AURA POSITIF DAN BEBAS KELUH DAPAT TERCAPAI DENGAN PASSION DAN PARTNER YANG TEPAT


Kalau kamu pengguna sosial media yang aktif, terutama Facebook, pasti sudah jutaan kali dong menemukan status beraroma curhat (bahasa halus untuk berkeluh-kesah). Saya juga pernah kok jadi pelaku status curhat di Facebook, tapi... sekarang pengen insyaf dan mulai belajar menahan diri, nggak lagi menjadikan curhat di status jadi satu kebiasaan. Beberapa kali membaca status teman yang bernada curhat dengan kadar yang agak keterlaluan (menurut saya), kok jadi risih sendiri ya. Dampak positifnya, saya jadi berpikir ulang kalau mau nulis status dan nggak sembarang "meludah" lagi.


Selain itu, komentar orang kalau merespons curhat detected di status, rata-rata bunyinya seragam dengan memakai istilah "kurang piknik", yang bagi saya konotasinya adalah tuduhan kurang bahagia. Ah, kalau saya sih nggak mau dong dituduh kurang bahagia. Walau kenyataannya memang demikian, jangan sampai ketidakbahagiaan kita terdeteksi publik *sok seleb* 😀

Belakangan ini home Facebook saya ramai oleh status beraroma curhat para isteri newly-wed dan mahmud beranak satu, dengan bunyi seragam soal pekerjaan rumah tangga yang nggak habis-habis dari pagi sampai malam. Ah, masa sih?

Kalau mereka sebegitu kerepotannya, bagaimana saya mamak-mamak beranak empat, ngurus rumah tangga, bekerja di rumah juga. Eh, ini bukan mau show off lho, Dik-adik, kebetulan saya sudah hidup lebih lama dan cukup berpengalaman dalam urusan rumah tangga, maka ada dorongan untuk berbagi pengalaman, supaya hidup ini nggak melulu diwarnai dengan keluhan.

JIKA KEBAHAGIAAN TERLALU MULUK, SETIDAKNYA BUAT HATIMU TENTERAM, COBALAH SELIPKAN PASSION DI SELA-SELA PENATMU

Sebetulnya apa yang menyebabkan kita melontarkan keluhan? ukuran saya adalah hati yang nggak tenteram. Bohong kalau ada yang bilang, nggak kok saya baik-baik aja, happy kok, tapi keluhannya berderet-deret di statusnya. Lho, katanya hidupnya happy, tapi kok masih ngeluh-ngeluh? ada yang salah kan?

Saya sok tahu? Mungkin, tapi... ini analisisnya based on true story, lho. Kisah nyata siapa? ya ini dia, yang nulis 😁.

Mengeluh adalah ciri atau tanda awal orang nggak bahagia. Seperti kanker stadium awal, jika dibiarkan akan menyebabkan kerusakan yang lebih besar. Pemicunya bisa berawal dari kelelahan, ketidakpuasan, kurang ikhlas dan kurang bersyukur. Semua hal-hal negatif itu bikin penat kan ya? Dampaknya, jika kita nggak segera mengantisipasi, energi negatif lah yang akan berkuasa.

Apa yang bisa kita lakukan untuk mengantisipasinya? Kalau saran saya sih sederhana aja, temukan hobi atau passion yang bisa mengalihkan perhatian sejenak aja, sebentar aja, dari rasa penat itu.

Mana ada waktu! Mana sempat! 

Luangkan waktu dong! *tuh kan jadi aja ikut-ikutan berseru*

Seseorang yang ingin menjadi ahli, dalam bidang apa pun, apakah itu atlit, ilmuwan, pemusik, penulis, etc, etc, harus mau meluangkan waktu untuk berlatih. Karena hanya dengan sering latihan lah, keahlian mereka bakal terasah dan menjadi tajam. Itu mah sudah harga mati, kawan.

Penat itu jika dibiarkan lama-lama akan menjadi kerak energi negatif yang membuatmu hobi berkeluh kesah. Maka, supaya pikiran kamu bisa kembali jernih dan hanya terisi oleh energi positif, kamu harus berlatih mengikis kerak itu pelan-pelan. Caranya? Saya melakukannya dengan menikmati hobi.

Hobi saya apa? Sekarang saya sedang hobi nonton drama korea. Passion saya selain buku, ada di dunia hiburan. Jangan berpikir nggak ada manfaatnya lho nonton drama korea itu. Di postingan lain saya sudah bercerita panjang, alasan saya jadi penggemar K-Shows, mulai dari dramanya sampai beberapa acara variety show-nya.

Waktu yang saya punya dalam sehari juga sama kan, hanya 24 jam aja. Dan dari 24 jam itu, harus saya bagi untuk beberapa kegiatan. Waktu produktif saya juga sedikit. Baru sekitar jam delapan pagi saya bisa mulai bekerja, ketika rumah sudah kosong supaya bisa fokus hanya pada pekerjaan. Waktu efektif untuk kerja paling hanya tiga jam aja. Antara jam 11.00-12.00 saya harus menyiapkan makan siang. Jam 13.30 anak bungsu saya sudah pulang sekolah, otomatis me-time is over berganti ke kid-service mode on.

Gimana dong menyiasati waktu supaya kita juga bisa menuntaskan hobi? Luangkan waktu sesedikit apa pun untuk mengerjakan hobi. Dan jangan lupa, kita para perempuan terkenal jagonya multitasking. Saya sering kok masak sambil nonton drama korea 😁.

Beruntung sekarang ini kita hidup di era teknologi digital, karena saya nonton dramanya via website, jadi saya nggak perlu instal televisi di dapur. Cukup bawa notebook dan tongkrongin di lemari dapur. Dengan begitu, di sela-sela kegiatan goreng-menggoreng, saya bisa menikmati drama favorit tanpa takut masakan gosong. Praktis, kan?

Lagi seru-serunya nonton drama Romantic Doctor Teacher Kim ini, eh jadwal masak telah tiba, jadi posisi nonton pindah ke dapur.  Drama selesai, sop dan ayam goreng pun matang. The power of multitasking 😉
Coba deh yang berminat jahit, luangkan lima belas menit atau sepuluh menit aja buat mengerjakan jahitan sederhana, jahit baju boneka kek, nyulam, atau bikin craft. Yang minatnya bercocok-tanam, coba isi kaleng-kaleng bekas susu dengan bibit tanaman. Yang minat baca buku, jadwalkan membaca satu bab atau minimal tiga halaman deh setiap ada waktu luang.

Dari waktu yang sebentar-sebentar itu, lama-lama keahlian multitaskingmu akan terlatih dan tanpa terasa penatmu habis, karena semua penat itu sudah beralih menjadi kegiatan positif melalui hobimu. Kamu bakal kaget sendiri dengan berkurangnya status curhatmu di media sosial. Kalau belum mampu piknik ke tempat yang jauh, anggap saja melakukan hobi itu sebagai piknikmu. Kalau kamu sudah menjadi insan yang positif dalam kesehariaan, nggak akan ada lagi orang yang meresponsmu sebagai orang yang kurang piknik, ya kaaan... 😀

MENGERJAKAN SESUATU ITU SOAL PILIHAN, DIKERJAKAN SEKARANG ATAU MENUNDA DULU, FLEKSIBEL AJA

Kok gitu? Ya kalau nggak ditanamkan di benak seperti itu, selamanya kita bakal terbebani buat mengerjakan sesuatu, apalagi yang nggak kita suka atau bikin capek.

Sub judul di atas saya sesuaikan dengan kewajiban mengurus rumah tangga. Sebetulnya, nggak ada yang memaksa kita untuk melakukan semua pekerjaan rumah tangga itu kan? Saya pun jika kondisi fisik dan psikis sedang nggak fit, nggak pernah memaksakan mengerjakan sesuatu. Tunda aja sampai kondisi badan dan psikis kondusif, barulah kita tuntaskan pekerjaan yang tertunda itu. Dengan begitu, kita terbebas dari keluh-kesah yang bisa mengurangi nilai pahala, soalnya mengurus rumah tangga itu, hitungannya ibadah juga kan.

Beberapa tahun ke belakang saya aktif menulis buku. Menyenangkan sih, walau nggak lepas dari tekanan juga. Ada beberapa faktor yang membuat saya merasa tertekan, misalnya permintaan dari penerbit yang nggak bisa terpenuhi, deadline dan revisi dari Editor yang bertubi-tubi, penolakan naskah, sampai angka penjualan buku yang jeblok.

Saya sempat kerja kantoran lagi untuk berganti suasana dulu sejenak. Eh, bukannya mengurangi stress malah datang sumber stress yang baru. Saya nggak happy dan akhirnya memutuskan bekerja di rumah lagi. Kebetulan dunia blogging sedang marak, jadi saya kembali menekuni dunia blogging ini. Enaknya kerja sebagai freelancer itu, selain lebih rileks, ya itu dia, bisa memilih mau kerja apa nggak 😀.

Sekarang dunia blogging juga bisa mendatangkan income, saya tinggal memilih jenis pekerjaannya. Kalau subjeknya sesuai dengan minat dan saya mampu untuk mengerjakannya, maka saya ambil. Saya nggak ingin serabutan mengambil pekerjaan. Subjek yang nggak menjadi minat dan di luar kemampuan saya, otomatis saya skip, karena hasilnya nanti nggak akan maksimal.

Bekerja di rumah itu, enaknya bisa fleksibel karena nggak harus stay di satu spot aja. Apalagi sekarang saya bisa bekerja dengan mengandalkan notebook, jadi saya bebas menentukan posisi saat bekerja, mau sambil selonjor di sofa, di tempat tidur, di teras, bisaaa... kecuali kamar mandi.

Sebagai freelancer istilah #SwitchableMe itu sangat cocok. Untuk menjaga kestabilan emosi, seorang freelancer harus pintar-pintar memainkan tombol switch dalam dirinya. Kenapa coba?

Kalau sedang dalam kondisi full power, pekerjaan bisa saya selesaikan dalam sekali duduk. Sebaliknya kalau sedang low battery, pekerjaan dicicil-cicil aja, pokoknya bisa selesai memenuhi tenggat waktu. Nggak perlu dijadikan beban, bekerja kan harus happy supaya hasilnya maksimal.

Ada waktunya saya merasa capek dan bosan, tinggal hidupkan tombol switch dalam diri saya sebagai seorang penulis dan pindah ke santai mode, menikmati peran sebagai ibu rumah tangga sekaligus menuntaskan hobi dengan sepenuh jiwa. Dengan demikian keseimbangan pun terjaga dan hati menjadi tenteram.

Sayangnya partner kerja saya sekarang ini, kurang mendukung ritme kerja yang swing mode on alias tergantung kemana mood sedang bertiup. Maklum lah ya, notebook generasi sekian yang sudah berumur, body berat dan performanya juga lamban, jadi nggak bisa diajak lari kencang kalau sedang memburu tenggat akibat mood baru muncul *janga ditiru ya*.

MENGERJAKAN PEKERJAAN ATAU HOBI SAMA-SAMA HARUS DIDUKUNG PARTNER YANG MUMPUNI SUPAYA BEBAS STRESS

Dan kemudian saya menemukan Switch Alpha 12. Begitu pertama melihat, mungkin seperti Ko Nan Gil memandang Hong Na Ri (dua tokoh utama di drama Stranger in My House). You are the one and only, gitu. Seperti nemu jodoh untuk teman hidup 😀. Kenapa begitu? Ya begitu dong, karena notebook besutan ACER ini, kalau ditimbang-timbang ternyata paling sesuai dengan kebutuhan saya.

Desain Ramping dan Fleksibel

source : www.acerid.com
Desain ini cocok untuk tipe pekerja yang nggak bisa stay kerja di satu spot, seperti saya. Soalnya kondisi badan yang rileks berperan penting pada kelancaran kerja dan produksi ide untuk bahan tulisan. Body yang ringan dari notebook ini nyaman dibawa kerja sambil selonjoran. Tinggal dipangku aja mengetik jadi nyaman. Sekali waktu kalau saya bosan kerja di rumah, pengen cari suasana segar, kerja sambil ngopi misalnya, atau ada pekerjaan di luar kota, notebook ini nyaman dibawa bepergian.

Kelebihan lain ada di docking keyboard yang bisa dilepas-pasang dengan mudah dan aman karena dilengkapi dengan engsel magnet. Nah, jadi kebiasaan masak saya sambil nonton pun tercover dengan sempurna. Coba bayangkan, saya nggak perlu gotong notebook ke dapur lagi kan, cukup lepaskan docking keyboard dari screen, notebook pun berubah menjadi tablet. Aman dibawa ke dapur karena screen dilengkapi dengan kickstand yang bisa diatur sudutnya sesuai kebutuhan. Atau pas kita pengen liburan dan benar-benar niat meninggalkan pekerjaan, tinggal bawa screennya aja buat alat hiburan. Perfect!

Buat penggemar drama korea yang suka nekat nonton maraton berepisode-episode, pasti bahagia karena resolusi layar yang besar (2160x1440 pixel) dan dilengkapi tenaga IPS yang membuat warna dan gambar lebih tajam. Kita juga nggak perlu khawatir mata lelah atau sakit, jika harus berlama-lama menghabiskan waktu di depan notebook ini, karena  layarnya sudah dilengkapi dengan teknologi BlueLight Shield yang berfungsi mengurangi emisi cahaya biru pada layar.

source : www.acerid.com

Keyboardnya yang super tipis dilengkapi dengan backlit, jadi mengetik di tempat redup cahaya pun nggak masalah lagi. Oke, sengketa dengan suami gara-gara saya harus lembur kerja dengan lampu terang benderang di kamar, sekarang ada solusinya.
Sistem Pendingin Tanpa Kipas

Sebenarnya, saya nggak pernah berniat meng-abuse notebook. Tapi seringkali hal tersebut tak terhindarkan. Setelah saya selesai kerja, hiburan saya kan nonton drama atau variety show favorit, setelah itu gantian anak yang pakai buat nonton Youtube, setelah itu kalau anak saya main ke luar saya pakai lagi buat nerusin kerja atau nyambung nonton, bisa sampai malam terus seperti itu. Kalau malam-malam saya kerja sambil memangku notebook, kadang-kadang terasa panas jadi nggak nyaman, belum lagi bunyi kipasnya yang mengganggu.

Barulah pada Switch Alpha 12 ini saya menemukan teknologi pendingin tanpa kipas alias fanless, karena notebook ini menggunakan teknologi Acer LiquidLoop. Mekanismenya sih ada pipa yang diinstal kemudian diisi dengan cairan pendingin, untuk menstabilkan suhu prosesornya.

source : www.acerid.com
Performa Tinggi

Soal performa nggak perlu diragukan lagi. Switch Alpha 12 dilengkapi prosesor dari Intel Core i series generasi keenam. Notebook ini tersedia dalam dua pilihan prosesor, yaitu Intel Core i5 dan Intel Core i7.  Untuk pekerja yang mengandalkan performa komputer seperti saya, pasti akan sangat terbantu sekali. Urusan riset untuk bahan tulisan pun menjadi mudah dan cepat, karena bisa membuka banyak file di banyak windows tanpa hambatan, upload gambar, download video atau film untuk referensi dan proses desain untuk infografis juga bisa dikerjakan lebih cepat.

source : www.acerid.com

Cita-cita Jangka Menengah

Pokoknya Switch Alpha 12 ini udah menempati urutan pertama dalam list cita-cita jangka menengah saya. Mengingat harganya yang lumayan buat ukuran dompet (saya), jadi harus realistis lah, nggak bisa langsung comot aja kayak nyomot risoles, perlu waktu buat nabung dulu. Nah, semoga rejekinya lancar dan pos tabungan untuk menyunting notebook idaman ini cepat penuh. Dengan demikian hati saya pun semakin tenteram *haha*.

Doakan ya, teman-temaaan...



Love,







CONVERSATION

18 komentar:

  1. Jangan ngeluh. Noted. Ngeluh memang temannya kegagalan. :D jadi gak ikhlas mau ngerjain apa-apa.

    By the way, goodluck ya... Itu Acernya bikin mupeeng...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya banget... makasih Vindy udah mampir

      Delete
  2. catet ni, bener banget, harus selalu hepi sehingga bisa mengerjakan banyak hal dgn maksimal. Aku juga perlu belajar i mba switch dari mommy rempong ke mommy apa2 :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe... banyak latihan yuk, saya pun masih belum 100% lulus latihannya :D, makasih udah mampir

      Delete
  3. Tidak mengeluh memang susah. Tapi kalau berusaha pasti bisa

    ReplyDelete
  4. Tapi cari partner yang tepat itu gampang2 susah :"D

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul, pertimbangan dan perbandingannya harus cermat ya :D

      Delete
  5. Impianku nggak muluk2. Pengen yang kaya di gambar itu aja

    ReplyDelete
  6. Replies
    1. itu dia yang perlu banyak latihan juga :D

      Delete
  7. aamiin... semoga segera terpenuhi cita-cita Mbak Inong dapet laptop baru ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dinaaa... makasih udah mampir good luck juga buat Dina ya

      Delete

Terima kasih sudah mampir dan membaca postingan saya, silakan tinggalkan jejak ya... insya Allah saya berkunjung balik

Back
to top