[REVIEW] MILEA SUARA DARI DILAN: SEBUAH KENANGAN DAN PELAJARAN

 


Judul Buku : Milea Suara dari Dilan
Pengarang : Pidi Baiq
Penerbit : Pastel Books
Cetakan : II, 2016
Halaman : 360 halaman
ISBN : 978-602-0851-56-3


Sinopsis :

Dilan, kelas dua SMA, jatuh cinta pada Milea, murid baru pindahan dari Jakarta. Beruntung Milea (Lia) menerima cinta Dilan, dan mereka pun menjadi sepasang kekasih. Asmara antara Dilan dan Lia berjalan lancar, bahkan keluarga mereka mendukung hubungan mereka. Lia digambarkan sangat dekat dengan Si Bunda (ibu Dilan), begitu juga Dilan dengan keluarga Lia. Walau demikian, hubungan mereka bukannya tak melalui lika-liku. Bermula dari rasa tidak suka Lia pada teman-teman main Dilan yang notabene anggota geng motor terkenal di kota Bandung (ssst... XTC apa Moonraker? ^_^).
Apalagi setelah Dilan diangkat menjadi panglima tempur geng motor itu. Puncaknya adalah ketika sahabat Dilan, Akew, tewas dikeroyok orang. Lia menyikapi peristiwa tersebut sebagai dampak dari pergaulan geng motor mereka, dan marah pada Dilan. Apalagi kemudian Dilan dan teman-temannya harus menginap di kantor polisi berkaitan dengan masalah itu. Bukan hanya Lia yang kecewa, orang tua Dilan pun merasa sangat kecewa dan meminta Dilan untuk sementara jangan pulang ke rumah dulu, sebagai hukuman. Nggak cukup sampai di situ, Lia juga minta putus dari Dilan. Lengkap lah sudah keruwetan Dilan. Belakangan, masalah Akew itu diketahui bukan berkaitan dengan geng motor mereka, melainkan salah sasaran akibat perselisihan dua wilayah. Nasi sudah menjadi bubur, hubungan Dilan dan Lia sudah telanjur renggang. Akankah mereka bisa memperbaiki hubungan mereka kembali? 

Kalau yang udah baca buku "Dilan dia adalah Dilanku Tahun 1991" sih udah tahu jawabannya ya kan. Tapi penjelasan akar permasalahan, penyelesaian dan seterusnya ada di buku ini.

Beda dengan dua novel sebelumnya, novel ini mengambil point of view-nya  Dilan. Jadi, ada beberapa bagian dari buku ini yang sengaja diarahkan ke novel-novel sebelumnya lewat bridge sentence: seperti yang ditulis Lia di bukunya. Otomatis buat yang ujug-ujug baca novel ini, pasti nggak ngerti dan akhirnya penasaran, akibatnya mau nggak mau harus baca novel pertama dan keduanya. Cerdas!

Kenangan

Percaya nggak kalau Dilan itu seumuran dan SMA-nya seangkatan sama saya. Mau bukti? Mari buka halaman 21, di situ disebutkan: Pada tahun 1977, kira-kira waktu masih umur 5 tahun, pernah ingin jadi macan, tapi itu gak mungkin kata nenekku. nenek tersenyum, sedangkan aku kecewa. Atuh sama dong tahun kelahirannya sama saya ^ _ ^  Bedanya tahun 1990 saya udah lulus, kenapa Dilan masih kelas dua SMA, ya? *ah sudahlah gak perlu dibahas yang penting dia cakep*

Kemudian, ceritanya lagi Dilan suka nonton bioskop sama ayahnya di bioskop Panti Karya. Wihihi... saya juga suka diajak Papih nonton di situ. Jangan-jangan kita pernah nontong bareng. Mang Oyo bubur aja, jualannya masih di Gardujati ya. Ini bubur enak dan legendaris lho di Bandung *kenapa jadi bahas bubur sih*

Membaca novel ini membuat saya terlempar ke masa lalu, masa kecil dan masa remaja berseragam putih abu-abu. Cara bertutur penulis yang jujur, membuat saya seringkali harus tersenyum karena terkenang pada kelakuan sendiri di masa-masa itu. Nggak jauh beda sama Dilan. Deskripsi keseharian dan pergaulan, nama-nama seperti Akew, Apud, Kang Ewok... terasa familiar.

Setiap tempat yang disebutkan di novel ini saya tahu, dialog dan gaya bercanda Dilan dan gengnya, ya begitulah gaya anak nongkrong di Bandung pada jamannya. Benar-benar ngena dan berhasil menghidupkan kenangan pada masa ketika saya menghabiskan masa remaja di Bandung. De javu. Bedanya, saya bukan anggota geng motor walau suka momotoran juga.

Bahkan sejarah pahit kota Bandung pun diceritakan dalam novel ini, yaitu ketika jamannya preman diberantas dengan tidak manusiawi. Petrus alias penembak misterius, sebutan untuk jagal yang menghabisi nyawa si preman. Jenazahnya dimasukkan ke dalam karung kemudian dibuang begitu saja di pinggir jalan atau di sungai. Dulu, kalau denger ada penembakan rasanya mencekam gitu.


Saya juga pernah SMA di tahun-tahun yang sama :))))

Tetapi, sempat terbersit juga rasa khawatir. Apakah anak-anak muda masa kini bisa menerima humor-humor retro yang bertaburan dalam novel ini. Misalnya di halaman 41: Berarti kamu juga harus tahu Kang Jeje. Dia itu orang kaya. Selain pejabat, dia juga pengusaha. Rumahnya mewah, lokasinya tidak jauh dari warung Kang Ewok. Sedangkan, tanahnya dan airnya, simpanan kekayaan. Sepertinya Penulis mencuplik syair lagu Ibu Pertiwi: hutan, gunung, sawah, lautan... simpanan kekayaan... *masih ada yang hapal lagu Ibu Petiwi gitu, di jaman sekarang?* :)))))

Belum lagi joke-nya Dilan kalau lagi ngegodain Lia suka jayus. Contohnya ada di halaman 105. Tapi bodor garing macam begitu, kalau di antara pasangan kekasih mah tetep aja jatohnya menyenangkan. Saya sebagai pembaca jadi ikut nyengir juga.

Karena penasaran saya sounding sama putri-putri remaja saya. Me: "Kalau anak-anak seumuran kamu baca novel ini pada ngerti nggak ya. Ini mah jaman mama sekolah" Jawabannya: "Temen-temen Kiki pada baca kok, novel Dilan. Katanya sih seru." Iya juga sih, pacarnya anak sulung pun sampai pinjem novel kedua (dan belum balik lagi padahal mereka udah putus) *kok curhat*

Salut lah sama penulisnya. Ternyata kisah kasih remaja jadul ini bisa tembus lintas generasi. Saingan sama generasi Rangga-Cinta, yakin bentar lagi ada tawaran untuk melayarlebarkan novel ini. Eish, Galih dan Ratna mau diremake juga lho.

Tapi saya tahu trik penulis, bagaimana menjembatani antara tahun 90-an dengan masa sekarang, sehingga pembaca usia muda di masa kini nggak culture shock. Dengan sabar penulis akan memberi penjelasan, setiap kali pembahasan menyentuh ranah jadul. Misal, George Michael penyanyi yang digandrungi Disa. Siapa sih George Michael itu ada penjelasannya (halaman 237). Bisa dicontoh, nih.

Pelajaran

Tidak cukup hanya kenangan. Di balik gaya bertutur yang cenderung slengean, novel ini juga memberi sesuatu. Ada hikmah di balik cerita. Ada pelajaran yang bisa kita petik.

Tentang menjadi orang tua. Dilan mendeskripsikan ayahnya sebagai sosok yang lucu. Walau beliau seorang tentara, tetapi tidak lantas menjadi "komandan" bagi anak-anaknya. Cara Dilan bercerita tentang ayahnya membuat saya tersenyum kecil, teringat pada Papih yang galak tapi sangat sayang pada saya, Si Bungsu. Saya jatuh suka pada sosok ayah ini. Mata pun ikut menghangat pada bagian cerita ketika Ayah meninggal dunia.

Sebagai seorang ibu, saya menghayati sikap Si Bunda yang memiliki anak yang unik seperti Dilan. Nggak mau dikekang pun karena dia merasa nggak ada masalah dengan apa yang dilakukannya. Persis! anak sulung saya. Seorang anak, melalui pov Dilan pun mengakui bahwa sikap Si Bunda adalah yang paling nyaman bagi seorang anak (halaman 51). Tokoh Bunda ini menginspirasi saya, bagaimana pendekatan kepada anak dengan cara-cara yang membuat si anak nyaman.

Tentang menjadi anak. Dilan merasa nggak ada yang salah dengan pergaulannya. Orang-orang baik itu saja yang mencapnya sebagai anak nakal. Katanya orang baik tapi kok mikirnya negatif *hahaha... cerdas emang Dilan ini*. Tetapi akan ada waktunya si anak akhirnya menyadari bahwa dirinya telah mengecewakan orang tuanya (halaman 210) dan hal itu mendatangkan rasa sesal.

Novel ini semoga menjadi pencerah untuk anak-anak yang masih belum menyadari kekecewaan yang dipendam orang tua mereka. Sikap yang mereka tahan itu justru supaya si anak nggak terlukai. Nah, kalau kamu merasa termasuk kategori ini, segeralah meminta maaf pada orang tua dan berjalan kembali di jalan harapan orang tua masing-masing, ya, Dek!



Dan ketika peristiwa tragis kematian Akew diikuti dengan permasalahan demi permasalahan, yang berdampak juga pada urusan asmaranya dengan Milea, Dilan menerimanya dengan sikap dewasa dan positif (halaman 226-227). Wahai, pemuda-pemudi yang galau di luar sana, contoh sikap Dilan ini ya, nggak pake mabu-mabuan, nggak pake swing-swingan, ngopi aja di warung Kang Ewok dan ngobrol sama Remi Moore, pikiran galau pun jadi ringan kembali.

Walau saya sempat kebawa sebal sama sikap Lia yang posesif, tapi salut karena penulis membuat Dilan tetap berpikiran positif. Sehingga nggak ada adegan dalam novel yang menggambarkan pertengkaran hebat antara dua insan itu. Kalau ada, aroma sinetron bakal merusak feel novel ini. Tapi, adegan Lia menampar Dilan, saya kurang suka, kok gak sopan sih cewek main gampar aja gitu. Ah, bukan cewek idaman saya *emang situ Dilan*.

Pikiran positif  Dilan terus bergulir sampai menjelang akhir novel. Pada bagian itu, Dilan menganggap masa lalu adalah guru. Pengalaman mengajarkan padanya bahwa dirinya tidak harus lebih baik dari orang lain, tapi berusaha lebih baik dari dirinya yang kemarin (halaman 352).

Selain dua hal penting di atas, yang bikin saya betah baca novel ini, karena udah terbiasa dengan cara bertutur penulis. Di balik gaya bertutur yang santai sesekali saya menangkap kalimat-kalimat puitis.  Kupejamkan mataku, tapi tak kunjung tidur. Sesekali kudengar suara mobil yang lewat di jalan depan rumah Burhan, selanjutnya adalah aku mendengar suara sunyi di suatu tempat di kejauhan seperti bermain lagu sedih di dalam ruangan (halaman 213). Mendengar suara sunyi... *like*

Belum lagi puisi-puisi konyolnya, tapi asyiknya puisi-puisi itu nggak kehilangan rasa romantisnya. Contoh, puisi untuk Cika di halaman 341. Membaca baris-barisnya bikin senyum-senyum geli, tapi dua baris terakhir... duh... :)))

Saya sudah khatam membaca Drunken series-nya Pidi Baiq, jadi nyaris jatuh sangka kalau novel ini adalah personal literature-nya Pidi Baiq yang lain. Gaya bertutur dan sense of humor yang senada dari tokoh Dilan ini dengan Pidi Baiq di Drunken series, bikin saya jadi pengen nuduh kalau Dilan itu sebenarnya bukan tokoh rekaan melainkan jelmaan si penulisnya sendiri *bener gaaaak*

Pokoknya saya harus berterima kasih sama Pidi Baiq, selaku penulis novel ini, atas kenangan-kenangan itu. Mengenang masa remaja putih abu-abu itu paling indah lah, apalagi Taman Centrum dan SMA 5 pun kepilem di novel ini. Hatur nuhun, Kang, almamater saya numpang beken :)))

Jadi, ya... begitulah kesan-kesan terhadap novel "Milea suara dari Dilan" ini. Ketika saya merasa sedih karena novel-novel romance masa kini kadang membuat saya terbengong-bengong nggak ngerti, terbitnya trilogi ini menjadi pelipur kerinduan saya pada romantisme masa lalu. Saya nggak bilang novel ini bagus, nggak bagus juga nggak, yang penting saya sukaaaaaaaaaaaaa.


Love,



CONVERSATION

10 komentar:

  1. Novel remaja lintas generasi pasti butuh trik untuk bisa cocok sama pembaca yang disasar ya mbak. Berapa kali liat novel ini di rak tokko buku, belum keambil juga...Untuk kado ponakan yg remaja cocok kali ya ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya triknya dengan ngasih penjelasan aja jadi pembaca remaja ngerti atau googling buat nyari detailnya. Buat remaja cocok, anak-anak saya dan teman-temannya suka kok baca novel ini dan nyambung kok :))

      Delete
  2. Sudah baca Dilan I dan II, yang Milea belum. Habis baca ini langsung mupeng. :(((

    Mana spoilernya nanggung semua lagi. ;((

    ReplyDelete
    Replies
    1. ahahahah... langsung gotong Mileanya ke rumah

      Delete
  3. Makasih udah nge-review, teh. Keren deh cara teh Ina nyeritainnya, banyak informasi baru yang bisa saya nikmati. Semoga aja nanti bisa review buku Mizan yang lainnya dengan keren lagi ya, teh. :D

    Salam hangat,
    Penjaja Kata a.k.a Sandra Nurdiansyah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, makasih ya Sandra, sok sini lempar buku lainnya, menerima dengan ikhlas kok :))

      Delete
  4. Makin banyak yaaa buku-buku karya pengarang Indonesia yang bagus :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaaa semoga novel-novel karya pengarang lokal berjaya lagi :D

      Delete
  5. Seneng ada novel remaja jadul yg bisa tembus lintas generasi seperti ini :).

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya banget, jadi kayak deja vu buat saya mah... bacanya jad senyum-senyum sendiri

      Delete

Back
to top