KOK NGGAK PADA KEPO SIH SAMA WARISANNYA?


Tadinya mau ngedraft buat postingan tapi pengen curhat. Daripada jadi jerawat mending saya tulis aja uneg-uneg ini. Syukur-syukur ada yang terinspirasi, tapi kalau yang mau eneg juga gak papa... 😁

Awalnya, secara gak sengaja saya baca (lagi) postingan dedek gemes yang heits banget belakangan ini, karena postingan-postingannya yang "smart and shining" 😁. Setelah postingan "kenapa sih pada berisik aja" sekarang dedek gemes itu menuai lagi ribuan like dan share dengan topik "Warisan".

[cari sendiri sumbernya ah ya jangan manja minta dishare aja]

Ini bukan soal warisan harta, tapi agama yang diwariskan turun temurun. Memang, gak melulu fokus ke Islam, dia juga membahas agama lain. Dan mungkin kalau saya pakai kacamata global membaca tulisan itu, ya nothing was wrong with that. Tapi saya membaca tulisan itu memakai kacamata ke-Islaman saya, agama yang saya warisi selama 44 tahun.

Bisa jadi saya salah menafsirkan, tapi ada yang terasa janggal  dan seperti ada yang mengganjal di hati saya. Menurut saya opininya itu misleading, saya sampai keceplosan ngetik "sesat ah, Dik" di kolom komentar. Dan ya, akhirnya saya hapus saja komentar itu daripada mendatangkan masalah. Yang luar biasa ribuan jempol dewasa mampir di sana. 

Maka saya menulis keresahan saya itu di status Facebook sebagai berikut:
bagi saya Islam bukan sekedar warisan, nama saya Grace Marina Sophia Alexandra, tapi saya bersyukur dan menikmati warisan sebagai muslim. Mengapa Dik Afi Nihaya *maap diralat* itu menulis soal (agama) Warisan ini, mungkin dia masih menganggap agama Islamnya-itu sebagai warisan bukan agama yang diyakininya sepenuh hati (kasihan). 
Semua penganut keyakinan berhak mengklaim jika keyakinannya lah yang paling benar. Sah-sah aja. Silakan. Tapi, saya (pribadi) tidak setuju jika disebut semua agama sama. Ini membentur ketauhidan yang susah payah saya pelajari dan pahami selama ini. 
"... Pada hari ini telah kusempurnakan bagimu agamamu, telah kutambahkan kepadamu nikmat-Ku dan telah kuridhai Islam sebagai agamamu..." (QS:Al-Maidah:3) 
Nah itu pegangan saya sebagai muslim mengapa menganggap Islam yang paling benar. Jadi kalau si adik bilang: kalau bukan Tuhan siapa yang menciptakan muslim, kristen, budha, hindu, ateis dan masih memeliharanya sampai hari ini... 
siapa coba? *hehehe* 
Dalam pengetahuan saya, jika Tuhan yang dimaksud adik manis di sini Allah SWT, asa bukan ah. Pan itu liat ada ayatnya di atas. Duka atuh eta hindu, budha, komo ateis mah saha nu ngamimitian. Kalau nasrani agak belibet ya karena terkait sejarah kerasulan. 
Saya pribadi gak pernah diajarkan atau kepengen melecehkan keyakinan lainnya selain Islam. Dan saya yakin setiap ummat Islam yang taat pada ajarannya pun demikian. Lakum diinukum wa liya diin... 
Tidak akan menggigit semut jika tidak diganggu. Tidak akan menyengat lebah jika tidak diusik. Falsafah kehidupan beragama yang bergam mah gitu aja, simpel kan. 
Jadi semestinya nggak ada yang perlu dikhawatirkan, resah gelisah gundah gulana galau sampe histeris, semua akan baik-baik saja selama tidak saling mengganggu apalagi menyakiti.

Kemudian dari komentar teman-teman yang sepaham saya mendapat pencerahan lagi dan diingatkan pada satu hadist penting:
"Setiap anak dilahirkan di atas fitrah, maka orang tuanya lah yang menjadikannya Nasrani, Yahudi dan Majusi"
Jadi jika "Tuhan" yang menciptakan muslim, kristen, hindu, budha, ateis sekalipun, Tuhan yang mana? Allah SWT nggak mungkin mengingkari ucapan-Nya yang tertulis sebagai Al-Maidah ayat 3 itu. Dan lagi-lagi ujung-ujungnya selalu mengarah pada perpecahan akibat perbedaan. Duh, Dik...

Ada komentar yang membesarkan hati saya berkata begini,
....Tapi, saya (pribadi) tidak setuju jika disebut semua agama sama. Ini membentur ketauhidan yang susah payah saya pelajari dan pahami selama ini.... 
Setuju dengan kalimat ini, banyak yang tidak paham dengan kalimat ini saya maklumi karena pengalaman dalam mengkaji Islam tidak ada atau belum pernah sama sekali maka Islam baginya adalah warisan. Saya yakin dengan menghadiri kajian2 Islam maka akan berubah pemahamannya. Kita doakan ...
Sepakat Mbak. Logikanya, kalau ada orang yang mendapat warisan biasanya kan seneng tuh, terus nyari tahu dapet apa? keuntungannya buat gue apa? nyaman gak buat gue? atau gimana caranya supaya warisan itu gak lepas dari tangan gue. Intinya: dipelajari, dipahami sampai menemukan keuntungan buat dirinya.

Coba sekarang berdiri di depan cermin, terus tanya pada diri sendiri apakah agama Islam hanyalah sekedar warisan aja? kemudian menjadi beban, burden bagimu... lalu kenapa kamu masih memakai Islam sebagai agamamu?


Love,




CONVERSATION

10 komentar:

  1. banyak bgt yg love n share termasuk atasan eike muji2 postingan tulisan warisan itu mba hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya dengan demikian ternyata banyak banget yang masih menganggap Islam sebagai warisan aja, emang pinter sih anaknya aku pun kagum, tapi yah gitu opininya gak pernah sejalan sama sayah mah :D

      Delete
  2. Jd kepo nih mba tulisan dedek gemes itu. Awal sy pakai jilbab saat kelas 4 SD , ga ngerti aja orang pada heboh pake jilbab trus kita ngikuti. Dan buka tutup gitu namanya anak2. Seiring waktu sering ikut rohis dan semacamnya , mudah2an istikomah..

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihi... masa gak ada yang lewat di TL segitu yang ngelike dan share ribuan jiwa :D iya memang pasti gitu, warisan dulu atau disuruh dulu makin gede kan kita (mestinya) nyari tahu kenapa kita disuruh2 hihi... jangan kaget ya mbak, saya dijilbab udah punya anak satu :'(

      Delete
  3. jadi pengen tau tulisan doi seperti apa...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihi banyak lho yang share masa gak ada yang lewat satu pun di TL Mbak?

      Delete
  4. "Agama Warisan" saya kebetulan ada beberapa, saya juga diberikan kebebasan untuk memilih

    Saya pernah masuk sekolah pendalaman, baik itu Alkitab maupun pengkajian Al Quran

    No one taught the bad things. Sekali lagi, hanya bersandar pada hidayah yang saya cari dan dapatkan.

    Mungkin benar, kita kembali pada kalimat : Untukmu agamamu dan untukku agamaku

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, itu kan kuncinya. Sebetulnya Al Kafirun aja juga kan ungkapan kemarahan, tapi makin ke sini maknanya melunak menjadi toleransi :D

      Delete
  5. penasaran pingin baca tulisan beliau

    ReplyDelete
    Replies
    1. digoogling aja Mas, pasti ketemu nama anaknya Afi Nihaya Firdausa, tapi kalo boleh saya usul baca juga counter part-nya yang ditulis Gilang Kazuya Shimura ya, coba renungkan mana yang lebih terasa benar oleh Mas Ahmad

      Delete

Terima kasih sudah mampir dan membaca postingan saya, silakan tinggalkan jejak ya... insya Allah saya berkunjung balik

Back
to top