SEWING IS FUN: MENJAHIT TIDAK MENAKUTKAN LAGI

by - 11/06/2016



Persinggungan saya *tsaaah* dengan dunia jahit-menjahit dimulai ketika saya masih kanak-kanak, sekitar usia sekolah dasar. Mami membuka usaha jahitan di rumah. Bukan terima jahitan dari perseorangan gitu, tapi pesanan khusus dari butik-butik di kota Bandung. Pihak butik akan menyediakan bahan-bahan yang sudah dipotong, kemudian di rumah tinggal jahit. Semacam konveksi gitu deh.


Waktu itu ada tiga orang tukang jahit, peralatannya juga cukup lengkap sampai mesin obras dan mesin kancing aja punya sendiri. Saya sesekali suka diajak Mami kalau belanja kebutuhan jahit (kalau nggak salah) di Pasar Jopankar *bener gak sih nulisnya ya* lupa dimana lokasi pastinya Pasar Jopankar ini, kalau nggak salah di sekitar alun-alun Bandung. Hmmm... masih ada nggak ya tempat itu.

Tapi, waktu kecil itu saya trauma sama mesin jahit. Dengar bunyi dinamo (pedal jahit) dan bunyi jarum mesin jahit yang gerak turun naik dengan cepat itu saya takut. Apa yang membuat saya parno sama mesin jahit, saya juga udah lupa. Tapi biasanya kalau saya takut sama alat-alat yang digerakkan oleh listrik, pasti gara-gara pernah kesetrum.

Kemudian sejarah jahit-menjahit saya nyambung lagi ketika duduk di bangku SMA. Jaman itu kelas satu masih mendapat pelajaran keterampilan, salah satunya menjahit dan tugasnya menjahit rok. Karena keterbatasan waktu dan mesin jahit yang tersedia di sekolah, tugas menjahit boleh dikerjakan di rumah. Demi kepraktisan, saya bawa kain tugas saya ke Pasar Kosambi, di sana banyak penjahit-penjahit handal yang dengan kecanggihannya menjahit rok lurus hanya sekedipan mata aja. Oke, ini perbuatan kurang baik ya adik-adik, jangan ditiru.

Setelah itu blaaas... nggak lagi-lagi terlibat dengan urusan jahit-menjahit kelas berat kecuali jahit kancing dan ngesom (apa dong istilah bahasa Indonesianya) jahitan baju atau rok yang lepas.

Asli saya bukan istri binangkit-- julukan dari bahasa Sunda untuk perempuan-perempuan yang serba bisa dalam hal keterampilan terutama memasak dan menjahit, syarat menjadi menantu idaman jaman dulu-- memasak sekadar bisa dan bukan ahli, menjahit ya itu tadi. Apalagi setelah profesi "vermak lepis" :)))) semakin marak, ya saya tinggal mengandalkan mereka aja.

Tapi, waktu melihat pengumuman ada workshop jahit yang diadakan Kriya Indonesia bekerjasama dengan Brother, hati saya kok tergerak untuk mendaftar dan berterima kasih banget karena diikutsertakan oleh Mbak Astri. Jadilah saya menjadi salah satu peserta workshop jahit yang bertempat di booth Brother di arena Pekan Raya Indonesia minggu lalu.

Begitu datang, langsung disuruh latihan dulu menjahit lurus di secarik kain. Eh, kok saya langsung klik sama mesin jahitnya. Asli nggak ada perasaan takut-takut dan parno. Saya coba pedalnya, ternyata empuk dan suaranya halus banget, nyaris nggak ada suaranya. Bodi mesin jahitnya juga user-friendly dengan perpaduan warna ice-cream vanila dan strawberry... girly dan manis. Saya suka.


Dalam kesempatan workshop ini kami akan menjahit outer (pakaian luar). Mbak Astri sudah menyediakan pola dasar (dengan size untuk LD 100), bahan, dan peralatan jahit. Asyik...



Kemudian dengan telaten, Mbak Astri membimbing kami memasang pola dan menggunting bahan. Agak keringetan sih pas masangin jarum pentul untuk merekatkan kertas pola ke bahan, soalnya jarum pentulnya kurang tajam... hehehe...


Setelah bahan dipotong, proses me-lader pun dimulai dengan bantuan alat bergerigi dan kertas karbon berwarna. Gunanya untuk menandai garis jahitan. Supaya jahitan nggak melenceng sana-sini. Kejadiannya garis lader saya nggak bertemu sempurna antara bagian yang satu dengan yang lain, sebabnya menggunting bahannya aja nggak bisa lurus... hehehe... begitulah, saya memang nggak pernah lulus mata pelajaran menggunting tanpa garis, pasti mencong.

Walhasil jahitan saya melenceng nggak jelas dari garis yang wajar. Nggak sampai di situ aja kedodolan saya, saking asyiknya dan merasa gaya udah bisa menjahit... lubang tangan juga saya jahit... bwahahahah... Untunglah Bu Guru Astri sabar orangnya, dengan tekun akhirnya beliau menangani jahitan saya yang amburadul.

Selama workshop ini saya enjoy banget dan happy aja bawaannya. Walau sambil bercanda seru karena ada Jun The Clown yang hobi banget ngegodain Mak Tina *eh tapi Jun juga sigap menolong dengan menjadi tukang obras dadakan* tapi kami tetap fokus pada pekerjaan. Ada hal lain yang membuat saya terbantu banget dalam workshop ini, yaitu mesin jahit Brother. Mesin jahit Brother ini user-friendly banget seperti yang sudah saya bilang di atas.

Ini dia keunggulan mesin jahit Brother, yang keberadaannya sudah berumur lebih dari 100 tahun. Yap, mesin jahit Brother sudah diproduksi sejak tahun 1908, saudara-saudara...
  • Sistem gulung sekoci dan memasukkan benang ke jarum dengan cepat.
  • Lubang kancing otomatis dalam empat tahap saja.
  • Fungsi jahitan yang sudah terinstal di dalam mesin.
  • Pengaturan gigi/gauge atau set yang bisa dinaik-turunkan
  • Penyesuain panjang dan lebar jahitan.
  • Pemotong benang otomatis.
  • Dan fitur-fitur lainnya




Disamping model baju yang kami jahit memang simpel aja dan berkat bantuan mesin jahit Brother yang cepat, maka pekerjaan pun lancar jaya. Kain yang dijadikan contoh warnanya hitam tanpa corak, jadi Mbak Astri memberi arahan untuk membuat pemanis di outer kami. Caranya dengan menambahkan jahitan luar. Kami menggunakan fungsi jahitan/stitches no. 10. Gampang banget instalnya di mesin jahit Brother ini, tinggal putar tombol di atas sebelah kanan ke F (lihat foto mesin jahit yang utuh di atas) kemudian putar tombol di badan mesin jahit ke angka 10, selesai.


Hasil jahitannya tampak seperti bordiran. Sementara yang lain memilih warna putih untuk pinggirannya, sementara saya memilih warna merah. Bukan antimainstream, soalnya ada benang merah nganggur di salah satu mesin jahit, Mbak Astri udah keburu duduk di situ pas mau ngasih contoh pada saya, ya udah lanjut deh... tapi hasilna manis juga kok.




Ih, saya tekun banget loh dan berasa menjadi "istri binangkit" dalam dua jam saja. Ternyata seru juga ya menjahit. Tentu sudah pada tahu dong kalau menjahit ini bisa menjadi peluang bisnis. Selain baju, masih banyak lahan jahit yang bisa digarap seperti craft, boneka kain, dekorasi rumah, tas kain, dll. Beberapa teman yang memang tipe istri binangkit sudah mulai menekuni usaha jahit rumahan ini. Fighting!



Buat saya pribadi, tujuan ikut belajar menjahit ini selain trauma healing, punya juga sih cita-cita membuat dekorasi rumah sendiri, seperti sarung bantal kursi, taplak meja, ya... semacam-semacam gitu deh, kalau bikin baju sendiri entahlah ya... :)))

Selain mesin jahit, brother juga mengeluarkan produk-produk lainnya yang mendukung kegiatan jahit menjahit itu.

Mesin jahit dan bordir


Mesin bordir otomasis berbasis komputer

Mesin bordir berbasis komputer

Mesin obras

Ada keuntungan lain kalau membeli mesin jahit Brother ini. Setiap pembelian satu unit mesin jahit akan diberi bonus suku cadangnya, seperti  gambar di bawah ini.


Dengan hadirnya mesin jahit Brother model baru ini, kegiatan menjahit semakin praktis. Body mesin jahit yang berbahan ringan mudah dipindahkan, jadi menjahit nggak perlu tempat khusus seperti jaman dulu akibat meja mesin jahit yang berat. Sekarang menjahit bisa di mana aja, mau di kamar tidur, di dapur sambil nunggu masakan matang, di ruang tengah sambil nonton televisi, tapi kalau di kamar mandi saya gak menyarankan... *siapa tahu ada yang nekat lagi sembelit, sambil nunggu sesuatu keluar pengen sambil ngejait* jangan ya... nanti kesetrum kan berabe.

Menjahit nggak susah kan? tertarik kan? Yuk dicoba menjahit dengan mesin jahit Brother. Share hasil jahitanmu di sosmed ya...


Ini dia murid-murid padepokan jahit yang ceria dan berbakat :))
Sampai ketemu lagi!


Love,

You May Also Like

5 komentar

  1. Sama mbak saya juga kaku menggunakan mesin jahit yang lama, yang di injek sama diputar. Senangnya sekarang ada mesin jahit Brother yang mempermudah pemula seperti saya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya malah takut denger suara jarum itu loh gejes gejes gejes hahaha... kemaren waktu workshop mah nggak... :D

      Delete
  2. aku suka banget menjahit mbak toss dong..apalagi kalau mesin jahitnya brother jadi rajin ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah Mbak Prana memang istri binangkit... saya baru yakin kemaren itu pas ikut workshop, jadi gemes pengen bikin ini itu :D

      Delete
  3. Mesin jahitnya lucu dan imyyuuut.. tapi belum tentu saya bisa makenya :D

    ReplyDelete