JALAN-JALAN KE KUALA LUMPUR BERKAH NGEBLOG PART 3 MASIH TENTANG MELAKA



Baiklah saya lanjut cerita jalan-jalannya ya, ini part ketiga. Jadi, kota Melaka ini diberi "judul" Bandaraya Melaka Bersejarah (lihat foto diatas tapi abaikan penampakan tak diundang itu ya 😁), karena Melaka merupakan salah satu negeri di Malaysia, kalau di Indonesia negeri itu semacam provinsi lah ya. Kok ada tagline bersejarahnya? Iya, karena di kota Melaka ini bertebaran peninggalan-peninggalan bersejarah dari masa penjajahan. Tahu nggak kalau Malaysia itu dijajah oleh empat bangsa? Yaitu Inggris, Belanda, Portugis, dan Jepang. Kenapa? ya apalagi alasannya kalau bukan rebutan Melaka ini lah, karena selat Malaka kan gerbang perdagangan internasional dan sangat penting pada masa itu.


Nah itu sedikit sejarah Melaka, kalau mau lengkap buka lagi aja buku pelajaran sejarahnya ya ^_^. Balik lagi ke cerita jalan-jalan, jadi seperti yang udah diceritakan di bagian kedua, rombongan terpisah jadi tiga kelompok ceritanya untuk menghemat waktu. Belinda dan Gloria karena nggak menunaikan sholat jalan berdua, Bu Yusti menemani Datuk Alan sampai drivernya datang, saya bersama Alida, Herva dan Hana bergegas mencari tempat sholat. Tujuan kami adalah Surau Warisan, yang lokasinya masih di sekitar Red Square.

ini bangunan Surau Warisan, lokasinya strategis berada di persimpangan antara Red Square, Jalan Merdeka dan jalan yang menuju Jonker Street. Di samping kirinya ada sungai yang cukup besar dan menjadi spot wisata juga.

Ini bagian dalam Surau Warisan, bagian utamanya sudah tidak digunakan untuk tempat sholat, tapi dijadikan semacam museum mini berupa foto-foto yang berkaitan dengan sejarah berdirinya surau ini.
Awalnya kami sempat ragu apakah surau ini masih difungsikan sebagai tempat sholat, karena nggak tampak rame orang sholat di situ. Bagian bawah surau sudah dijadikan sebagai pusat informasi untuk turis. Tapi, untungnya dengan semangat investigasi kami tetap masuk saja ke surau dan akhirnya menemukan ruangan tertutup, yang ternyata difungsikan sebagai tempat sholat untuk perempuan lengkap dengan tempat wudhunya. Lega...

Selesai sholat kami sepakat mengitari Red Square dan mengambil arah menuju Jonker Street. Ada apa sih di Jonker Street? Kabarnya Jonker Street itu pusatnya barang-barang vintage. Nah, yang suka benda-benda unik era vintage di sini tempatnya. Sayangnya waktu kami kan mepet banget, jadi nggak sempat untuk menyusuri Jonker Street secara seksama. Padahal lagi, di waktu malam itu Jonker Street adalah surganya kuliner malam... aaaak... kenapa nggak nginep di Melaka sih semalam aja πŸ˜₯

Lumayan bisa mejang di ujung jalannya juga 😊
Di sekitar Jonker Street itu bertebaran toko suvenir dan toko oleh-oleh terutama makanan khasnya. Ini yang saya sesali, soalnya memutuskan nggak beli makanan kering yang tampak yummy itu, dan ternyata di KL nggak nemu lagi 😭
Tujuan kami sebetulnya ke tembok yang bertuliskan Melaka World Heritage itu (foto saya di postingan bagian kedua) yang letaknya di ujung jalan area Red Square, tapi kami sengaja mengambil rute yang berbeda, dari area Jonker Street kami menyusuri jalan yang disebut Lorong Hang Jebat. Tanpa bekal petunjuk atau peta, kenekatan kami berbuah pada temuan spot-spot menarik πŸ˜‚.

MUZIUM BUDAYA CHENG HO

Ternyata di lorong ini ada musium penting yang berisi sejarah dan peninggalan dari perjalanan Laksmana Cheng Ho ke Melaka. Kebetulan tahun ini, Melaka sedang memperingati 661 tahun pelayaran sang Laksmana ke Melaka.

Kalau mau lihat-lihat sampai ke dalam pengunjung harus bayar RM 10, tapi berhubung lagi-lagi kami nggak punya waktu banyak untuk melihat-lihat sampai ke dalam, jadi harus cukup puas lihat-lihat dan foto-foto di lobby saja. Sayang banget... kalau lihat dari situs lain, isi museum ini menarik banget, ada diorama seukuran badan manusia yang menggambarkan pertemuan Laksmana Cheng Ho dengan Sultan Malaka, juga banyak benda-benda bukti peninggalan dari Laksmana Cheng Ho. Sebetulnya, kapan lagi ya kita bisa belajar sejarah perjalanan syiar Islam beliau, tapi ya mau gimana lagi kalau jadwal ketat *sigh*

Musium Budaya Cheng Ho tampak depan, sepertinya kecil saja tapi ke dalamnya luas dan terdiri dari dua lantai
Miniatur kapal yang digunakan oleh Laksmana Cheng Ho dalam perjalanannya menyiarkan Islam
sebagian benda-benda dan buku-buku yang berhubungan dengan sejarah Laksmana Cheng Ho di Melaka
Nah, kira-kira seperti inilah sosok Laksmana Cheng Ho 

RIVERSIDE MELAKA

Setelah puas melihat-lihat di Musium Cheng Ho, kami melanjutkan perjalanan dan menemukan spot unik buat foto-foto sejenak. Jadi itu tempatnya cuma lorong di antara dua bangunan tapi cukup luas, di tengahnya ditanami pohon-pohon berukuran sedang tapi cukuplah buat bikin teduh dan asri. Di salah satu dinding dibuat semacam mural abstrak warna-warni yang asyik banget jadi background foto.


Nah ini bukti kalau saya berfoto di bawah pohon-pohon
yang ditanam Duta Besar China untuk Malaysia 😊

Setelah puas berfoto-foto, kami melanjutkan perjalanan dengan menyusuri jalan sepanjang Sungai Melaka. Sangat menarik dan bikin betah. Saya yang melankolis langsung mengkhayal tinggal di tepian sungai itu, setiap pagi dan menjelang petang duduk-duduk di teras, nulis atau sekedar ngopi dan melamun πŸ˜‚asal jangan banjir aja ya kalau hujan.

Saya juga melewati kafe kecil yang sepertinya nyaman untuk ngopi dan ngobrol santai. Terbayang suasana malam harinya yang romantis dengan lampu-lampu bertiang panjang yang berjajar di sepanjang tepian sungai.

Saya sempat terpisah jarak dengan Alida dan Herva yang sudah jalan duluan (dan cepet banget jalannya), maklum saya kan boyot dan masih sempet aja foto-fotoin spot yang menurut saya menarik, walau ada Hana di belakang saya, gadis penyuka buku itu juga sepertinya masih sibuk dengan spot foto buat buku-buku yang dibawanya, otomatis pada saat itu saya sendirian di jalanan yang sepi itu. Saya melewati sebuah rumah yang sedang direnovasi, kemudian ada beberapa tukang-tukangnya yang menyapa saya dengan bahasa Indonesia yang fasih bukan melayu, ah sepertinya mereka mas-mas bangunan dari tanah air, tapi saya cuma senyum aja, terlalu takut membalas sapaan mereka karena sadar saya sedang sendirian. Waspada kan sah-sah aja toh... kalau saya tiba-tiba ilang kan teman-teman yang ada di depan dan belakang saya juga nggak kan tahu. Serem ah, bersyukur saya baik-baik saja sampai sekarang.


Ini view Sungai Melaka (1)
View Sungai Melaka (2)
Jadi, sungai ini pun diberdayakan sebagai spot wisata. Ada cruise berdurasi 45 menit dengan kapal seperti tampak pada foto, menyusuri kanal ini dengan view menarik di kanan-kiri. Katanya sih ada musium hidup yang disebut Kampung Morten, yaitu pemukiman khas Melayu yang masih asli tapi entah di mana letak persisnya. Apakah rumah-rumah yang saya lewati itu yang disebut Kampung Morten, saya lupa nanya-nanya, yang pasti banyak gedung-gedung kuno yang bisa dinikmati sepanjang tepian sungai itu, diantaranya seperti tampak di foto bagian tengah adalah Gereja St. Francis Xavier yang dibangun pada tahun 1874 dan tampak masih kokoh sampai saat saya melihatnya.

Setelah sekitar sepuluh menit berjalan dengan kecepatan kura-kura, akhirnya kami menemukan si tembok bersejarah itu. Ironisnya monumen Unesco World Heritage untuk Melaka ini kok kurang berwibawa ya, nemplok gitu aja di dinding yang sedianya adalah bangunan restoran. Apalagi area itu dipergunakan untuk parkir motor dan kalau malam hari sepertinya dipakai untuk area kuliner kaki lima. Ah, kurang gaya deh... coba dibuat semacam tugu khusus.

Ini yang saya maksud, kurang ayik kan ya... itu yang parkir ganggu deh ^_^

SITUS PURBAKALA DI TENGAH KOTA

Di dekat tembok itu ada "sesuatu" yang menarik perhatian saya. Sepertinya familiar karena saya pernah melihat yang seperti itu di tanah Banten ini, reruntuhan Keraton Kaibon. Wah, ada situs purbakala di tengah kota, dan ketika saya dekati, betul itu situs arkeologi.


Situs arkeologi ini disebut Tapak Bastion Victoria. Bastion Victoria ini adalah sisa-sisa dari Benteng Formosa yang dibangun pada masa pendudukan Melaka oleh Portugis. Benteng Formosa ini merupakan benteng pertahanan bangsa Portugis untuk berlindung dari serangan musuh dari laut. Namun, benteng inilah yang pertama ditaklukan dan dihancurkan oleh Belanda pada saat mereka datang untuk merebut Melaka dari tangan Portugis.

MUZIUM MARITIM ARKEOLOGI

Musium ini letaknya di pojokan gedung Malaysia Youth Museum itu, kecil banget cuma seukuran kamar tidur sedang lah. Karena letaknya yang nggak istimewa ini lah sepertinya nggak menarik buat dikunjungi, tapi isinya berisi benda-benda purbakala yang bernilai tinggi lho, seperti artefak-artefak dan mata uang kuno peninggalan dinasti Ming.





Hwaaah... peninggalan Inggris sudah, peninggalan jaman penjajahan Belanda sudah, peninggalan bangsa Portugis juga udah nemu, yang belum peninggalan penjajahan Jepang ya... tapi lumayan capek lho napak tilas di kawasan kota tua Melaka *tumben saya kuat jalan jauh dan lama - berkah beli sendal jepit πŸ˜‚*

Akhirnya kami bertemu lagi di taman air mancur sekitar jam 5 sore, Alida, Herva dan Hana masih sempat naik ke memorial hill yang sempat sedikit saya ceritakan di bagian kedua, saya udah nyerah dan memilih duduk-duduk aja sambil minum-minuman dingin. Sebetulnya ada sejenis jajanan yang menarik mata saya, minuman yang bisa dinikmati langsung dari buah semangka utuh, saya pikir sih itu jus semangka tapi saya nggak sempet nyicip karena antreannya panjang banget jadi males deh.

Setelah salah seorang mengirim pesan pada Bu Yusti, beliau pun tak lama datang dan rupanya daritadi ngadem di Hard Rock Cafe yang letaknya masih di area Red Square juga. Eh, tapi Bu Yusti masih mau ngajak jajan sore nih sebelum pulang ke KL. Waaaah... yuk deh Bu Yusti... kami mah sepakat aja kalau diajak jajan.

JAJAN SORE DI MELAKA
kami dibawa Miss Mona ke kawasan Plaza Mahkota. Sepertinya di area ini banyak tempat kuliner yang asyik-asyik. Menurut cerita dari Miss Mona, di kawasan ini mulai sore sampai malam terutama di akhir pekan menjadi tempat pasar malam. Ow, pantas sepertinya kawasan ini ramai sekali.

Salah satu spot yang saya temukan dan bikin saya pengen belok dan menyusuri jalan itu *hehe* Sayangnya tujuan kami bukan ke situ, tempat jajan kami letaknya sekitar dua blok dari sini.
Tempat jajan kami sore itu adalah Nadeje Patisserie Cafe, juaranya mille crepe cake atau kalau di sini lebih dikenal sebagai layer cake. Jadi kafe ini memang dikenal sebagai "The Origin of Mille Crepe" se-Malaysia. Penggemar kuliner yang udah pernah ke sini bakal menjamin kalau rasa layer cake di tempat ini nggak tertandingi. Masa sih? mari kita coba...


Sebetulnya masih ada rasa berbeda yang dipesan tapi nggak keburu difoto karena pemiliknya udah  nggak sabar buat nyicip, jadi bentuknya udah nggak asyik buat difoto  πŸ˜‚

Dan setelah satu suapan... hmmfffhhh... rasanya satu loyang bisa abis sendiri deh. Warbiyasaaa... apalagi yang rasa originalnya, enaaaak bangeeet... walau yang pakai rasa juga nggak kalah yummy. Ufffh males pulang rasanya, betah banget ngafe di sini *wekekeke...* tapi apa daya perjalanan ke KL masih jaoooh dan masih dua jam lagi harus ditempuh.

Jadi demikianlah teman-teman, perjalanan singkat tapi seru kami di Melaka ditutup dengan yang manis 😍

Udah selesai? Beluuum... masih ada kisah berikutnya di Kuala Lumpur... ikuti terus ya... belum bosen kan? Jangan yaaa... oke, sampai ketemu lagi di Part 4... bye now.




Love,


CONVERSATION

15 komentar:

  1. Jalan seharian ditutup dengan makan itu menenangkan... 😁

    ReplyDelete
  2. LAksamana Cheng Ho ni berarti masih ada hubungannya ma yg di Semarang ya?
    Nunggu kelanjutannya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya sama lah orangnya, mungkin sebelum ke nusantara singgah dulu di Melaka

      Delete
  3. Wiiih, pengen. Belum pernah dapat kesempatan melancong ke luar negeri. :'D

    ReplyDelete
    Replies
    1. yuk segera atuh... mumpung masih dikasih umur :D

      Delete
  4. Keren. Pengen tahu rasanya alan2 ke Malaysia

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah, ya, Mbak. Aku kepingiiiin >_<

    ReplyDelete
    Replies
    1. ayok atuh... niatkan insya Allah terwujud

      Delete
  6. Replies
    1. gasia-sia kita jalan kaki papanasan yah hahaha

      Delete
  7. Aih cakeep banget mba Ina tulisannyaaaaaa ....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ho oh.. aku tdk sempat foto2 tempat bersenarah seputaran itu. Nanti mau ijin share link yah Mba. Biar nambah pengetahuan juga buat yang lain yangblum ke sini. -Belinda-

      Delete
    2. secakep sendal jepit dadakan itu gak? hahahah

      Mbak Belinda silakan mbak...

      Delete

Terima kasih sudah mampir dan membaca postingan saya, silakan tinggalkan jejak ya... insya Allah saya berkunjung balik

Back
to top