PIJAT LAKTASI UNTUK PEJUANG ASI



Sepanjang sejarah saya bereproduksi *hehe*, semuanya saya lakukan tanpa bekal ilmu yang memadai. Kalau orang Sunda bilang mah "sabrehna wae", artinya sama dengan gimana nanti aja gitu. Saya hanya mengandalkan apa yang dokter sarankan dan orang-orang tua nasihatkan saja. Tapi, beruntung saya tidak mengalami kesulitan selama masa kehamilan dan proses menyusui pun tak ada kendala yang berarti. Puting pecah dan perih mah biasaaa ya kan, Buibu *wehehe*


Berbeda dengan ibu-ibu muda yang saya temui, ketika saya mengelola klinik bersalin milik keluarga (tahun 2012-2015). Mereka adalah pasien yang rutin memeriksakan kandungannya pada kakak saya. Nah, mumpung masih dalam suasana Pekan Asi Dunia, saya mau cerita tentang perjuangan ibu-ibu muda itu, dalam mempersiapkan ASI eksklusifnya.

Salah satu dari mereka namanya Bu Angke. Bukan hanya dia sendiri yang aktif tapi suaminya juga turut mendukung. Saking niatnya memberikan ASI eksklusif untuk bayinya nanti, Bu Angke betul-betul mempersiapkan diri. Dia dan suaminya ikut kelas laktasi di sebuah rumah sakit, karena klinik kami belum memiliki fasilitas tersebut.

Pernah saya iseng bertanya, kenapa dia ikut kelas laktasi. Informasi mengenai persiapan ASI eksklusif kan bisa didapat dari mana saja, buku atau internet misalnya. Dan Bu Angke bilang, dia perlu instruktur yang membimbingnya memahami teori sambil langsung dipraktikkan. Kalau tidak begitu, saat dia punya bayi nanti, dia hanya tahu teorinya, tanpa yakin apakah yang dilakukannya sudah benar atau tidak. Betul juga ya.




Jadi walau (ternyata) kelas laktasi itu mahal dan tempatnya jauh pun dia jalani demi persiapan menyambut baby tercinta. Secara rutin dia menghadiri kelas laktasi. Dia sering bercerita pada saya, materi-materi yang diterimanya di kelas laktasi itu.  Seru juga ya kelas laktasi. Semua dibahas tuntas, dari mulai perawatan payudara, gizi untuk ibu menyusui, cara mengatasi bengkak dan puting pecah, sampai cara memompa dan menyimpan ASI jika si ibu bekerja.

Hebat. Masa saya menyusui si kembar (tahun 2000), saya masih kerja kantoran, pengetahuan manajemen laktasi saya nol banget. Jadi kalau dada sudah keras, saya perah air susu dan dibuang ke kloset. Berdua sama teman kantor yang sama-sama punya bayi. Kacau banget ya kelakuan kami. Bisa-bisa yang gemuk kloset kantor *bahahaha*

Tapi, sebetulnya bukan kelas laktasi yang mau saya bahas di sini. Ada hal lain yang ingin saya ceritakan tentang Bu Angke ini. Ketika semua persiapan sudah dilakukan, hari melahirkan pun tiba, dan pada saat inisiasi menyusui dini ASI Bu Angke sempat keluar. Tapi besoknya, ASI Bu Angke hanya sedikit sekali yang keluar.

Karena kebijakan klinik kami cukup strict dalam program ASI eksklusif, bidan dilarang memberikan susu formula untuk si bayi. Biasanya kami mencari donor ASI dulu, dan untuk menangani kesulitan Bu Angke, kakak saya menyarankan untuk melakukan pijat laktasi. Dicurigai Bu Angke ini kelelahan dan tegang, saking semangatnya mau memberikan ASI eksklusif.



Proses keluarnya ASI setelah diproduksi dibantu oleh hormon oksitosin. Pada saat hormon oksitosin ini distimulasi, akan terjadi kontraksi di kelenjar payudara, sehingga ASI keluar melalui saluran kecil di payudara dan menetes lewat puting ibu. Proses keluarnya air susu ini disebut dengan refleks let down. (sumber: pondokibu.com)

Sebetulnya, yang sering kali disalahpahami sebagai ASI yang tidak keluar itu, bukan karena tidak ada produksi, tapi proses refleks let down-nya yang terhambat.

Refleks let down ini sangat dipengaruhi oleh kondisi psikologis ibu. Rasa tidak percaya diri, gelisah, kelelahan, cemas berlebihan, takut, stress dapat memicu ketidaksuksesan proses refleks let down ini.

Jaringan payudara terdiri dari banyak kelenjar getah bening dan pembuluh darah. Jika ibu kurang rileks, pembuluh-pembuluh di kelenjar payudara menjadi terhambat, hal inilah yang menyebabkan kurang lancarnya produksi dan aliran ASI.

Untuk mendapatkan ASI yang melimpah, kondisi psikologis ibu sangat penting. Ibu harus dalam kondisi yang tenang dan nyaman. Salah satu usaha untuk mengembalikan kondisi psikologis ibu ke kondisi tersebut yang paling tepat adalah pijat laktasi.

Pada umumnya, yang masih awam sering mengira kalau pijat laktasi itu hanya berpusat di payudara saja. Sebetulnya tidak seperti itu.
Pada prinsipnya pijat laktasi sama saja dengan pijat relaksasi biasa, hanya karena tujuannya untuk meningkatkan produksi dan aliran ASI, pada prosesnya diberikan penekanan pada titik-titik tertentu untuk mengusahakan si ibu rileks, sehingga ASI yang tadinya tidak ada menjadi ada, yang mengalami hambatan menjadi lancar (dr. Wiryani Pambudi, SpA)


 Tutorial Pijat Laktasi 
  source : youtube/indonesiatvshow


Pijat laktasi ini tidak sulit dilakukan. Teknik-tekniknya bisa dipelajari dan nantinya bisa dilakukan di rumah, tapi tentu saja harus dibantu karena pemijatan punggung sulit kalau dilakukan sendiri. Bantuan dari suami yang paling diharapkan, karena efeknya pada kenyamanan ibu paling tinggi dibanding dengan keluarga yang lain. Setuju tidak, Bu? ^:^

Pijat laktasi ini tidak memakan waktu lama untuk dilakukan. Cukup dilakukan selama 20-30 menit saja, asal rutin dilakukan sampai air susu ibu keluar dengan lancar, deras lebih bagus lagi.

Menurut dr. Wiryani Pambudi, SpA, dokter spesialis anak dan konsultan ASI dari RS Medistra, pijat laktasi ini bahkan bisa dilakukan pada seorang ibu yang belum pernah melahirkan. Ibu yang mengadopsi anak dan ingin menyusui sendiri anaknya, bisa melakukan terapi pijat laktasi, walau tentu saja harus dibarengi dengan terapi obat-obat hormonal. Luar biasa.

Sebetulnya pijat laktasi ini sudah mulai disosialisasikan sejak tahun 2013. Bahkan pada tahun tersebut AIMI Jatim sampai mendatangkan trainer pijat laktasi dari Filipina untuk mempelajari teknik-teknik pijat laktasi yang benar. Tetapi sampai sekarang, masih banyak ibu-ibu siap menyusui yang belum "ngeh" dan mempraktikkan pijat laktasi ini.

Ada satu lagi alasan Bu Angke kenapa dia gigih berjuang agar bisa menyusui anaknya. Menurut Bu Angke, anjuran menyusui itu ada dalam ajaran agama (Islam), tertulis dalam Al-Quran. Jadi jangan takut dan cepat menyerah, jika Allah menyuruh, tentu akan ditunjukkan jalan kemudahannya. Tinggal kitanya saja yang sabar dan jangan putus asa dalam berikhtiar.

Duh, Bu Angke... salut deh, umur beda dua puluh tahunan dari saya, tapi pemikiran dalam sekali. Semoga pengalaman Bu Angke lewat tulisan ini bisa menginspirasi calon-calon ibu lainnya.



Love,



CONVERSATION

5 komentar:

  1. Ina Inong, waktu bunda muda dan punya babies, belum ada nih yang kayak gini. Hebat juga Ina ini, sudah pernah membuka Klinik Bersalin (2012-2015). Saluut.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya jaman saya juga belum ada Bun :D, tapi kliniknya bukan punya saya, Bun, cuma diminta mengelola sebentar :)

      Delete
  2. This is so inspiring! I love the post:)

    irenethayer.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi, Irene thanks for reading my post.

      Delete
  3. Waa Bu Angke keren deh. COba kalau semua ibu kayak Bu Angke ya Mba Ina, pasti kecukupan akan ikan di pulau jawa terpenuhi.. *Ehsalah ya.

    Pokoknya salut deh sama ibu2 yang rajin begini. Tulisan Mba Ina juga inspiring, informatif. :-)

    ReplyDelete

Back
to top