IWAN NIT NET: MASIH ADA PAHLAWAN DI BANTEN



Banten mengalami puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (1651 – 1682). Pada masa itu Banten dikenal sebagai pusat kekuatan politik dan kekuatan ekonomi.

Pelabuhan Karangantu adalah gerbang perekonomian Banten. Monopoli perdagangan rempah-rempah terutama lada, membawa pedagang-pedagang dari luar negeri seperti Cina, Persia, dan Portugis datang ke Banten.

Banten juga sudah memiliki armada laut yang cukup disegani, sehingga Banten dikenal sebagai kerajaan maritim. Pada masa itu Banten telah menjalin kerjasama dengan pihak asing yaitu Inggris, Denmark, dan Cina.

dok Dutch School via www.mirajnews.com


Pada abad-abad berikutnya, Banten dikenal sebagai salah satu pusat pergerakan melawan penjajah. Pesantren menjadi basis-basis perjuangan. Kyai-Kyai turun ke medan pertempuran tanpa kenal takut. Salah satunya adalah Kyai Wasid yang dikenal sebagai tokoh peristiwa Geger Cilegon.

Dari banyak catatan sejarah mengenai Banten, bukankah seharusnya disadari bahwa Banten dahulu sudah memiliki peradaban yang maju. Bangsa yang besar dan bermartabat. Bangsa yang disegani.

Tetapi sekarang, kemana semua itu? Ada yang hilang. Ada yang tak berada di tempat yang seharusnya.  Kemana perginya identitas bangsa besar itu?


dok. pribadi

Saya sering memikirkan, mengapa pemerintah daerah ini tak mencontoh Korea atau Jepang, yang menjadikan warisan kejayaan di masa lalu menjadi kawasan wisata yang menarik. Dampaknya bagi masyarakat lokal tentu besar sekali. Mereka sadar memiliki akar budaya yang kuat. Mereka sadar memiliki identitas. Secara ekonomi, kawasan wisata mendatangkan keuntungan untuk masyarakat sekitarnya.

dok. google.com

Tetapi, sekian juta masyarakat Banten rupanya masih kurang menaruh minat pada masalah ini. Hanya segelintir saja yang punya kepedulian. Salah satunya yang konsisten dan sampai sekarang masih memegang prinsip bahwa sejarah jangan sampai terhapus, adalah Muhamad Iwan Subakti Koharjaya yang lebih dikenal dengan nama Iwan Nit Net.

Sudah puluhan tahun Pak Iwan, secara pribadi mendokumentasikan data sejarah dan budaya Banten lewat catatan, foto, dan pengumpulan benda-benda bersejarah.

Kho How How, begitulah nama lahir Pak Iwan, sesungguhnya sudah mulai tertarik pada dokumentasi sejak duduk di sekolah dasar.  Pada masa itu, Pak Iwan sering ikut ayahnya, Sian Fu alias Ko Kian Hoe, pendiri majalah Oetoesan Banten—media cetak pertama di kota Serang—setiap kali meliput peristiwa-peristiwa penting.

Sejak masa muda Sian Fu pun sudah berdekatan dengan sejarah Indonesia khususnya Banten. Rumahnya pernah menjadi tempat penyimpanan OERIDAB (Oeang Republik Indonesia Daerah Banten). Beliau adalah saksi sejarah kedatangan Soekarno untuk pertama kalinya ke Banten. Sian Fu yang memotret Soekarno ketika berpidato di alun-alun Serang. Beliau juga saksi sejarah pembangunan Pabrik Baja Trikora (PT. Krakatau Steel—sekarang).
Namun, ketika terjadi pergolakan politik di Indonesia, dokumen-dokumen bersejarah yang tersimpan di rumah Sian Fu dibakar sang ibu. Latar belakang keluarga asal tionghoa ditambah situasi yang sulit menyebabkan dokumen-dokumen peininggalan bersejarah terpaksa dihilangkan untuk menghindari kecurigaan.
(sumber: Banten Corner's Weblog)


Bisa jadi “keseruan-keseruan” bersejarah inilah yang membekas pada Pak Iwan. Tak salah rasanya jika dikatakan, Pak Iwan adalah manifestasi nasionalisme dari sang ayah *senyum*

Beruntung sekali saya bisa bertemu dan bertukar pikiran langsung dengan Pak Iwan. Waktu 3 jam itu sama sekali nggak cukup. Seminggu sepertinya baru pas.

Awal mula Pak Iwan bersentuhan dengan sejarah dan budaya Banten ini,  ketika duduk di bangku kuliah. Pada waktu itu Pak Iwan kesulitan mencari literatur tentang budaya Banten. Beliau bertanya pada orang-orang yang dianggapnya punya pengetahuan tentang kebudayaan Banten, tapi kenyataannya banyak yang tidak tahu.

Akhirnya Pak Iwan mencari tahu sendiri. Ia mulai keluar masuk kampung mencari dan menggali data tentang Banten. Nyaris semua wilayah Banten ini sudah dijelajahinya. Dari selatan sampai ke pesisir di utara, semua sudah didatangi.

Tentu saja dalam perjalanannya banyak pengetahuan baru yang didapat.  Dan, banyak temuan-temuan menarik yang dipetik dari keterangan-keterangan para tetua itu. Pak Iwan menyebut mereka “Pu’un”. Seperti asal muasal nama kota Serang, bahkan nama “Banten” itu sendiri. Ada ketidaksesuaian dengan sejarah yang tertulis.


“Agak sulit meluruskan masalah mendasar ini. Sebab, beberapa budayawan mempunyai opini sendiri-sendiri yang mereka pegang teguh. Jadi susah mencari titik temunya,” terang Pak Iwan.

“Ke-tionghoa-an-nya” tidak menjadi penghalang interaksinya dengan berbagai latar belakang masyarakat yang ditemuinya. Pak Iwan bersahabat baik dengan banyak tokoh mulai dari Kyai, tokoh pendekar, sampai para “kokolot” (tokoh adat).

Melihat “kelakuan” yang dianggap tak biasa ini beberapa teman menjuluki Pak Iwan sebagai “Cina Edan”. Pak Iwan mengakui bahwa ia bosan dengan ritual buka toko di pagi hari dan tutup toko di malam hari, lebih asyik jalan-jalan. Ada-ada saja...


dok. Liputan 6 SCTV

Selama perjalanannya itu, Pak Iwan tekun mengumpulkan data dan mencatatnya, juga mengambil foto-foto. Mengenai keahliannya dalam bidang fotografi ini, Pak Iwan punya cerita tersendiri. Dulu semasa kecil ia dibelikan kamera oleh ayahnya. Pak Iwan diajari cara mengambil foto. Beberapa kali bahkan ia juga ikut ayahnya jika sedang meliput.  Setelah dewasa, keahliannya ternyata sangat bermanfaat untuk mendukung kegiatannya.

Pak Iwan juga membuat banyak kliping tentang kebudayan masyarakat lokal, dan suku terpencil di Banten yaitu suku Baduy. Beliau juga mengumpulkan benda-benda kuno yang dikategorikan benda cagar budaya.

Gerabah, pedang, keris, meja, lemari, mata uang, fosil batu, alat pertanian, serta keramik kuno yang berasal dari Jepang, Thailand, Vietnam, Cina, dan Eropa memenuhi rumahnya.

Pak Iwan sedikit bercerita, awal penggalian benda-benda kuno sudah dimulai sejak tahun 1960 oleh dua orang tokoh berpengaruh di Banten, bekerjasama dengan seorang Profesor dari Jepang. Tetapi, dimana hasil penggalian benda-benda kuno itu berada, masih menjadi tanda tanya hingga sekarang.

Pak Iwan tidak ingin hal tersebut terulang lagi. Untuk itulah dalam perjalanannya, ia membeli benda-benda kuno dari pemiliknya, dengan tujuan menyelamatkan benda-benda kuno itu agar tidak jatuh ke tangan yang salah. Sebagian ada yang diberikan begitu saja oleh pemiliknya. Diamanahkan pada Pak Iwan untuk dipelihara.

contoh keramik kuno yang berasal dari Cina
dok. pribadi

“Banyak benda cagar budaya Banten yang berpindah-tangan, berpindah-tempat, bahkan hingga ke luar negeri. Hal ini sangat merugikan masyarakat Banten, karena jika dibiarkan kelak akan sangat sulit menemukan titik terang sejarah Banten.” Begitu pendapat Pak Iwan.

Untuk kegiatannya itu, Pak Iwan merogoh kocek sendiri. Pada waktu itu, Pak Iwan mengelola galeri seni bersama teman-teman seniman jalanan. Ia menyisihkan keuntungan dari hasil penjualan untuk membiayai kegiatannya.

keramik yang ditemukan di Teluk Banten
dok. pribadi

Ia juga melukis kebudayaan banten yang diadaptasi dari foto-foto yang dibuatnya.  Menurut Pak Iwan, melukis itu juga merupakan bagian dari pelestarian kebudayaan.


Vas keramik Cina
dok. pribadi

Kabarnya pemerintah provinsi akan mendirikan museum nasional di Banten. Pak Iwan menanggapinya dengan baik, asal tepat sasaran katanya. Gagasan mengenai pendirian museum ini sudah menjadi wacana bersama pemerhati budaya lainnya sejak lama. Namun, sebagaimana niat yang ditumpangi berbagai kepentingan, jadinya setengah-tengah dan akhirnya bubar jalan.

Padahal, menurut Pak Iwan pihak museum nasional di Jakarta sudah memberikan lampu hijau jika Banten punya museum sendiri, tentu saja harus dengan segala persyaratan peralatan keamanan yang memadai. Kalau bisa terjadi, mahkota kerajaan milik Banten akan dikembalikan untuk disimpan di museum sendiri. Wah...

Dan Pak Iwan sendiri sudah berniat akan menghibahkan semua koleksi catatan, foto, dan benda-benda kuno yang disimpannya untuk mengisi Museum Banten. Luar biasa...


dok. pribadi

Kegiatan Pak Iwan “menjaga” kebudayaan di Banten ini, sempat juga diwarnai dengan aksi turun ke jalan. Pada tahun 2005, gedung Markas Kodim 0602 Serang yang amat bersejarah di Serang akan diruntuhkan. Pak Iwan termasuk yang paling vokal menentang kebijakan diruntuhkannya bangunan yang sudah berusia lebih dari 100 tahun itu. Gedung di mana bendera merah putih pertama kali dikibarkan. Tapi kebijakan penguasa berkata lain. Sekarang di tempat itu berdiri pusat perbelanjaan. Duh...


dok. kompasiana.com (gedung Makodim)
dok. poskota.com (gedung Mal Serang)

Sebetulnya tidak hanya gedung itu saja, ada gedung berarsitektur Belanda yang dulunya adalah bengkel pertama di Serang, sekarang gedung tersebut sudah berganti muka menjadi bangunan kantor Bank BCA yang moderen. Pak Iwan menyayangkan jika pemda tidak segera mengambil kebijakan, bangunan-bangunan yang merupakan cagar budaya tidak bergerak itu lama-lama akan habis.

Tak sia-sia apa yang dilakukan Pak Iwan. Terbukti sejak tahun 2000, “bank data” Pak Iwan mulai menuai manfaat. Tahun tersebut adalah tahun pembentukan Banten menjadi provinsi mandiri, lepas dari Jawa Barat. Warnet Pak Iwan dijadikan “markas” oleh wartawan-wartawan yang meliput peristiwa itu baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Ketika era tv-kabel belum se-semarak sekarang, di tengah kesibukan para wartawan itu, Pak Iwan memberikan hiburan tentang seluk beluk Banten sepanjang yang diketahuinya. Dari situlah ketahuan Pak Iwan ternyata narasumber yang cukup akurat.

Kemudian banyak mahasiswa yang datang padanya, mencari data untuk keperluan penyusunan skripsi. Pak Iwan juga sering didapuk menjadi pemandu wisatawan peminat budaya Banten, bahkan sampai dijadikan referensi oleh peneliti-peneliti kebudayaan dari luar negeri, seperti Belanda dan Jepang. 

Jika masih ada yang beranggapan apa yang dilakukan Pak Iwan itu nggak penting atau hanya sekadar menjalankan hobi saja. Wah, bacok sireu! *hehe... ini bercanda gaya jawara*

Berbincang dengan Pak Iwan, menjadikan pengetahuan saya tentang sejarah bertambah berton-ton kali lipat. Pengetahuannya tentang sejarah dan budaya Banten begitu hebatnya. Sampai pada batas-batas wilayah pun Pak Iwan menguasai dengan bukti-bukti yang akurat pula.

Siapa menyangka jika ternyata Kepulauan Seribu itu sesungguhnya dulu termasuk ke dalam wilayah Banten. Ada fakta sejarahnya, hubungannya dengan izin penggunaan Pulau Onrust. Bahwa ketika Belanda meminta izin kepada Pangeran Jayakarta, justru Pangeran Jayakarta meminta pihak Belanda meminta izin pada kesultanan Banten. Wow!

Selain concerned pada budayanya, Pak Iwan juga menaruh perhatian pada masyarakatnya. Ia bercita-cita bisa membentuk karakter masyarakat lokal (tentu saja ke arah yang lebih baik). Namun dalam perjalanannya kali ini, Pak Iwan banyak mengalami kesulitan, terutama jika berbenturan dengan urusan perut.


dok. indopos.co.id

Pak Iwan banting stir dan mulai dari nol dengan menekuni bidang pertanian. Awalnya, Pak Iwan membina komunitas tani dengan menawarkan pupuk gratis pada petani binaannya, sebagai uji coba meningkatkan produksi padi.

Tujuan dari pembinaan ini, jika produksi padi meningkat lebih satu ton, petani memberikan gabah kering 50 Kg yang akan dikumpulkan untuk membantu warga yang kekurangan pangan.

Ketika ditanya adakah hubungannya pembinaan kelompok tani ini dengan pembentukan karakter yang dicita-citakannya?  Pria berbadan subur ini menjawab sambil terkekeh, “Bagaimana mau bicara character building plan jika perut masih kosong.” Benar juga ya...

Ckckck... pemikiran Pak Iwan memang selalu out of the box. Seharusnya di Banten ini, bukan hanya padi yang dibudidayakan, tetapi orang-orang semacam Pak Pak Iwan ini lah yang harusnya lebih banyak ada.

Latar belakang Pak Iwan adalah Teknik Sipil, ini yang menarik, sudah sejak kecil Pak Iwan hobi menanam, ketika dewasa hobinya ini ia perdalam. Usahanya harus diacungi jempol, karena lagi-lagi Pak Iwan tak segan “berjalan-jalan” ke berbagai daerah di Bandung, Jogja dan sekitarnya sampai ke Solo untuk belajar dari pakar bidang pertanian ini. 

Sekarang pengetahuannya dalam bertani dibaginya ke berbagai kelompok tani di wilayah Banten. Pak Iwan menciptakan sendiri sistem yang dirasanya baik untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat tani binaannya. Tentu saja sistem yang diciptakannya berbeda satu sama lain karena kebutuhannya pun berbeda satu tempat dengan tempat yang lainnya.

Tentangan dan ancaman dari berbagai pihak yang merasa dirugikan diterimanya dengan tegar. Ancaman golok ditempel di leher sudah biasa dihadapinya. Kepiawaiannya mendekati tokoh-tokoh masyarakat di masa lalu, diterapkan lagi di masa sekarang.

Pak Iwan sukses mengembangkan budidaya golden melon, dan berhasil membawa nama Banten sebagai penghasil golden melon terbaik se-Indonesia. Usahanya mulai dilirik pemda provinsi dan akhirnya menjadikannya partner kerja. Setiap kali ada pameran hasil pertanian atau pangan di luar daerah, Pak Iwan ditunjuk sebagai wakil dari Banten.


dok. budiwahyuiskandar.blogspot.co.id

Tidak hanya sampai di situ, Pak Iwan juga mendapat penghargaan dalam bidang ketahanan pangan dari Presiden Republik Indonesia (era pemerintahan Soesilo Bambang Yudoyono ).

Lalu bagaimana dengan pelestarian budaya yang selama ini Pak Iwan geluti? Justru dengan  kegiatan pertaniannya ini, pria berputri satu ini berhasil memberi identitas untuk Banten. Kalau ditanya Banten ciri khasnya apa? Bukan golok lagi tapi golden melon. Terangkatlah nama masyarakat Banten. Bicara budaya adalah bicara identitas satu bangsa atau masyarakat, bukan? Sederhana saja.

Di sisi lain, kegiatan pertaniannya masih sering berkaitan dengan kebudayaan masyarakat lokal. Beberapa kali pengalamannya bersentuhan dengan masyarakat justru menumbuhkan pertanyaan sekaligus pengetahuan baru soal kebudayaan.

Satu contoh kasus, di satu kesempatan, Pak Iwan diundang menghadiri pernikahan warga di daerah Pontang. Salah satu tradisi yang dilakukan adalah berbalas pantun. Yang mengherankan, berbalas pantun itu menggunakan bahasa sunda, sedangkan Pontang berada di wilayah yang berbahasa Jawa-Serang.

Ini menarik untuk dijadikan penelitian. Ada campuran budaya yang terjadi antara wilayah utara yang berbahasa Jawa-Serang dengan wilayah selatan yang menggunakan bahasa sunda. Artinya, Pak Iwan menggeluti bidang apa saja, selalu ada hubungannya dengan kebudayaan masyarakat lokal.


Iwan Nit Net (sekarang)
dok. pribadi

Pak Iwan itu ibarat smart tv, mau channel apa aja ada. Mau bicara sejarah, budaya, atau pertanian? semua cabang ilmu itu dikuasainya dengan baik. Nggak ada yang setengah-setengah. Itulah bukti jika mengerjakan sesuatu dengan hati.

Pak Iwan bukan asli orang Banten (ya iyalah kan keturunan Tionghoa), lahir juga di Bandung (daerah Pagarsih), tapi kecintaannya pada Indonesia terutama Banten tak perlu dipertanyakan lagi.

“Di mana bumi dipijak, di situlah langit dijunjung.”

Begitulah prinsip yang teguh dipegangnya. Kiprah Pak Iwan sangat patut kita teladani.  Menjaga sejarah dan budaya agar tak terhapus zaman. Agar kelak masih bisa dinikmati oleh generasi-generasi berikutnya.


Jika ada acara televisi nasional bahkan internasional yang mengusung tema "Made for Minds", saya akan mengusulkan nama Iwan Nit Net untuk diliput atau dijadikan bahan pembahasan. Kenapa? seperti sudah saya tulis di atas, berbincang dengan Pak Iwan itu pengetahuan mengenai sejarah dan budaya Banten menjadi bertambah. Dan saya ingin membagi apa yang saya tahu dengan lebih banyak orang lagi di luar sana, di luar Banten.

Sejarah dan kebudayaan Banten itu masalah global karena ada kaitannya dengan negara-negara asing seperti Belanda, Inggris, Cina, Denmark, dan Portugis. Pernah terjalin kerjasama antara Banten dan negara-negara tersebut.

Jika ada yang menganggap apa yang dilakukan Pak Iwan tak ada artinya, saya justru menganggap Pak Iwan pahlawan. My Local Heroes. Pelestari budaya dan penjaga peradaban purba yang masih menjadi masalah tak terperhatikan di Banten. Top!

Bagaimana dengan Anda? Siapa Local Heroes di daerah Anda? Tampilkan!









CONVERSATION

0 komentar:

Post a Comment

Back
to top