa cokelat dan biru. Warna-warna seperti itu ternyata dihasilkan dari pewarna alami, seperti kulit pohon mangga, mahoni, indigo dan tegeran.


Kampung Batik Ciwaringin ini sudah mendapat pembinaan dari program CSR Indocment sejak tahun 2005 berupa pemodalan.  Sejak tahun 2009 mulai dilakukan pelatihan-pelatihan, seperti penggunaan pewarna alami, keterampilan membatik pembangunan saran dan prasarana kampung batik, IPAL, dan peningkatan kualitas batik.



Kisah perjalanan batik Ciwaringin ini pun sempat dibukukan.  "The Chanting of Ciwaringin" diterbitkan dalam masa pembinaan di tahun 2013 - 2015, termasuk usaha penerbitan hak paten untuk motif batik khas Ciwaringin.




Di tahun 2017 ini Kampung Batik Ciwaringin mendapat penghargaan Platinum tingkat nasional dari Bappenas dalam program Indonesian Sustainable Development Goals Awards (ISDA 2017) CSR Best Practice for MDGs to SDG’s kategori Tanpa Kemiskinan / Pilar 1 Pembangunan Sosial *saya nggak ngerti sih kategori apa ini, tapi salut untuk kerja keras dan kerjasama semua pihak*.



Lalu selama kurun waktu 12 tahun ini apa saja pencapaian dari pemberdayaan yang dibina oleh CSR Indocement untuk Kampung Batik Ciwaringin ini?  Mari simak fakta berikut ini:

  • Diversifikasi produk : pelatihan dan pendampingan memproduksi batik dengan pewarna alam pada kain sutra, bekerjasama dengan Lembaga Chain UGM.
  • Koperasi Anugerah Batik Ciwaringin berperan mengembangkan usaha batik dengan pelatihan membatik untuk semua kalangan mulai dari usia dini sampai dewasa. Koperasi ini juga berkembang dengan pesat, terbukti dari jumlah anggota di awal pembentukan hanya 29 pengrajin sekarang ada 64 pengrajin. Dari segi pendapatan juga terjadi peningkatan menjadi 70 juta dari 34 juta, modal awal 49 juta sekarang 124 juta dan SHU semula 17 juta menjadi 45 juta. Otomatis terjadi peningkatan omzet antara 500.000 - 1.5 juta per bulannya. 
  • Aspek lingkungan : sejak tahun 2014 sampai sekarang sudah 85% pengrajin menggunakan pewarna alami sehingga dapat mengurangi limbah kimia.
  • Aspek profesionalitas : sertifikasi kompetensi pengrajin batik tulis dari Lembaga Sertifikasi profesi BKSP Jawa Tengah. Hasil sertifikasi 100% pegrajin LULUS uji kompetensi.

Jadi, memang proses pembuatan batik tulis itu nggak gampang, Sis, harganya yang mahal itu worth it banget atau malah nggak sebanding dengan tetes keringat dan air mata perjuangan. Mulai sekarang, please jangan nawar lagi ya kalau beli batik tulis handmade gitu. Kalau merasa kemahalan atau belum mampu beli hela napas aja dulu... seperti saya... *ke Ciwaringin kukan kembali bawa celengan* 

Hwah, perjalanan ini epik banget. Capek sih tapi berkesan mana teman perjalanan juga hits banget, seru dan rame. Moga-moga program-program CSR-nya Indocement ini bisa ditiru oleh banyak perusahaan lainnya. Pembangunan perlu tapi pemberdayaan masyarakatnya juga jauh lebih penting demi terwujudnya sila kelima Pancasila *ehm...*




Love,


Tidak ada komentar