DUA MASA DI MATA FE: SEBUAH REVIEW YANG TELAT :)

goodreads.com


Judul Buku : Dua Masa di Mata Fe
Nama Penulis : Dyah Prameswarie
Penerbit : Moka Media
Cetakan : I, 2014
Jumlah Halaman : iv + 220 halaman
ISBN : 979-795-872-8


Fe, some stars are never meant to be picked, just to be admired from distance. You’re those kind of stars (halaman 211)


Oke, novel ini sudah terbit setahunan yang lalu. Tapi menulis ulasan tidak ada kata basi dalam kamus saya. Sebabnya,walau buku-buku lama sudah tidak ditemukan di toko buku offline, bisa jadi buku-buku baru masih dijual di toko buku online. Nah, yang belum sempat beli, dengan membaca ulasan saya siapa tahu jadi tertarik lagi, ya nggak ya... lagipula kan belum baca ulasan ala-ala Ina Inong, ya nggak? :D
Novel ini mengingatkan saya pada cerpen yang pernah saya tulis beberapa tahun lalu. Benang merah antara novel ini dan cerpen saya adalah latar belakang yang sama. Sama-sama mengambil setting kerusuhan di tahun 1998.

Salut untuk Dydie yang berani menampilkan karya tulis dengan latar belakang issue yang tergolong sensitif di muka bumi Indonesia ini, dan menyisakan luka yang dalam bagi (mungkin) seluruh warga keturunan yang mengalami langsung kejadian itu, maupun yang tidak (efek solidaritas).

Tetapi, novel Dua Masa di Mata Fe (DMDMF), bukan novel politik atau sejarah. Dydie tidak perlu terlalu pelik menggali kejadian mengerikan di tahun 1998. Namun, apa yang Dydie ramu, sudah cukup menjadi landasan cerita novel ini.

Inti cerita DMDMF adalah kisah cinta yang tak sampai antara Fe, gadis keturunan tionghoa dan Raish, pemuda pribumi keturunan Sunda. Mereka dipertemukan oleh “kebetulan”.  Raish yang kebetulan mencuri mobil keluarga Fe, setelah dipaksa menjarah rumah keluarga Fe oleh gembong rampok bernama Jenggo, tanpa sengaja menemukan Fe yang kebetulan disembunyikan oleh papanya di bagasi mobil tersebut.

Dari pertemuan itu cerita bergulir menjadi “petualangan” Raish dan Fe dalam menemukan keluarga Fe di Surabaya. Petualangan mereka dibumbui dengan kejadian yang nyaris membuat Fe celaka, ketika terpaksa transit di daerah Sengon. Bahkan ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula, Raish kena peras begundal-begundal yang awalnya baik hati menolong mereka.

Ketika akhirnya Fe menemukan keluarganya—yang kaya raya—nyali Raish jadi ciut. Ia merasa tak pantas mendapatkan Fe. Sialnya lagi, Angelique, sepupu Fe mengetahui latar belakang Raish. Sikap keluarga Fe (Opa, Oma, dan sepupu Fe) menguatkan tekat Raish untuk menjauh dari Fe. Raish pun pulang kembali ke Bandung dengan satu keputusan.

Novel ini mengambil alur mundur. Kisah Fe dan Raish adalah masa lalu yang diceritakan Fe pada putrinya, Christie. Fe takut Christie salah paham, ia sudah bersikap dingin ketika Christie mengajak Fathir, teman sekolahnya yang berdarah pribumi. Melihat Fathir, Fe seperti melihat seseorang di masa lalunya. Ia takut apa yang pernah dialaminya terjadi juga pada Christie.

Saya jadi curiga kalau tadinya Dydie akan menghubungkan peristiwa demi peristiwa yang menggantung itu dengan menghadirkan Raish kembali. Tapi sampai novel ini berakhir, kecurigaan saya tidak terbukti. Baguslah, jadi nggak mainstream kayak sinetron. Hehe...

Tapi sepertinya Fe cepat sadar. Tidak adil rasanya jika meramalkan peristiwa yang dialaminya bakal terjadi juga pada putrinya. Raish bukan Fathir. Fathir bukan Raish.

Kepiawaian Dydie bertutur sudah tak diragukan lagi--status facebook dan konten blognya aja enak disimak. Quote-quote dalam novel ini ringan tapi ada makna yang dalam.

Hanya, kalau boleh sedikit memberikan masukan, lebih kuat lagi dalam membangun plot dan karakternya. Fe dan Raish, dua tokoh utamanya, bagi saya belum meninggalkan kesan kuat. Fe, flat dan sedikit bikin gemas yang ngeselin. Raish, kok kayaknya standar aja ya. Selain itu juga ketelitian. Ada beberapa peristiwa yang logikanya “tak terjaga”. Tong rurusuhan, kata orang sunda mah yah. Hehe...

Tapi secara keseluruhan novel ini cool. Manis dan getirnya berasa, sih. Ngilu di awal-awal, beralih ke petualangan yang menegangkan, kemudian dibilas percintaan malu-malu yang manis. Dinamikanya juga terasa, sehingga novel ini memang sebuah novel, bukan cerpen yang kepanjangan (isitilah saya untuk novel yang datar dan monoton, nggak berasa dinamikanya).

Anyway, Dydie termasuk ke dalam list penulis yang buku-bukunya pengen saya baca lagi—eh cie... siap elu sih, Buw?-- mana novel-novelnya lagiiiii... *nagih mode on*


Profil Penulis

dari blog-nya Dydie

Dyah Prameswari,atau Dydie,  lahir di Surabaya. Kini tinggal bersama tiga pria kesayangan di Cimahi. Menulis sejak tahun 2005, beberapa karyanya telah dibukukan. Dua Masa di Mata Fe adalah novel keduanya yang diterbitkan. Novel-novel berikutnya segera menyusul.




CONVERSATION

2 komentar:

  1. Replies
    1. Iyaap Mbak Naqqi... seperti yg saya bilang manis getirnya dapet deh...

      Delete

Back
to top