[REVIEW FILM] MY GENERATION: INI KAN FILM REMAJA TAPI KOK BIKIN SAYA NANGIS


Hmmm... dari mana ya mulainya.  

Ya, jujur waktu pertama liat flyer film ini, sempet ragu dan langsung ada feeling bahwa film ini bakal menuai kontroversi.  Tapi ketika pihak agensi ngirim email brief tentang film ini sedetail-detailnya, ekomalah hilang ragu berganti sama rasa penasaran dan tertarik untuk terlibat sebagai tim yang akan mengenalkan film ini ke publik.

Dan feelingku tak berkhianat.  Yup, setelah trailer film ini diloncing ke pubik kontroversi pun pecah. Anehnya kumakin penasaran sama film ini, apalagi sejak hadir di press-con dan mendengar langsung  penuturan soal seluk-beluk film ini dari orang yang menulis script dan menyutradarai film ini, yaitu Upi Avianto dan tim IFISinema yang memproduksi filmnya. Saya milih mempercayai mereka dan berdoa semoga dapat rejeki undangan premier film ini sebelum resmi diputar serentak di bioskop-bioskop.

Doa mamah-mamah ini didengar dan rejeki pun datang, tanggal 2 November 2017 saya berhasil menjadi salah satu dari sekian orang yang terpilih menjadi penonton pertama film MY GENERATION di Epicentrum XXI, Kuningan, Jakarta Selatan, yippiii...!

SINOPSIS

Zeke, Konji, Orly dan Suki dipanggil Kepala Sekolah.  Mereka disidang bersama dengan ortu masing-masing. Penyebabnya adalah video buatan mereka yang berisi protes mereka terhadap guru, sistem sekolah, dan orang tua mereka.  Perbuatan yang dinilai "dosa besar" oleh orang dewasa itu membuahkan hukuman. Pada saat libur sekolah mereka nggak boleh liburan (maksudnya liburan ke tempat jauh) malah sebetulnya mereka kena hukuman tahanan rumah.  Tapi empat sekawan ini nggak mau menyerah. Dengan cara sendiri mengisi waktu liburan dengan segala keasyikan ala mereka. Namun liburan mereka nggak bisa dijalani dengan tenang,  karena mereka harus (sedang) menghadapi masalah-masalah. Orly yang sedang terobsesi dengan project ekstrimnya, Suki yang tertimpa masalah gara-gara dendam mantan pacar, Konji dan Zeke yang berselisih paham dan terancam hubungan persahabatannya. Bagaimana mereka menghadapi dan menyelesaikan masalah-masalah tersebut? Ya, baru terjawab kalau kelen nonton filmnya lah 😂

Buat saya film ini paket lengkap, hiburan sekaligus pelajaran.  Adegan awal yang kocak dan kenakalan-kenakalan khas remaja dimix dengan adegan-adegan mengharukan menjadikan film ini worth it untuk ditonton.


KARAKTER

Menurut saya untuk memahami film ini, penting lho mengenal dulu karakter-karakter utamanya. Saya akan memperkenalkan mereka dengan cuplikan masalah yang melatar-belakangi persoalan mereka di film ini.

ZEKE

Ganteng...ehm... anak tertua dari pasangan yang diperankan oleh Tio Pakusadewo dan Karina Suwandi.  Zeke tumbuh dalam keluarga yang saling memendam luka. Dia ada namun invisible di mata orang tuanya. Tanpa kata-kata, orang tuanya membangun rasa bersalah yang besar pada diri Zeke. Itu tak adil. Zeke tak mendapat perhatian dari orang tuanya, sebaliknya dia merasa dibenci. Gemes banget nih sama ortunya Zeke. Saya nggak bisa bilang alasan apa yang bikin hubungan antara Zeke dan ortunya menjadi renggang, spoiler alert  *haha*.  Well, alasannya agak klise sih, sering dipake di cerita-cerita drama keluarga. Tapi ada satu scene yang ngena banget buat saya, ketika Zeke melepaskan kesedihannya di tengah konser metal, dia lebur tapi ekspresi mukanya terluka banget nyaris menangis (kalo beneran nangis lebih keren) duh hati ini kok ikut tercabik ya, mulai mbrebes mili dari situ.  Dan scene penutup dari masalahnya  menyentuh banget, mewek deh si sayah *hahaha...cengeng detected*. 

sumber : IG @mygenerationfilm
Namun, untuk menutupi luka batinnya, Zeke tampil sebagai anak  yang ceria, bicaranya ceplas-ceplos dan cenderung slengean.  Kadang-kadang sahabatnya pun dibuat kesal karena candaan Zeke.  Tapi Zeke sangat setia kawan, dia bakal tampil paling depan membela sahabatnya yang kena masalah, walau masalah akan berbalik pada dirinya.  And yes, I am #TeamZeke. 

KONJI

Konji ini sebetulnya anaknya polos banget.  Dia korban petatah-petitih ortu yang bikin telinga pengeng doang tanpa bisa dihayati. Konji dipaksa kenyang oleh ceramah-ceramah dari ortunya, kayaknya dari mulai bangun tidur sampe tidur lagi, tiap liat muka Konji ortunya langsung terpancing buat ceramah. Alih-alih ngerti dan menghayati Konji malah enek dan akhirnya ketika mengetahui aib masa lalu ortunya, petatah-petitih ortunya itu makin kehilangan makna. Padahal sesungguhnya nasihat-nasihat ortu Konji ini sejatinya adalah kebenaran. Hanya, ketika nasihat-nasihat dipakai untuk menutupi aib masa lalu dan menjadi alasan "supaya nggak kejadian pada anak" dan disampaikan dengan gaya pemuka agama dadakan dan serba nanggung, jatohnya malah bikin sebel kan.  

sumber : IG @mygenerationfilm
Di tengah sahabat-sahabatnya, Konji ini walau tampak polos, ekspresi murung, kurang percaya diri dan berperan hanya sebagai follower, tapi seperti simbol "rem" dari semua gagasan-gagasan yang kadang-kadang menyerempet bahaya. Dia yang menyuarakan kalau project-nya Orly terlalu ekstrim. Konji juga yang berusaha menyadarkan Zeke ketika mereka bermasalah dengan Rendi si brengsek sampai akhirnya mereka ditahan karena berantem. Konji ini di mata saya seperti alarm kesadaran buat para penonton remaja, ketika kalian terbuai oleh kecerdasan Orly yang "agak menakutkan" dan keluguan Zeke tapi kadang mengundang masalah. Coba kalau nonton filmnya ntar, peratiin deh dialognya Konji, di antaranya mengandung "bener juga apa kata Konji". 

SUKI

Suki ini sosok remaja yang rapuh.  Percaya dirinya rendah banget dan selalu merasa dirinya itu small, nothing, nggak berharga. Ironisnya, yang bikin dia menjadi sosok seperti itu adalah orang tuanya sendiri.  Ortu Suki (Surya Saputra dan Aida Nurmala) itu sepertinya berlatar belakang keluarga besar yang sukses. Suki sering diberi cap "bisanya bikin malu keluarga" dan sering dibuatkan alasan-alasan yang disengaja untuk menciptakan alibi Suki di depan keluarga besar supaya mereka nggak kehilangan muka gara-gara ulah Suki. Ortu Suki menentang minatnya yang besar pada musik. Mereka menganggap minat Suki itu "apa sih" dibandingkan keinginan mereka yang ingin menjadikan Suki terjun ke bidang bisnis.

sumber : IG @mygenerationfilm
Suki juga menderita manik depresif dan membuatnya tergantung pada obat anti depresan.  Suki hanya merasa nyaman berada di tengah sahabat-sahabatnya.  Mereka menjaga dan menyayangi Suki apa adanya. Mereka tahu kelemahan Suki dan sangat ketakutan ketika Suki seperti akan menyerah karena tekanan yang tak bisa ditahannya lagi. Adegan pertengkaran antara Suki dan Ayahnya sangat menyentuh sekali, begitu jelas gambaran orang tua yang egois memaksakan kehendaknya tanpa menimbang perasaan anak dan sukses membuat anak nggak bahagia. Sediiiiih... poor Suki *tercyduk nangis part-2*.

ORLY

Orly ini karakter yang paling bikin saya geregetan. Tumbuh bersama single mother yang kurang dewasa di mana sehari-hari dia harus melihat kelakuan ibunya yang kegenitan dan nggak malu pamer kemesraan dengan pacar brondongnya. Orly ini tunas feminis, cerdas karena bacaannya tanpa batas. Minatnya pada sejarah dan teori asal-mula semacam topik yang sedang kekinian "Flat-Earth"  *nyengir*.  Gambaran anak remaja yang sadar dengan kecerdasannya dan kadang memandang remeh anak-anak sebaya yang nggak bisa ngimbangin pemikiran dan minatnya. Tapi dia sangat memaklumi sahabat-sahabatnya yang nggak sekutubuku dirinya, walau sangat nggak memaklumi candaan Zeke dan Konji yang khas anak-anak cowok banget soal "alat reproduksi".  Orly ini ilmiah banget deh pov-nya.  Bagaimana akhirnya dia happy ketemu cowok yang bisa ngerti pemikirannya, antusias banget bisa ngebahas monas dari sudut pandang "sebagai simbol kesuburan" *hahaha* dan menyikapi ketelanjangan tanpa mengarah ke pornografi dengan arca-arca dan relief-relief candi sebagai referensi.  Sis, arca-arca itu batu, benda mati mau ditelanjangin kayak apa juga gak ada urat malunya.  Beda sama manusia yang harus punya rasa malu, karena itu yang ngebedain kita sama kucing abis beranak yang melenggang kangkung dengan toket gelantungan *kebeneran kucing liar yang sering nyari makan ke rumah lewat jadi terinspirasi*.  Tapi saya jadi bisa memetik hikmah bahwa Orly ini gambaran remaja yang haus pengetahuan, senang membaca buku tapi karena kurang bimbingan akhirnya bisa jadi kebablasan dan kehilangan arah 👈 kalau pertimbangannya adalah value yang saya anut selama ini, tapi kalo valuenya seperti yang dianut Afi Nihaya Paradisa kan mungkin beda lagi.


sumber : IG @mygenerationfilm
Orly juga punya project yang bisa bikin jantung mamak-mamak se-Indonesia copot kalo denger anak gadisnya punya project beginian.  Yes, Orly punya project "virginity lost", dia cuma pengen tahu aja emang kalo hilang keperawanan itu efek negatifnya apa, kenapa kalo ada yang hilang keperawanan orang jadi bebas menghina2 ybs. Yap kalo virginity lost ini nggak dikaitkan sama morality sih saya setuju, karena hilang keperawanan itu gak melulu karena bejat moral, bisa juga karena sebab lain. Cumaaaa... hilangnya keperawanan yang dilakukan dengan cara free sex,  bergandengan erat dengan norma agama dan dampak pada kesehatan, resiko reproduksi dsb nah ini pe-er panjang ortu, kalau anak cari materinya hanya dari baca buku tanpa pendekatan yang tadi itu ya masalah. Efek coba-coba itu bahaya, pengennya sekali aja asal memuaskan keingintauan, tapi kalo ketagihan gimana? kan berabe urusannya.  Saya setuju sama Konji yang bilang kalau project Orly ini terlalu ekstrim.  Nah, kira-kira berhasilkah Orly menuntaskan projectnya?

BIG ISSUE

Yes, big issue dari film ini adalah anak-anak yang sedang bermasalah akibat dari kesenjangan komunikasi dengan orang tuanya. Ada yang terbangun komunikasinya tapi karena caranya kurang tepat, outputnya pun jadi jauh dari harapan.  Ada yang sama sekali tidak terbangun komunikasinya, jelas outputnya menjadi yang terparah. Pada bagian karakter-karakter utama yang berusia remaja, penonton harus berusaha memasang mindset: ini adalah gambaran masa-masa sulit yang dialami remaja dan bagaimana cara mereka melaluinya tanpa pendampingan dari orang tua.  Tentu saja cara-cara mereka bisa menjadi suatu kebodohan dan kesalahan tapi bukan kejahatan. Tahan atau usahakan hilangkan sama sekali mindset bahwa film ini mengajarkan kenakalan.  

Jika diperhatikan dengan seksama, keempat remaja ini justru sosok-sosok yang punya prinsip, kepribadian yang kuat, nggak gampang ikut arus. Terbukti di salah satu adegan mereka mendatangi pesta teman sekolah.  Orly dan Suki tampak nggak nyaman karena pesta seperti itu nggak guwe banget buat mereka.  Bahkan teman mereka si empunya pesta menyebut mereka dengan "cool kids" yang tumben mau gaul ke pestanya dia.  Artinya ada gambaran sedikit bahwa Zeke, Konji, Orly dan Suki memang berbeda dari remaja-remaja kebanyakan. 

Sebagai anak-anak kelas atas yang sedang bermasalah, mereka tidak lantas klise melarikan diri ke kehidupan malam, tenggelam dalam suasana disko dengan mabuk-mabukan dan drugs.  Mereka mengisi liburan dengan kegiatan seru-seruan, nerobos ke gedung sampe roof top tapi nggak sampe merusak properti, berenang, main skateboard, paling banter cari hiburan ke roller disco dan setahu saya yang pernah mengalami era roller disco juga, suasananya beda dengan disco atau klab malam. Kalau soal corat-coret mobil orang sih, ya orangnya adalah si Rendi mantan pacar Suki yang dikisahkan berkelakuan brengsek. Yah, dark side saya juga gitu sih suka pengen ngejailin orang yang udah bikin saya kecewa dan marah banget *hahaha*.

sumber : IG @mygenerationfilm
Overall saya suka film ini, awalnya saya pikir kalau nggak punya pengalaman dengan anak remaja yang bermasalah tentu bakal susah menghayati pesan yang tersirat dari film ini.  Faktanya saya salah.  Setelah premier di 4 kota, saya membaca banyak sekali yang merespons film ini dengan baik dan positif.  Mungkin karena saya sudah jarang menikmati film Indonesia, agak kaget aja dengan lompatan-lompatan adegan yang sangat dinamis, tadinya saya pikir itu efek dari editing. Tapi, secara keseluruhan film ini bikin saya terhibur, terhenyak sekaligus terharu.

Terhibur karena keempat remaja ini kocak banget.  Celetukan-celetukan Zeke, kontras dengan kepolosan Konji, dipadu dengan keresahan Suki dan kedewasaan Orly. Markas mereka di tempat pembuangan mobil bekas serasa deja vu buat saya.  Dulu di masa kecil saya ada film yang berjudul Double Deckers, tentang geng anak-anak yang markasnya di bus bertingkat bekas. Saya pengen banget punya geng dan markas seperti mereka.  Apakah Upi juga dulu penggemar Double Deckers? *hehe*

Terhenyak melihat karakter-karakter orangtua di film ini saya seperti disadarkan, bahwa mungkin saya pun menjadi seperti salah satu dari mereka di mata anak-anak saya. Bisa jadi saya menangis ketika melihat adegan menyentuh di film ini karena saya sadar masih banyak kesalahan yang saya lakukan ketika memperlakukan dan dalam mendidik anak.  Betapa mungkin mereka pun pernah merasa marah, kesal, malu dan takut pada saya tanpa bisa mengekspresikan perasaan mereka.

Terharu menyaksikan ikatan orangtua anak kembali menguat setelah salah satu pihak mengalah, membuka diri, dan merentangkan tangan lebar-lebar untuk kemudian merengkuh anak-anak mereka kembali ke dalam pelukan. Begitulah sejatinya hubungan antara orangtua dan anak-anak.  Tidak saling meninggalkan, melainkan saling menarik untuk tetap berdekatan.

Eh satu lagi, ternostalgia, kaget juga film ini diramein sama musik era 90-an yang hits banget dan kusuka, yaitu lagu Melayang-nya Iwa K dan Singiku.  Memang liriknya pas banget sama kondisi empat sahabat ini.  Salut sama Upi yang detail banget mikirin sampe ke BGM-nya. 



Tak Ada Gading Yang Tak Retak

Saya memuji Upi Avianto yang menghabiskan waktu 2 tahun hanya untuk riset kehidupan kids jaman now untuk membangun karakter dan plot film ini, dan masa produksi yang memakan waktu 1 tahun tentulah bukan pekerjaan yang main-main.  

Walau saya (sekali lagi) suka sama film ini secara keseluruhan, namun di beberapa titik ada hal yang membuat saya kurang nyaman. Pertama, well yeah kostum yang dipakai Orly dan Suki itu pas banget dengan karakter yang mereka perankan. Unik nyentrik fashionable. Kalau soal hotpants, emang yes kan remaja-remaja sekarang kayaknya demen banget pake hotpant (celana pendek yang pendek banget), nggak cuma anak-anak belasan tahun yang mid-twenty aja banyak kok yang masih hotpenan. Ibu-ibu berhijab juga ada kok yang membiarkan anak-anak gadisnya seliweran hotpenan di mall, bahkan ketika jalan bareng juga emak berhijab anak hotpenan mah kelar-kelar aja. Jadi ini soal value yang ditanamkan sama anak dalam urusan berbusana. Cuma tetep aja saya risih lihat Orly dan Suki berenang pake baju renang yang minim banget. 

Kedua, soal skinship. Ya emang saya nggak bisa ngarepin gaya persahabatan anak sekarang masih pake model persahabatannya Amir-Cici-Ito, Aku Cinta Indonesia *yampun ini sinetron jaman kapan sih kids jaman now silakan googling aja kalo gatau ACI itu apa* tapi pergaulan bebas kan bukan soal free sex semata. Persahabatan mereka emang tampak tulus banget udah kayak saudara sendiri, jadi nggak mungkin macem-macem, tapi ya saya kalo pake kacamata ortu, gerah juga ah kalo anak-anak gadis saya atau anak-anak laki saya bersahabat dengan lawan jenis berskinshipan seperti itu *dalam hal ini yes saya masih feodal*. 

sumber : IG @mygenerationfilm
Well, ini memang bukan film religi model azab Illahi, jadi saya berdamai dengan flaw itu tadi.  Saya sih percaya anak-anak yang bekal value-nya kuat (norma agama dan norma masyarakat) nggak bakal terpengaruh oleh faktor-faktor flaw tadi. Tapi yang bekal value dari ortunya longgar... ya saya nggak bisa menjamin mereka bakal melihat film ini mengandung pesan yang bagus selain keseruan persahabatan sama cowok-cowok ganteng dan cewek-cewek keren.  Dan untuk anak-anak usia sekolah menengah pertama, wajib banget didampingi ortu.  Tapi mereka itu biasanya udah gengsi nonton bareng ortu, pengennya rame-rame sama temen.  Nah, ortunya nonton terpisah aja biar ngerti, nggak cuma pasrah apalagi tau-tau asal ngejudge aja.  Untuk anak SD... eng... cari tontonan lain dulu deh... *hahaha*

Tapi nggak adil juga kalau film ini dibanding-bandingkan dengan film tahun 90-an tentang seorang pemuda tampan dari keluarga kaya tapi taat beribadah.  Jago berantem ngebela temen tapi jago pacaran juga kaaaan... *hehehe* atau malah compare dengan film-film inspiratif semacam Lima Menara, Laskar Pelangi, Garuda di Dadaku, dll.  Sampai ada pertanyaan, "kenapa nggak bikin film kayak gitu aja sih", jawabannya gampang aja karena udah ada dan banyak.  Sebagai pekerja di bidang kreatif saya juga merasakan, it's boring kalau bikin yang udah pernah ada, pengen nyoba yang lain lah, dsb.  Mungkin itu yang dirasakan Upi, pengen membuat karya yang bisa dijadikan input positif untuk remaja tapi dari sudut yang berbeda.  Nggak ada salahnya kita belajar dan mengambil hikmah dari kisah yang buram tentang kehidupan remaja. Jika hal seperti itu nggak kejadian pada keluarga kita, ya bagus dan bersyukur, tapi minimal kita bisa berempati karena tidak semua anak atau keluarga jalan kehidupannya semulus kita toh.

Lagipula jangan menutup mata dan telinga wahai Saudara, perkembangan pergaulan kids jaman now di luar sana jauuuh lebih parah dari apa yang ditampilkan di film ini.  Sebagai orang tua dan sebagai remaja berlabel kids jaman now belajar lah dari film ini, supaya setidaknya kita mengurangi jumlah remaja-remaja bermasalah yang akhirnya menjadi telanjur terlalu rusak untuk diperbaiki, mulai dari anak-anak kita dan diri kalian sendiri.

Nah, kalau jadi penasaran dan pengen nonton filmnya ingat jadwal tayang film MY GENERATION mulai besok, tanggal 9 NOVEMBER 2017 serentak di bioskoop-bioskop seluruh Indonesia.


Love,


CONVERSATION

0 komentar:

Post a Comment

Back
to top