Lelaki yang Dipanggil Bunda

Sore mulai merayapi langit.  Hujan belum utuh mereda. Butir-butir bening itu masih rapi mengarsir semesta dalam barisan yang jarang.  Matanya terpejam namun tak lelap.  Benaknya mengembara sementara sebelah tangannya mengelus perut.  
Ia ingat,  dirinya selalu merasa bahagia setiap kali melihat perempuan yang sedang hamil.  Ia ingin, tapi  tak mungkin.  Organ reproduksinya punya kodrat sendiri. Ia juga ingin merasakan ada kepala mungil yang bergelayut di dadanya.  Menyedot seluruh cairan kehidupan yang ada di payudaranya.  Tapi itu juga tak mungkin.  Dadanya memang menggelembung namun tak ditakdirkan bersusu.
Ia semakin terhanyut dalam kesyahduan suasana senyap diiringi lantunan gemericik hujan.  Hmmm… selalu ada yang istimewa setiap kali hujan turun.  Ia seperti terhubung pada sebuah peristiwa.  Dan lamunan pun melemparnya jatuh ke masa tiga tahun yang lalu.

***


Setiap pagi dan sore ia melewati rumah besar itu.  Untuk ukuran kota kecil, rumah itu cukup mewah.  Tetapi rumah itu kelihatan suram dengan pintu pagar yang selalu terkunci rapat.  Sepertinya mereka punya kehidupan sendiri di dalam sana, sehingga tak peduli lagi dengan dunia luar. 
Menurut orang-orang, yang tinggal di sana hanyalah sepasang orang tua yang kesepian dan seorang pembantu rumah tangga.  Pemilik rumah itu, masih keturunan ningrat.  Priyayi.  Kabarnya mereka punya anak perempuan semata wayang, namun entah di mana.
Namun, sudah dua hari ini ia merasa ada yang aneh dari rumah itu.  Ya, setiap kali ia melewati rumah itu, selalu didengarnya tangisan bayi.  Tangisan yang panjang dan memilukan hati.  Bayi siapa kah?
Sedari subuh gerimis turun tak berhenti.  Membuat siapa saja yang pergi bekerja pagi itu berjalan cepat-cepat ingin segera tiba di tempat tujuan.  Begitu pula dengan seorang lelaki yang bergegas-gegas dibawah naungan payung. 
Tiba-tiba ia mendengar lengking tangisan itu lagi. Ia sudah terlambat, tak ada perlunya ia acuhkan tangisan itu.  Tapi hati kecilnya berkata lain.  Dirinya seperti terbetot oleh tangisan bayi itu.  Ketika ia menolehkan mukanya ke rumah besar, dilihatnya seorang bayi mungil dalam kereta bayi di teras rumah.  Sendirian.
Ia benamkan mukanya di antara jeruji pagar, berusaha melihat si bayi lebih dekat.  Kemudian begitu saja tangannya terulur ingin menggapai namun tak berhasil.
“Cup sayang… ssstt… jangan menangis,”  bisik hatinya pilu. 
Digebraknya pagar besi itu.  Berharap ada orang yang keluar dari dalam rumah untuk melihat dan kemudian mengambil bayi itu.  Semenit… dua menit… tak ada yang terjadi.  Pintu rumah itu tetap saja tertutup rapat.  
Ia pun melangkah pergi dengan gontai.  Hatinya ngilu mendengar tangisan bayi yang semakin lirih, nyaris kehabisan suara.
Rasa marah tiba-tiba menyelimuti hatinya.  Kemana, sih, orang-orang itu?  Ibunya?  Pengasuhnya?  Tega benar membiarkan bayi ini sendirian.  Sadis.

***

Pasar sedang ramai.  Maklumlah sebentar lagi bulan puasa.  Sebagian orang sudah mulai belanja keperluan lebaran untuk menghindari harga yang melambung.  Tak apalah, kalau begitu kan bagus.  Kios yang dijaganya pun ikut ramai dikunjungi pembeli.  Majikannya tentu senang.
Seorang perempuan dengan dandanan menor memasuki kiosnya.  Ia pernah melihat perempuan menor itu sedang menyapu halaman depan rumah besar. 
“Mari, Mbak… pilih-pilih… banyak yang baru lho,” sambutnya ramah kepada calon pembeli istimewa itu.  Ada maksud dalam hatinya.
“Iya, Mas, aku lagi cari-cari yang modis gitu lho.”
“Yang ini gimana, Mbak, cocok?”
Menggeleng.  Ia memilih atasan bercorak meriah.  Mematut-matutnya didepan kaca.
“Mbak…eee… situ yang kerja di rumah priyayi itu ya?”
“Iya… emangnya kenapa?”
“Itu lho… majikan situ kan sudah sepuh, bayi itu… anak siapa, sih?”
 “Oooh itu… sssstt… tapi ini rahasia ya.  Bayi itu cucunya.  Tiga bulan yang lalu anak perempuan mereka datang dengan perut membuncit.  Hamil tua.”
“Oooo… cucunya ya.  Tapi aku kok belum pernah melihat bayi itu sama ibunya?”
“Yaaa nggak bakalan.  Wong sehabis melahirkan terus ditinggal gitu kok.”
“Lha… siapa yang ngurus sekarang?
“Ya… itu… si baby sitter gila itu.  Eyang-eyangnya mana mau ngurusi.”
“Kenapa begitu, Mbak?”
“Tuan Besar marah sekali.  Kecewa.  Sakit hati.  Anak perempuan kok bikin malu keluarga.”
“Suami perempuan itu?”
“Ya ndak tahu ya… nggak ada.”
Ia menghela napas.  Pantas saja bayi itu seperti ditelantarkan.  Tak ada yang peduli akan kehadirannya.  Kasihan.
“Mas… Mas… gimana, sih.  Kok malah ngelamun.”
“Oh... oh… maaf, Mbak, ini jadi diambil?”
Tergagap ia menyambut atasan yang disodorkan perempuan itu.  Dalam lamunannya ia merencanakan sesuatu.  Semoga saja Tuhan berpihak padanya.
Tiga tahun sudah sejak kepergiannya dari kota kecil itu dengan seorang bayi mungil dalam gendongan.  Kini, ia tak lagi dihantui perasaan takut karena menculik Ayu.  Bayi itu sekarang punya nama. 
Tak seperti awal kebersamaannya dengan Ayu,  matanya selalu nanar mencari berita penculikan atau kehilangan anak. Di koran-koran daerah sampai koran-koran nasional.  Berita-berita seperti itu memang selalu ada, namun tak satu beritapun yang menyebutkan ada keluarga yang kehilangan bayi mungil berusia tiga bulan, cucu dari priyayi terpandang di sebuah kota kecil.  Lega sekaligus tak habis pikir.  Bayi itu benar-benar tak diinginkan.  Mereka benar-benar tak peduli.  Orang-orang yang tak punya hati.   
Dirinya dan Ayu bernasib sama.  Mereka adalah orang-orang yang terbuang dari keluarga.  Ia sebatangkara sejak malam yang naas dulu.  Malam ketika Ayah memergokinya.. 
Semuanya bermula ketika ia melihat seorang perempuan turun dari satu mobil mewah di pusat perbelanjaan.  Cantik luar biasa.  Benar-benar seorang dewi. 
Waktu seolah terhenti.  Semua mata pengunjung laki-laki di sana hampir meloncat keluar, mulut ternganga dengan liur yang mengintip dari balik bibir siap meluncur.  Birahi pun saling berlomba.  Ia pun sama, melotot dan menganga.  Tapi tak ada birahi dalam pikiran seorang si bocah lelaki.
Bayangan perempuan bidadari itu terus bermain di pelupuk mata dan benaknya.  Terbayang geriknya yang anggun.  Betis ranum mulus nan halus.  Lambaian gaunnya yang ringan.  Indah.
Ia menginginkannya.  Bukan untuk mencintainya.  Ia ingin menjelma menjadi diri sang bidadari.
Dalam kebingungan kanak-kanaknya, ia tak tahu pasti apa yang sedang terjadi dalam dirinya.  Ia hanya menuruti kata hatinya saja ketika ia menimang-nimang boneka dan bermain-main dengan selendang milik ibunya.  Ia pun tak mengerti mengapa ayahnya begitu gusar dan membentaknya, sedangkan ibunya menangis. 
Bertahun-tahun kemudian ia semakin tak bisa menolak perasaan yang kian mendesak.  Bertahun-tahun pula ia melakukan penyangkalan-penyangkalan dan berusaha sembunyi dari kenyataan.  Dan malam itu ia kelelahan. 
Ia mulai membuka kotak yang selama ini disembunyikannya. Didalamnya ada gaun, perhiasan, high heels dan alat-alat rias.
Dikenakannya satu persatu.  Di depan cermin ia menemukan manusia yang lain.
Cantik.  Ayu.  Kenes.  Dalam takjub hatinya merasa damai. 
Kemudian Ayah masuk ke kamarnya tanpa permisi.  Ayah terperanjat.  Selanjutnya yang didengarnya hanyalah caci maki, sumpah serapah dan kata-kata pengusiran.
Maka terdamparlah ia di kota kecil itu sebatangkara.  Dalam kebingungan, beruntung ia bertemu Pak Haji pemilik kios pakaian, dia menawarinya pekerjaan sebagai penjaga kiosnya.
Trauma akan kemarahan ayahnya menjadikan dirinya labil dan bimbang.  Ia menjadi sosok dengan dua kepribadian.  Pagi laki-laki kemayu, malam perempuan yang ayu. 
Ia tak pernah punya keberanian untuk memperlihatkan dirinya seperti yang diinginkannya.  Utuh.  Tak akan pernah ada pengakuan untuk makhluk setengah laki setengah perempuan.  Mengerikan.
Tapi sekarang ia memiliki seorang Ayu.  Mereka ditakdirkan bersama untuk saling memiliki sejak Tuhan mengizinkannya mengambil bayi mungil itu di halaman rumah mewah, dan membawanya pergi jauh dari orang-orang yang tak menginginkannya.
Ayu membuatnya berani untuk melompat dari rasa takut.  Meninggalkan sisi kelelakiannya, untuk seutuhnya menjelma menjadi seorang perempuan. 
 “Lambutku udah banyak.”
Sebuah suara cadel merobek lamunannya.  Tangan-tangan mungil sibuk memainkan rambutnya yang ikal dan lebat. 
Ia dan Ayu membahasakan diri dengan saling memanggil nama atau aku dan kamu saja.  Ia tak ingin memaksakan sesuatu yang akan membuat Ayu bingung suatu hari nanti,  jika dia tahu siapa dirinya sesungguhnya.
“Panjang dong, Sayang bukan banyak.  Iya nanti aku potong rambutmu…”
“Nggak, aku mau lambut banyak sepelti lambutmu.”
Ia tersenyum.  Dipeluknya buah hatinya itu rapat ke dadanya yang membusung tapi tak bersusu.  
Hujan sudah reda sedari tadi, menyisakan kesejukan untuk malam yang cerah.
“Yuk, kita jalan-jalan.”
Ia ingin menghabiskan malam bersama buah hatinya. 
Ada rombongan sirkus yang singgah di kota itu.  Mereka juga membuka pasar malam.  Berbagai macam permainan digelar.  Komidi putar juga ada.  Kios-kios makanan berjejer.
Ramai sekali orang berlalu-lalang.  Remaja-remaja malu-malu berpasang-pasangan.  Senyum mengembang dimana-mana. 
Ayu tampak senang sekali.  Melompat-lompat dalam gandengannya.
Rambut ikal yang lebat diikat ekor kuda.  Pita merah kecil menghias dengan lucu.  Semerah mulutnya yang tak henti-hentinya berceloteh.
Berdua mereka tertawa-tawa sepanjang malam.  Menikmati berbagai permainan. Mereka saling menyayangi dan bahagia.
Tiba-tiba kembang api berpendaran di udara.  Langit malam menjadi hingar bingar.  Cipratan warna dari kembang api itu begitu indahnya.
Orang-orang seakan digerakkan untuk berkumpul dan menikmati tontonan yang sangat menarik itu.  Ia pun tenggelam dalam kekaguman melihat warna-warni bunga-bunga api.  Didengarnya sayup-sayup rengekan seorang anak kecil pada ibunya. Namun suara rengek anak itu segera tertutup oleh desiran kembang api.
Adegan itu luput dari perhatiannya. Tapi tidak dari sepasang mata mungil Ayu.  Pandangannya lekat merekam adegan tersebut.
Sekejap tangannya terasa digoyang dengan lembut, dan panggilan itu singgah di telinganya.
“Bunda…”
Ia menoleh perlahan, terkesiap. Waktu  serasa terhenti. Satu kata terindah dalam hidupnya.  Satu pengakuan yang tulus. 
Selama menjalani usia dewasa, tak pernah sekalipun ia menangis.  Kali ini ia tak berhasil.  Keharuan mengantar jatuhnya bulir-bulir air mata di pipinya.
“Bunda… Ayu mau itu…”
Bibir mungil itu kembali memanggilnya, sementara telunjuknya yang gemuk menunjuk ke kios penjual permen.  Di sana hanya tinggal satu permen tersisa.  Permen cantik berbentuk hati berwarna pink dengan tangkai panjang berwarna perak.
“Buu… Bundaaa… akan belikan permen itu.  Iya sayang, Bunda akan belikan…”
Terbata.
Dipeluknya sosok malaikat kecil itu erat didadanya.
“Ayu… anakku…”
Pyaaarrr…

Pijar-pijar kembang api berbentuk hati berwarna merah menutup malam.  



(Antologi "Hujan dan Fiksi yang Kuciptakan", Leutika Prio, 2011)

CONVERSATION

0 komentar:

Post a Comment

Back
to top