SUATU HARI DI KRL

Selama dua tahun menjadi pengguna setia KRL, berbagai pemandangan lucu kami (saya dan De Key) lihat. Mulai dari (anehnya) jadwal berangkat yang selalu berbarengan dengan seorang waria sepuh yang gemar memakai leging warna mencolok dan kacamata gelap besar, anak-anak punk yang bikin rata-rata penumpang ibu-ibu memeluk tas mereka erat-erat (kenapa ya?) hehehe... sebuah keluarga yang terdiri dari ibu-bapak-anak perempuan montok yang gencar mengunyah sepanjang perjalanan, walau tanda dilarang makan jelas terpampang. Pernah juga ketemu dua orang waria muda yang berpakaian ala princess zaman Victoria, asli! dengan korset style, tangan lonceng, dan rok lebar mengembang, bikin hati saya bertanya-tanya, mereka ini mau pergi ke pesta kostum atau pulang dari pesta kostum kesiangan... entahlah.


Pemandangan yang memilukan juga ada, tapi ah... nggak akan diceritain, soalnya bikin hati tergigit lagi deh. Apalagi pas De Key diare dan kemudian... De Key pulang hanya menggunakan pampers ditutup jaket... ah sudahlah... hahaha

Nah, dua minggu lalu, kami pulang ke Serang. Dari stasiun Pondok Ranji, kami naik kereta tujuan Parung, turun di Serpong. Kereta nggak terlalu penuh. Saya dan De Key masih mendapat tempat duduk tanpa belas kasihan orang. Saya emang suka sengaja naik ke gerbong campuran daripada gerbong khusus wanita, di sana susah dapat tempat duduk kalau penuh. Meski saya bawa anak kecil, penumpang itu ndableg aja membiarkan saya dan De Key berdiri, padahal banyak sih penumpag yang muda-muda. Lain dengan gerbong campuran, masih ada laki-laki sejati yang mau mengorbankan tempat duduknya untuk ibu-ibu gendut dengan bocah laki-laki lincah.

Setelah duduk nyaman, barulah mata saya beredar untuk melihat "yang aneh-aneh". Kali ini saya kena batunya, karena pandangan saya tertumbuk pada seorang laki-laki aneh (tanpa tanda kutip). Lelaki itu usianya lebih dari setengah abad. Penampilannya tidak terlalu lusuh, nggak terlalu necis juga. Yang aneh adalah koran yang dipegangnya. Selembar koran berinisial SM, tapi isinya berupa potongan-potongan berita yang ditempel di atas koran tersebut. Sesekali saya lihat dia seperti berbicara sendiri.

Tadinya lelaki itu berdiri agak jauh dari tempat saya duduk. Rupanya dia sadar ada yang memperhatikan. Tanpa bisa dihindari mata kami beradu. Waduh, serem... nasib sial bukannya beranjak pergi eh, malah menghampiri. Di stasiun Jurang Mangu beberapa penumpang turun, termasuk penumpang yang duduk sebelah De Key. Otomatis tempat di sebelah De Key kosong. Bapak tua aneh itu "ngeh"kalau ada tempat kosong, dia mulai berjalan mendekat... oh tidak...

Karena saya trauma pernah diganggu orang gila ketika kecil, dan saya langsung punya feeling kalau bapak tua itu otaknya kurang beres, maka tanpa pikir panjang saya meraih tangan lelaki yang duduknya berjarak satu tempat dengan De Key, lagi tidur pula.

Saya tarik tangannya, dan lelaki itu sukses gelagapan kaget. Begitu dia membuka mata, saya minta dia supaya bergeser ke arah De Key. Bisa jadi karena melihat wajah memelas saya, antara kasihan dan sebal tidurnya terganggu, dia mau menggeser pantatnya. Akhirnya bapak tua itu mendapat tempat di sebelah lelaki yang kugeser paksa.

Benar saja, tanpa diminta, bapak tua langsung meracau membahas isi korannya kepada orang yang duduk di sebelaj kanannya. Orang tersebut hanya bisa senyum-senyum saja, mendengar ocehan bapak tua. Wah, nggak kebayang kalau bapak tua tadi duduk di dekat kami, saya pasti korbannya yang harus mendengarkan ocehan ngaconya.

Semua mata penumpang memandang kasihan pada bapak tua dan tentu saja orang yang diajaknya diskusi, yang terpaksa senyum-senyum kecut dan "sok manggut-manggut". Untunglah hal itu tak berlangsung lama, di stasiun berikutnya, bapak tua itu turun dengan wajah setengah melamun.

Tak berapa lama, kami sampai di stasiun Serpong. Saya dan De Key turun kereta. Namun, sepanjang peron saya tak dapat mengalihkan pikiran dari kejadian di kereta tadi. Kenapa saya begitu panik dan takut pada bapak tua itu, sedangkan saya dengan mudah menarik tangan orang yang tidak saya kenal untuk "menjaga" saya.

Bagaimana jika orang yang saya tarik itu ternyata pencopet, sedangkan bapak tua itu hanya ingin didengar ocehannya. Mungkin bapak itu hanya ingin curhat. Itu bukan suatu kejahatan. Seketika saya sadar, bahwa saya sudah men-judge orang. Bagaimana saya panik dan tidak bisa berpikir rasional. Ini sangat berbahaya...

Padahal, daripada ketakutan, bapak tua itu sebetulnya sosok yang menarik untuk dijdsikan nara sumber. Banyak yang bisa digali dengan pertanyaan. Kenapa dia membawa koran antiknya itu, darimana dia mendapatkan koran itu, apa isi ocehannya, dari mana asalnya, dulu pekerjaannya apa... ah insting saya masih tumpul.

Lain waktu saya harus punya keberanian untuk mendapatkan nara sumber yang unik. Mereka adalah inspirasi tiada batas... hahaha.





CONVERSATION

1 komentar:

  1. Rasanya ada yang 'menyengat' setelah saya membaca kisah ini, Mbak. Saya jadi tersadar betapa kompleksnya kehidupan di ibukota. Menarik, Mbak.

    ReplyDelete

Back
to top