[EVENT] SOFT LAUNCHING NOVEL ANAK RANTAU KARYA A. FUADI

by - 8/06/2017


Bagi saya yang suka nulis, acara launching buku, bedah buku, atau bincang buku adalah acara wajib untuk dihadiri. Saya masih memegang pakem bahwa yang suka nulis atau yang ingin jadi penulis harus selalu berdekatan dengan buku (bisa juga bahan bacaan lainnya). Buku atau bahan bacaan atau ya tegas-tegas aja, membaca itu kegiatan wajib jika ingin hasil tulisannya baik (kalau bagus mah relatif ya), berisi dalam arti mengandung ruh yang akan meninggalkan kesan bagi pembaca, dan memperdalam pengolahan diksi.

Terus terang udah lama saya absen dalam kegiatan seperti itu. Kangen juga menghadiri diskusi/bincang buku, walau nggak ikut aktif dan hanya sebagai pendengar aja juga udah nikmat banget rasanya. 

Dasar emang udah rejeki, saya baca informasi di grup ISB (Indonesian Social Blogpreneur) acara soft launching novel Anak Rantau karya A.Fuadi. Wow, langsung daftar. Bukan karena A.Fuadi termasuk penulis favorit saya, tapi ya emang kangen minggle dengan para pecinta buku, dan waktunya juga pas lagi nggak bentrok sama acara lain.

Maka hari Sabtu, tanggal 5 Agustus kemarin saya meluncur dari Serang ke kawasan Kota Tua Jakarta. Acara tersebut akan diselenggarakan di area Gedung Pos, tepatnya sih di Batavia Market, sebuah cafe yang suasananya cozy banget, letaknya pas sebelah Gedung Pos itu. Ditambah lagi saya belum pernah lho ke kawasan Kota Tua ini *silakan ketawa* paling cuma sampe Museum Bank Mandiri dan lewat doang kalau mau ke Asemka 😁

Ke-excited-an saya nambah lagi berkali lipat ketika sampe kawasan Kota Tua, nyadar bahwa acara soft launching Anak Rantau ini merupakan salah satu agenda dari Asean Literary Festival. Tahun ini adalah penyelenggaraan ALF yang keempat. Ya ampuuun... udah lama banget sejak aku datang ke ALF di TIM dua tahun lalu. Sekalian deh sight seeing dari booth ke booth yang meramaikan ALF 2017 ini.

* back to soft launching Anak Rantau *

Di undangan tertera waktu acara jam 12.00 WIB, dan sampe jam segitu acara belum dimulai juga maka saya dan Tati (teman blogger) memutuskan sholat zuhur dulu. Eh, pas kami kembali ke venue acara, Uda Fuadi sedang memberikan penjelasan mengenai isi novelnya (tadinya saya manggil beliau Mas pikir-pikir kan udah jelas-jelas beliau asali Minang, kenapa masih dipanggil Mas juga 😂). Uuu... ketinggalan deh.


Tapi jangan kecewa dulu ya, ini bocorannya yang saya kutip dari cover belakang novel Anak Rantau.
Hepi, perantau bujang yang menyalakan dendam di tepi danau. Martiaz, ayah yang pecah kongsi dengan anaknya di simpang jalan. Datuk, kakek yang ingin menebus dosa masa lalu di tengah surau. Pandeka Luko, pahlawan gila yang mengobati luka lama di rumah usang. Apakah "alam terkembang jadi guru" menjadi amanat hidup mereka? Mungkinkan maaf dan lupa menjadi penawar bagi segenap lupa? Ikuti petualangan Hepi bersama Attar penembak jitu dan Zen penyayang binatang, bertemu semua tokoh ini, bertualang mendatangi sarang jin, menghadapi lelaki bermata harimau, memburu biduk hantu, dan menyusup ke markas pembunuh. Semuanya demi melunasi sebuah dendam, sebuah rindu.
Deskripsi tokoh-tokoh dalam novel ini aja udah memancing rasa penasaran, ya kan. Ditambah lagi ada ungkapan "alam terkembang jadi guru" dan petualangan Hepi dkk menyusup ke markas pembunuh. Ada apa ini? Baru baca segitu aja saya udah berdebar-debar karena excited.

Kalau boleh menyimpulkan secara global sih novel ini adalah kisah luka dan proses memaafkan dari tokoh sentralnya, dibalut setting lokalitas dengan nafas alam Minangkabau khas A.Fuadi, ditambah bumbu kriminal yang mengangkat isu narkoba.

Apa yang menjadi ide dasar ditulisnya novel Anak Rantau?

Ternyata latar belakang kisah novel ini adalah kegelisahan yang dirasakan Uda Fuadi. Penyebabnya adalah berbagai masalah yang terjadi di desa kelahirannya. Salah satunya adalah kasus narkoba yang menimpa seorang Datuk di desanya. Datuk gitu lho... bukannya seseorang dengan gelar Datuk adalah seseorang yang dianggap tokoh di masyarakat dan pemangku adat. Kok bisaaa... tersangkut kasus narkoba.

Walau memang jika melihat tata geografis kampung halaman Uda Fuadi ini memang rawan karena berada di "jalur merah". Jalur merah itu maksudnya kawasan yang dilalui distribusi narkoba antara Aceh dan Sumatera Barat. 

Dan tampaknya terjadi pembiaran terhadap masalah-masalah yang timbul itu. Entah karena ketidaktahuan atau memang sengaja dibiarkan. Nah, kira-kira itulah yang menjadi biang kegelisahan Uda Fuadi, yang kemudian dia tuangkan ke dalam karya tulis.

Selain isu serius di atas, Uda Fuadi juga menyisipkan sentilan untuk berita hoax. Dia juga merasakan kegelisahan terhadap isu ini, di mana sekarang ini tatanan masyarakat terancam goyah hanya karena mempercayai hoax. Orang dengan mudahnya termakan berita yang belum tentu kebenarannya. Kekinian nih Uda. Sepakat juga sih sama Uda.


Bincang novel Anak Rantau ini tambah meriah dengan kehadiran Miftah Sabri, CEO Selasar.com sebagai pengulas novel tersebut. Miftah mengaku kaget ketika pertama kali membaca draft Anak Rantau. Hepi, tokoh sentral di novel itu, kok gue banget. Karakter mereka mirip. Pengalamannya sebagai anak piatu jadi melebur merasakan luka yang sama dengan Hepi.

Dan saya harus setuju dengan penuturan Mas Miftah, gaya bertutur A.Fuadi ini sederhana. Menggunakan diksi-diksi yang umum gitu lah kira-kira, kalimat-kalimat juga membumi tapi bisa meninggalkan kesan dan makna yang begitu dalam. Nah, inilah sebab mengapa Uda A.Fuadi termasuk ke dalam list penulis favorit saya *hehe*. Jujur aja saya suka kurang menikmati novel-novel dengan diksi yang extravaganza bertabur metafora, lelah... atau saya yang kurang pintar? 😂

Penuh gini ya ruangan. Ini belum termasuk yang memedati area sebelah kanan saya dan yang lesehan.
Penggemar A.Fuadi buanyak ya, kalah deh K-POP star 😁 Nggak tanggung-tanggung ada yang bela-belain
datang dari Yogya, Padang, bahkan dari Malaysia. Wow!

SESI TANYA JAWAB

Nah, nggak nyangka kan sesi ini bakal jadi bahan rebutan *hehe*. Dari pertanyaan hadirin dan jawaban dari Uda Fuadi banyak lho yang bisa dipetik sebagai bekal amunisi kalau pengen jadi penulis, juga buat membangunkan kembali hasrat menulis bagi penulis pemalas macam saya ini *hahaha*.

Kunci proses kreatif dari penulisan novel ini adalah RISET. Ya, Uda merasa perlu untuk kembali ke kampung halamannya, supaya bisa merasakan dan melihat langsung masalah yang akan dijadikan unsur konflik dalam novel. Dia juga menemui pemuka adat, perantau-perantau, polisi dan badan narkotika untuk brainstorming dengan pihak-pihak yang memang berkecimpung di bidang yang akan dijadikan unsur pendukung konflik dan setting.

Uda Fuadi menyebutkan empat unsur yang menjadi rumusnya dalam menulis, yaitu WHY, WHAT, HOW, WHEN. Bukan 5W 1H ya Uda, ini lebih sederhana. Yang pertama temukan dulu why-nya kenapa kamu ingin menuliskan sesuatu. Nawaitunya apa? Karena menulis itu bagi Uda adalah perjalanan ke dalam (interaksi dengan diri sendiri dulu). Kalau udah menemukan jawaban untuk si why ini, tulisanmu akan lebih kuat ruhnya. Gitulah kira-kira ya, kenapa si why ini begitu pentingnya.

Kemudian WHAT: ya apa yang akan kamu tuliskan itu. HOW: gimana caranya kamu menuliskan itu yatadi itu riset menjadi salah satu poin penting dasar kamu menulis, dan WHEN: ya kapan kamu mau nulisnya. Nulis itu ya kayak nikah, disegerakan aja kalau udah mampu. Sebaiknya jangan ditunda, apalagi koar-koar sana sini tapi nggak ada action. Ayo buruan NIKAH! eh salah nulis maksudnya.

Etapi ternyata nikah sama nulis itu berkaitan erat lho. Buktinya Uda Fuadi merasa beruntung ketika menulis sudah ada pasangan hidup yang mendampingi. Mbak Yayi, istrinya Uda Fuadi itu ternyata orang pertama yang mereview naskah novel yang ditulis Uda Fuadi. Dari pengakuan Uda Fuadi sih, Mbak Yayi lebih garang coretannya dari Editor di penerbit. Nah Lho!

Intermezzo dikit ya, saya jadi teringat pesan yang sama dari salah seorang guru menulis saya Mas Gola Gong, enaknya penulis yang udah beristri itu ya gitu selain jadi first reader, eh kalau capek nulis ada yang mijetin, eh kalau tengah malem mentok ide nulis ada yang dibangunin... ngapaiiiin?!!! bikinin kopi lah... hahahah. Makanya Mas Gola Gong getol ngeracunin relawan di Rumah Dunia supaya menyegarakan menikah jika sudah mampu.

*back to stage*

Senangnya... dapat merchandise dari Uda Fuadi. Betah lembur nulis ya ditemenin kopi dalam mug Anak Rantau 

Kemudian fans kepo nanyain buku-buku yang jadi referensi, lagi dibaca dan penulis favorit Uda Fuadi. Harper Lee disebut Uda, emang Da novel To Kill A Mocking Bird itu favorit saya juga, dan mendengar Uda menyebutkan judul itu, sukses membangkitkan rindu saya pengen baca novel itu lagi. Khaled Hosseini juga disebut sebagai penulis favoritnya, eh kok sama lagi sih Da... tapi kok kemampuan nulisku gini-gini aja sik... *tanya sama kemalasan dan drakor-drakor yang memerangkapmu itu* 😀

Ya pokoknya bincang buku sama Uda Fuadi ini santai tapi seru dan banyak hikmah yang bisa kita petik lho. Dan ketika ditanya apa sih arti buku untuk Uda, jawabannya kece "Buku buat saya seperti flying carpet. Karpet terbang." Buku atau karena menulis buku lah, yang membawa Uda Fuadi ke tempat-tempat yang tak terduga, seperti undangan untuk menjadi dosen tamu di Berkeley University, Amrik booo... dan sebagai tamu VIP Japan Foundation, pameran buku di Frankfurt, Jerman. Wohow... aku pun mau... :D 

Dan berbagi pengalaman itu lah yang menjadi akhir dari bincang-bincang di acara soft launching novel Anak Rantau. Tapi sebetulnya sih, acara ditutup dengan prosesi book signing. Antriannya lumayan panjang juga. Saya mah nyerah deh, toh saya bakal ketemu Uda Fuadi di acara kepenulisan di Yogya, nodong tanda tangannya di sana aja lah. Jadi saya melipir ke desk yang menyedikan iced coffee yang enak-enak banget., dan walhasil abis dua gelas deh... *pengakuan dosa* 😎😎

Well, segitu dulu deh ya cerita liputan event soft launching novel Anak Rantau karya A.Fuadi berkat kerjasama Falcon Publishing dan Indonesian Social Blogpreneur. Alhamdulillah saya happy mengikutinya dan nggak akan nolak kalau diajak lagi ke acara-acara serupa ini, dengan catatan waktunya pas sama skedul *bah sok sibuk banget kau*.

Sekarang saya belum baca novelnya, kalau udah baca entar saya kasih reviewnya yaaa... bubay...


Love,



You May Also Like

18 komentar

  1. Abis ikutan soft launching jadi kepengen menyelami kata-kata dalam novel Anak Rantau

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya Mbak, sambil santai ngopi... hehe

      Delete
  2. Hahahaha... dua gelas kopi. Aku dapat matcha sama kopinya... #ehjakasembung. Btw, acara buku emang selalu asyik mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya Mbak Etha, apalagi penulis favorit kita pula hehe...

      Delete
  3. Buku Anak Rantau, temanya keren dan kekinian. Recommended untuk pecinta novel, feeling saya nih buku jadi film :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. bisa jadi Mas, novel-novel A Fuadi selling pointnya oke kok

      Delete
  4. Kayanya isinya nyastra banget, ya? Penasaran. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. nggak deh kayaknya, aku belum baca, yang udah baca sih bilang ringan

      Delete
  5. Kayanya novel Anak Rantau wajib jadi koleksi di rumah deh. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. wajib, hehehe... apalagi kalau udah koleksi dari trilogi 5 menara sayang kalau nggak beli novel ini sekalian

      Delete
  6. Acaranya dikemas dengan menarik
    Terasa santai namun padat dan bergizi
    Udah Fuadi juha enak sih komunikasinya, gak menciptakan jarak dengan pembaca :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul, penulis beken tu harus gitu ya... membumi hahaha jangan bikin jarak dengan pembacanya

      Delete
  7. Keren bgtt ulasannya mba....padat dan lengkap

    ReplyDelete
  8. eh nggak bisa ngebayangin kalau penuh kayak gitu XD
    belum koleksi buku A.Fuadi XD
    duh berasa kudet,

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya rata-rata anak-anak muda hihi... coba deh baca satu bukunya, enak kok gaya bertuturnya. Cocok sama seleraku yang gak nyastra ini :D

      Delete
  9. Bukunya penuh bahasa sederhana tidak berat tapi sarat makna... peran istri pentiingggg ternyata yaaa...

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaya Mbak Agatha, saya belum baca harus segera ini mah *hehe* saya emang suka buku yang ringan tapi meninggalkan kesan, peran pasangan memang penting ya Mbak minimal supportnya itulah, menulis itu pekerjaan yang melelahkan sesungguhnya tapi sekaligus menyenangkan, iya kan Mbak... :D

      Delete